Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Pesta Rakyat Lembur Tengah Sukabumi, Kearifan Lokal di Tengah Derasnya Perkembangan Zaman

Ahmad Rayadie
BUPATI Sukabumi, Marwan Hamami didampingi Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Susatyo Purnomo Condro, Minggu, 18 Agustus 2019, tengah menyantap nasi liwet bersama warga kaki Gunung Gede Pangrango.*/AHMAD RAYADIE/PR
BUPATI Sukabumi, Marwan Hamami didampingi Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Susatyo Purnomo Condro, Minggu, 18 Agustus 2019, tengah menyantap nasi liwet bersama warga kaki Gunung Gede Pangrango.*/AHMAD RAYADIE/PR

BUPATI Sukabumi,  Marwan Hamami, Minggu, 18 Agustus 2019 curak-curak dan ngaliwet (bersukaria dan makan-red) bersama dengan warga di kaki Gunung Gede Pangrango. Kegiatan yang dikemas Festival Pesta Rakyat ke-18 dan sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke 74, Republik Indonesia itu berlangsung di Kampung Budaya Lembur Tengah, Cipetir, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Sebanyak dua ratus kastrol nasi liwet habis disantap warga. Nasi liwet yang dihidangkan di atas daun pisang sepanjang 500 meter tersebut ludes tak tersisa dalam waktu kurang dari satu jam.

Selain menikmati makanan khas Jawa Barat, didampingi Kapolres Sukabumi Kota, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Susatyo Purnomo Condro, Marwan Hamami bersila membaur dengan warga. Ia menyaksikan berbagai kesenian hasil kreasi warga kampung adat.  

Antusiasme masyarakat dalam acara tersebut begitu tinggi, dimana setiap kelompok masyarakat menyediakan beraneka ragam makanan tradisional. Makanan khas lembur dikemas dalam tempat (Dong Dang-red) berjejer di sepanjang jalan. Setiap warga dan undangan bebas tanpa bayar alias gratis mencicipi makanan ringan tersebut.

Kegiatan tahunan di kawasan budaya yang kini terus dilestarikan, tidak hanya menjadi ikon para seniman di Kabupaten Sukabumi. Tapi  telah menjadi kegiatan yang diikuti para seniman di luar Kabupaten dan Kota Sukabumi.

Selain upaya pelestarian keanekaragaman budaya lokal, khususnya di Kabupaten Sukabumi. Kali ini sekaligus menjadi  ajang silaturahmi di antara para budayawan, seniman, komunitas adat, pakar budaya maupun segenap aparatur pemerintah guna mempercepat strategi pelestarian budaya berbasis kearifan lokal .

"Kegiatan pesta rakyat sudah  menjadi tradisi di kampung Budaya Lembur Tengah. Ini merupakan salah satu bentuk  mensyukuri dan mempersatukan masyarakat kampung budaya lembur tengah," kata Pupuhu Kampung Adat Lembur Tengaj, Ki Kumpay.

Marwan Hamami tidak hanya mengapresiasi aktivitas warga di kawasan Kampung Cipetir yang menjunjung tinggi budaya daerah. Ia menuturkan, kegiatan di kampung budaya Lembur Tengah merupakan salah satu budaya yang tentunya menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa Barat.

Apalagi kegiatan kampung budaya tersebut dapat mendorong kemandirian, dimana partisipasi masyarakat tumbuh untuk memajukan daerahnya.

"Mudah mudahan kegiatan terus berjalan. Apalagi Pemkab Sukabumi merencanakan lintas pariwisata Utara berdampak tidak hanya bisa dirasakan warga sekitar. Tapi masyarakatnya juga harus menyambut proses pembenahan infrastruktur sesuai program Nawacita, terutama oleh anak anak muda," katanya.

Marwan Hamami mengatakan aktivitas warga Lembur Tengah diharapkan menjadi wahana pelestarian budaya daerah. Terutama untuk meminimalisir dampak negarif dari hadirnya budaya asing yang kini mulai mengikis budaya lokal.

Apalagi seni dan budaya tradisi tatar Sunda, kata Marwan Hamami  merupakan salah satu mahakarya leluhur bangsa ini. Dan tentunya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya di Jawa Barat.

“Aktivitas Lembur Tengah diharapkan menjadi wahana pelestarian dan keanekaragaman budaya lokal, khususnya di Kabupaten Sukabumi. Umumnya bagi budaya di Jawa Barat yang menjunjung kearifan lokal dalam menghadapi rembesan budaya asing,” katanya.

Bupati menyatakan festival ini merupakan salah satu upaya menjaga kelestarian serta kesinambungan seni dan budaya lokal. Meski  derasnya informasi, komunikasi dan teknologi belakangan ini membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

“Potensi budaya dan seni lokal yang kuat sebagai warisan, para pelaku, peminat dan pecinta seni dan budaya tradisi, akan dapat tetap eksis menjadi warisan berharga dari generasi ke generasi,” katanya.***

Bagikan: