Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

[Laporan Khusus] Napas Berat Dalang Wayang Golek Cepak Indramayu

Gelar Gandarasa
KI Warsad dan wayang golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR
KI Warsad dan wayang golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

SUARA alunan musik ­tradisional tampak lekat saat ­mengunjungi ­sanggar yang ada di wilayah Desa Gadingan, ­Kecamatan Sliyeg, ­Kabupaten Indramayu. Di tembok sanggar yang terbuat dari ­anyaman ­bambu itu ­berjejer ­puluhan topeng beragam jenis. Saat menengok ke sudut ­ruangan, sebuah meja yang dipenuhi wayang juga menghiasi ­pemandangan.

Seorang pria tua menjelaskan beberapa wayang yang tersimpan rapi di atas meja tersebut. Tak ada debu menempel di wayang. Wayang-wayang itu dijaga tetap indah untuk dipandang.

”Ini wayang golek cepak asli Indramayu,” ujar Ki Warsad. Ia ada­lah dalang asal Sanggar Jaka Baru. Tangan pria berumur 80 tahun itu sangat lincah tatkala memainkan satu per satu wayang golek cepak.

Sembari terus memainkan wayang, Warsad menceritakan seluk-beluk wayang golek cepak. Jika dilihat sekilas, tak ada ­beda dengan wayang golek lainnya yang ber­asal dari wilayah lain. Namun, jika diamati bagian kepala wayang, barulah diketahui perbedaannya.

”Kalau wayang cepak kepalanya dibuat cepak,” tutur Warsad. Va­riasi tersebutlah yang membuat wayang cepak terlihat ber­beda.

WAYANG golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

Untuk penokohan wayang golek cepak ­juga mengambil dari ka­rakter asli yang ada di dunia nyata. ”Kalau golek kan banyaknya tokoh pewayangan. Kalau di cepak tokoh-tokoh yang hidup di ­za­man dahulu misalnya para sunan,” kata Warsad. Tak heran, saat pentas dirinya selalu membawakan kisah-kisah masyhur masa lampau yang kaya akan pesan moral.

Beranjak dari tempat duduknya Warsad lantas menunjuk foto ketika wayang golek cepak pernah bertengger di masa kejayaannya. Dia mengenang, pentas kesenian wayang pernah berjaya pada ta­hun 1970-an. Saat itu, setiap warga yang hendak meng­gelar hajatan pasti akan memanggilnya untuk memainkan wayang. Saking terkenalnya, bahkan ia sampai kewalahan menerima panggilan demi panggilan.

”Dulu setahun itu bisa pentas 150 kali,” ungkapnya yang sudah berkiprah menjadi dalang sejak tahun 1960-an.

WAYANG golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

Sayangnya, kilau wayang cepak perlahan memudar. Setiap de­ka­de pesona kesenian wayang ditinggalkan para peminatnya. Hal itu terlihat dari selalu turunnya panggilan untuk pementasan. Puncak­nya terjadi pada awal tahun 2000 saat terdapat pergeseran zaman. Warga mulai memakai jasa organ tunggal di setiap acara hajatan yang digelar. Mulai dari situlah kesenian wayang perlahan ditinggalkan oleh para penikmatnya.

Alhasil, kini setiap bulan Sanggar Jaka Baru hanya menerima panggilan sekitar dua orderan. Itu pun didapat dengan susah pa­yah. Warsad mengakui, kepopuleran wayang memang sudah me­mudar. Bukan hanya di­tinggalkan oleh para penikmat, para pelaku seni pun perlahan beranjak pergi. Kini, di Indramayu hanya tersisa Sanggar Jaka Baru yang menekuni wayang golek cepak.

”Saya khawatir kesenian daerah ini nantinya benar-benar punah. Tentu sangat di­sayangkan kalau terjadi,” ujarnya.

“Saya tidak takut kelaparan”

Kemungkinan punahnya wayang golek cepak bukan sekadar ­isap­an jempol. Ada beberapa faktor yang akan membuat wayang cepak hilang dari peredaran secara cepat. Hingga saat ini, keahlian membuat wayang belum bisa ditiru oleh para penerusnya. Hingga sejauh ini, Warsadlah yang ­kerap membuat wayang golek cepak. Bukannya tak diajarkan, keahlian membuat wayang tersebut sudah ditularkan beberapa kali kepada para penerus. Namun, mereka be­lum benar-benar terampil membuat wayang golek cepak.

Sementara itu, wanita pedalang Indramayu Wangi Indriya (58) juga mengakui, kian tahun peminat wayang semakin lesu. Apalagi dalam pentas, dirinya masih ­menganut pakem asli pewayangan. Ar­tinya, tidak ada inovasi yang ia terapkan ketika tampil. Wangi mengaku, dirinya tak begitu memikirkan sepinya peminat kesenian wayang.

Baginya, wayang bukan sekadar hiburan, melainkan kesenian ­bu­daya asli daerah yang mesti dipertontokan. ”Saya tidak takut mi­sal gara-gara kesenian saya kelaparan, yang penting bisa saya me­lestarikan budaya. Kalau ada yang mau belajar, ayo saya terbuka,” kata Wangi.

Seni Wayang di pengujung usia

Kabupaten Indramayu terkenal akan kekayaan ­budaya­nya. Tak ­heran, banyak seniman bertebaran di wilayah pantura Jawa Barat tersebut. Salah satu kesenian yang cu­kup populer di kota mangga itu adalah wayang. ­Meski tertatih, wayang masih mampu bertahan.

Tak ada yang tahu persis sampai kapan wayang di Indramayu akan bertahan. Apalagi minat generasi milenial terhadap kesenian tradisional cukup minim. Persoalan itulah yang menjadi fokus perhatian dari para pegiat seni di Kabupaten Indramayu.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Indramayu Sihabudin menuturkan, di era perkembangan teknologi ini kesenian wayang sema­kin terpinggirkan. Kendati begitu, ia tak sepenuhnya menya­lah­kan perkembangan teknologi. Minimnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan kesenian wayang adalah faktor utamanya. ­Upaya pe­nyelamatan pun terus dilakukan oleh para pegiat seni.

”Dari dulu, Dewan Kesenian selalu berusaha menghidupkan kem­bali kesenian yang hampir punah,” tutur Sihabudin. Ia ditemui Kamis 15 Agustus 2019.

KI Warsad dan wayang golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

Jika melihat fakta saat ini, generasi milenial seolah enggan melihat, apalagi melestarikan kesenian tradisional asli ­daerahnya. Hal itu terjadi karena masih adanya anggapan bahwa kesenian tradisio­nal dinilai membosankan. Generasi milenial lebih menyukai kese­nian yang bersifat menghibur dan kontemporer.

”Kalau nonton wa­yang mereka kuat tidak diam satu sampai dua jam?” tanyanya.

Untuk itu, dibutuhkan inovasi dari para pelaku seni wayang yang ada di kawasan pantura. Tanpa adanya inovasi, tampaknya akan cukup sulit bersaing dengan kesenian-kesenian yang lebih modern. Sihabudin menegaskan, dibutuhkan perhatian dari semua pihak termasuk pemerintah daerah supaya wayang bisa bertahan digempur perkembangan zaman.

Terkadang ketiadaan sarana menjadi kendala dalam melestari­kan kesenian ­daerah. ”Misalnya para pegiat seni tidak memiliki peralatan yang lengkap sehingga proses latihan pun tidak berjalan dengan maksimal,” ujarnya.

Menurut Sihabudin, perlu adanya kegiatan kesenian yang mampu menarik minat generasi muda untuk berkecimpung. Salah satu contohnya perlombaan dalang cilik yang bisa menjaring dalang-dalang baru bermunculan

Regenerasi dalang

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten ­In­dramayu Dian Pradita Kusuma mengakui, cukup sulit merege­ne­ra­si dalang.

Jangankan ikut bergabung terkadang para kaum muda kesulitan memahami kesenian wayang. ”Sekarang ini kendalanya bahasa. Anak muda sering kali tidak paham bahasa yang digunakan oleh para dalang,” katanya.

WAYANG golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

Dian menambahkan, saat ini dirinya selalu memakai bahasa yang lebih komunikatif supaya lebih mudah dipahami semua ka­langan. Kendati terus tergerus, Dian tetap optimistis kesenian wa­yang bisa bangkit. Sebab, kesenian wayang memiliki para penikmat setia tersendiri.

”Namun, tetap diperlukan inovasi-inovasi ke depannya,” tuturnya.

Menyesuaikan zaman, kunci bertahan

Para pegiat seni menyadari, inovasi merupakan upaya ­ter­baik untuk melestarikan kesenian tradisional daerah. ­Me­reka tak dapat memungkiri, ­selera para penikmat tidak akan sama dari zaman ke zaman. Dengan memanfaatkan teknologi, me­reka mencoba bertahan dari gempuran kesenian modern.

Penerus Sanggar Jaka Baru Shadim Aditya (33) menuturkan, ­ki­ni ada beberapa perubahan dilakukan untuk menyesuaikan ­dengan perkembangan zaman. Misalnya, kata dia, bahasa yang ­digunakan saat pentas lebih komunikatif dan mudah dicerna ­semua ­generasi. ”Sudah dimodernisasi. Kami coba sisipkan ­humor-humor supaya penonton tidak bosan,” ungkapnya.

PERAJIN wayang golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

Meskipun memakai bahasa Indramayu, masyarakat masih bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh dalang.

Lewat upaya tersebut, diharapkan para generasi muda bisa lebih tertarik lagi menonton kesenian budaya. Di tengah perkembangan teknologi saat ini, daya kreativitas sangat penting menentukan nasib keseni­an wayang golek ke depannya.

Menyelinap ke media sosial

Menurut dia, perkembangan zaman teknologi bukan merupakan musuh dari kesenian tradisional. Malah perkembangan teknologi mesti dimanfaatkan dengan baik untuk mempromosikan kesenian wayang. Saat ini, Shadim pun telah membangun saluran di You­tube. Saluran tersebut pun terbilang aktif karena sudah menunggah 82 video.

Bukan hanya menyasar Youtube, media sosial lain seperti Instagram dan Facebook dijamah Shadim. Di akun media sosial Sanggar Jaka Baru, ia juga kerap menunggah foto-foto kegiatan di sanggar.

PERLENGKAPAN wayang golek Indramayu/GELAR GANDARASA/PR

Di media sosial Instagram ia sudah mengunggah 779 foto. ”Media sosial untuk menjangkau kaum muda. Untuk mengenalkan kepada mereka kaum muda,” kata Shadim.

Promosi lewat internet itu terbukti cukup berhasil. Kini, penda­tang tak hanya dari Indonesia. Turis asing pun kerap mampir me­nengok Sanggar Jaka Baru. ”Belum lama ini datang dari Amerika,” katanya.

Shadim juga mengungkapkan, Sanggar Jaka Baru sering mendapatan undangan tampil di luar negeri untuk mempromosikan kesenian daerah.

Baginya, promosi merupakan upaya pen­ting untuk mempertahankan wayang golek cepak. Semakin banyak orang mengetahui, semakin banyak juga kesempatan tampil.

”Semoga ke depan sema­kin banyak lagi peminatnya,” ujarnya.

Shadim menga­ta­kan, inovasi demi inovasi akan terus diterapkan di Sanggar Jaka Ba­ru. Dengan demikian, ke­senian wayang bisa berkembang meng­i­kuti zaman sehingga tidak ditinggal para penikmatnya.***

Bagikan: