Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 24.6 ° C

Tasikmalaya-Garut via Salawu, Jalur Maut bagi Pasukan Belanda

Bambang Arifianto
TUGU lusuh di tikungan Cidolog, Desa Salebu, Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 14 Juli 2019. Kendati sebagai penanda peristiwa bersejarah, sejumlah tugu dan monumen di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya tak terawat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
TUGU lusuh di tikungan Cidolog, Desa Salebu, Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 14 Juli 2019. Kendati sebagai penanda peristiwa bersejarah, sejumlah tugu dan monumen di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya tak terawat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TUGU lusuh itu berdiri tegak di belokan jalan Desa Salebu, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Letaknya tak terlalu menarik perhatian kendati berada di tepi jalan ramai penghubung Singaparna dengan Garut.

Deretan huruf yang tertera pada batu marmer pada tugu tersebut sudah cukup sulit dibaca lantaran telah begitu kusam. Demikian pula dengan cat warna putih yang mengelupas makin membuat samar kaitan peristiwa pendirian tugu di lokasi itu.

Lambang maung pada prasasti menjadi petunjuk keberadaan tugu berkenaan dengan peristiwa sejarah perjuangan kemerdekaan di wilayah Tasikmalaya dan peran Divisi Siliwangi. Tugu tersebut merupakan penanda salah satu peristiwa heroik pemuda dan pejuang menghadang konvoi kendaraan Belanda yang melintas pada zaman perang kemerdekaan.

”Di jalan tikungan Cidolog, Salebu, Singaparna, pada medio September 1947, Kompi Lukito mengadakan penghadangan terhadap iring-iringan konvoi yang membawa Jenderal Buurman van Vreeden, Kepala Staf Umum Tentara Belanda.” Demikian tulisan yang terbaca dalam prasasti tugu itu.

PENGENDARA sepeda motor melintasi tugu yang lusuh di tikungan Cidolog, Desa Salebu, Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 14 Juli 2019. Kendati sebagai penanda peristiwa bersejarah, sejumlah tugu dan monumen di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya tak terawat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Lukito merupakan anak buah SL Tobing, pimpinan prajurit Siliwangi yang bergerilya di wilayah Singaparna. Kedua pemuda asal Bandung itu dikenal sebagai pejuang di Front Bandung Timur hingga berkedudukan di Tasikmalaya. Saking hebatnya penghadangan di Salebu, dokumen-dokumen hingga stempel serdadu Belanda jatuh ke tangan para pejuang.

Iing Suhanda (89), Ketua Dewan Pimpinan Ranting Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kecamatan Salawu, menuturkan bahwa Jalan Singaparna-Garut merupakan jalur maut bagi Belanda. Perusakan jalan serta bari­kade yang dipasang pejuang dan warga menyulitkan truk-truk Belanda melintas.

Sekali penghadangan, sekampung dikerahkan

Aksi Kompi Lukito di bawah pimpinan SL Tobing hanya salah satu bentuk perlawanan di jalur tersebut. Dalam sepekan, tutur Iing, perusakan jalan dan pemasang­an barikade dilakukan dua kali guna menghadang laju ken­daraan Belanda. Upaya tersebut berupa membuat jalan berlubang atau menebang pohon yang sengaja ditaruh di badan jalan pada malam hari.

Kekesalan pasukan Belanda memuncak ketika konvoi mandek di sana, siang hari. Satu kampung bernama Tanjaknangsi, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu pun dibumihanguskan.

Rumah-rumah warga dibakar dan dijadikan jalur pelintasan kendaraan Belanda karena jalan utama tak dapat dilewati.

Senjata pejuang memang begitu terbatas. Dari lima prajurit Siliwangi yang berkedudukan di sana, hanya satu senjata jenis karabin yang mereka miliki. Pernah satu kali, pejuang menembak menggunakan bedil tersebut ke arah konvoi Belanda yang terjebak barikade. Tindakan itu dibalas guyuran senjata mesin oleh pasukan Belanda.

Kekuatan persenjataan yang tak seimbang tak melunturkan manunggalnya tentara dengan warga. Warga bahu-membahu memantau pergerakan Belanda dan memberikan informasi secara estafet kepada para pejuang serta bergotong royong menghambat pergerakan musuh.

”Sekali penghadangan, sekampung, sedesa dikerahkan. Nu ngomando lima (tentara Siliwangi),” ucap Iing ketika ditemui di Kantor LVRI Kota/Kabupaten Tasikmalaya, Jalan Rumah Sakit 1 Nomor 29, Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Rabu 14 Agutsus 2019.

Saat itu, ia masih berusia 15 tahun. Tugasnya berganti-ganti saat membantu perjuangan. Terkadang, Iing ikut turun kerja bakti saat membuat bari­kade, menyalurkan makanan, serta menjadi kurir para pejuang.

Teror Si Engang

Membantu para pejuang bukannya tanpa risiko. Selain pembakaran rumah, tentara Belanda juga mengerahkan dua pesawat guna menembaki kampung-kampung di Salawu. Dua pesawat itu berfungsi sebagai pengintai dan pemburu.

”Dari pukul 5.00 pagi selesai pukul 17.00 sore, mapay-mapay (terbang menelusuri wilayah perkampungan),” ucapnya.

Pesawat pengintai lebih dikenal dengan pesawat capung. Sementara, pesawat jenis pemburu dijuluki warga dengan nama ”si engang” karena galak memuntahkan peluru.

Beruntung, para Maung Siliwangi alias prajurit divisi kebanggaan Jawa Barat itu mengajari warga untuk menghindari serangan pesawat Belanda.

Selain membuat lubang perlindungan, warga diminta tak membuat gerakan apa pun ketika pesawat berada di atas permukiman. Jika berada di luar rumah, warga mesti me­me­luk pepohonan. Pesawat Belanda itu memang tak segan memberondong segala objek yang terlihat bergerak di bawahnya.

Kini, cerita penghadangan dan aksi barikade warga hanya tertinggal di ingatan eks para pejuang yang telah lanjut usia. Tugu atau prasasati pengingat peristiwa heroik itu pun makin lapuk dan sulit dibaca.

Selain di Salebu, terdapat tugu lokasi bekas Batalyon Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta) Dai Ichi dan Dai ni Dai Dan di Jalan Veteran dan monumen penyerbuan pemuda ke Markas Kempeitai di Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya. Tugu di kantor yang berada di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya dalam kondisi memprihatinkan.

Tak hanya lusuh dengan sampah bertebaran, prasasti tersebut ada yang telah retak.

”Monumen itu tanggung jawab pemerintah daerah melalui Dinas Sosial berkoordinasi dengan Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45,” kata Ketua LVRI Kota/Kabupaten Tasikmalaya, Djodjo Ruskandi (79).

Ia berharap, pemerintah merawat dan memberi pagar pembatas monumen atau tugu/prasasati guna menghindari tangan-tangan jahil merusaknya. Pemerintah semestinya juga memasukkan sejarah perjuangan lokal, selain nasional, kepada para siswa sekolah. ”Supaya ada kebanggaan terhadap daerah,” ucapnya.***

Bagikan: