Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 21.7 ° C

Kemarau Hingga Oktober, Warga Bergantung pada Sungai untuk Mandi Cuci Kakus

Nurhandoko
ILUSTRASI warga sedang mencuci wajahnya di aliran Sungai Cipamingkis yang mengering di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 4 Juli 2019. Sebagian besar warga di wilayah tersebut memanfaatkan air dari dasar dan sisa aliran sungai Cipamingkis yang mengering di musim kemarau untuk kebutuhan mencuci dan mandi.*/ANTARA
ILUSTRASI warga sedang mencuci wajahnya di aliran Sungai Cipamingkis yang mengering di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 4 Juli 2019. Sebagian besar warga di wilayah tersebut memanfaatkan air dari dasar dan sisa aliran sungai Cipamingkis yang mengering di musim kemarau untuk kebutuhan mencuci dan mandi.*/ANTARA

CIAMIS,(PR).- Musim kemarau di wilayah Tatargaluh Ciamis diperkirakan bakal berlangsung hingga Oktober 2019. Kemarau juga mengakibatkan ribuan warga yang tersebar di beberapa kecamatan mulai mengalami krisis air bersih.

Mengatasi kesulitan air bersih yang semakin parah, Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis setiap hari menyalurkan bantuan. Hanya saja, keterbatasan mobil tanki mengakibatkan warga harus bersabar menunggu datangnya bantuan air bersih.

Akibatnya, semakin banyak warga yang memanfaatkan aliran sungai untuk kepentingan masak cuci dan kakus (MCK). Air bersih yang masih tersisa di sumur atau mata air, hanya digunakan untuk kepentingan memasak.

Hal itu misalnya seperti yang berlangsung di aliran Sungai Cisepet, wilayah Sarayuda, Desa Mekarharja, serta Majaprana, Desa Pamalayan. Kedua wilayah tersebut berada di Kecamatan Cijeungjing. Setiap pagi dan sore, banyak warga yang datang ke sungai untuk MCK.

“Prakiraan BMKG puncak kemarau terjadi Agustus, sehingga dimungkinkan kemarau akan berlangsung hingga Oktober. Mengatasi kesulitan tersebut, kami juga selalu mengingatkan warga agar lebih bijak memanfaatkan air,” tutur Kepala Bidang Kedaruratan dan Logisitk BPBD Kabupaten Ciamis Ani Supiani, Rabu, 14 Agustus 2019. 

Dia mengungkapkan, hingga saat ini setidaknya 6.000 Kepala Keluarga (sekitar 17.000 jiwa) yang tersebar di tujuh kecamatan yakni Cijeungjing, Cikoneng, Cimaragas, Cidolog, Ciamis, Banjarsari serta Pamarican, mengalami kesulitan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BPBD bersama dengan TNI–Polri serta swasta sudah menyalurkan bantuan air bersih hingga 320.000 liter.

“Banyak yang harus dibantu, akan tetapi jumlah mobil tanki air sangat terbatas. Belum lagi beberapa wilayah juga sulit diajangkau oleh kendaraan tersebut, terutama di wilayah kecamatan Cidolog,” tuturnya. 

Bergantung pada air sungai

Sementara itu, salah seorang warga Desa Kertaharja, Rohayati (54),  ditemui saat sedang mencuci di Sungai Cicepet. Bersama Uum, ia selalu datang untuk memanfaatkan air sungai pada pagi dan sore hari. Kegiatan rutin itu dilakukan semenjak air sumur di rumahnya semakin menipis sejak beberapa bulan lalu.

Keduanya juga mengatakan air sumur yang jumlahnya sangat terbatas, hanya digunakan untuk kepentingan memasak. Sedangkan untuk mencuci dan mandi, setiap hari dilakukan di sungai.

Untuk menuju Sungai Cisepet yang debitnya juga semakin kecil serta banyak terdapat ranting pohon di aliran sungai, warga harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari rumah.

“Pagi dan sore ke sungai, pagi mencuci perabot rumah tangga, sore mencuci baju. Sebelum pulang juga sekalian mandi di sungai. Air sumur di rumah hanya untuk memasak saja,” tutur Rohayati.

Uum menambahkan, kadang air sumur dipakai untuk mandi anaknya yang hendak pergi ke sekolah. Hal itu dilakukan ketika kesiangan.

Sedangkan jika dalam kondisi normal, anak-anak ikut mandi di sungai sebelum bersekolah. “Orang tua mah tetap di sungai saja. Biar anak mandi di rumah, itu pun airnya harus dihemat,” kata Uum.***

Tags
Bagikan: