Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 20.3 ° C

Aksi Massa di Cianjur Ricuh, 3 Polisi Terbakar

Shofira Hanan
MASSA OKP Cipayung Plus bersitegang dengan aparat kepolisian yang bertugas mengamankan aksi massa di Pendopo Cianjur, Kamis 15 Agustus 2019. Aksi massa tersebut berakhir ricuh.*/SHOFIRA HANAN/PR
MASSA OKP Cipayung Plus bersitegang dengan aparat kepolisian yang bertugas mengamankan aksi massa di Pendopo Cianjur, Kamis 15 Agustus 2019. Aksi massa tersebut berakhir ricuh.*/SHOFIRA HANAN/PR

CIANJUR, (PR).- Aksi Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung Plus Cianjur yang mengkritik Pemkab Cianjur berakhir ricuh. Tiga polisi mengalami luka bakar karena tersambar api dari kardus bekas air mineral yang dibakar massa. Dalam kejadian Kamis 15 Agustus 2019 itu, 13 orang peserta aksi diamankan polisi.

Organisasi gabungan yang terdiri atas Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia, Himpunan Mahasiswa Tjiandjoer, Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah, dan Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam itu semula bertujuan mengkritik kinerja Pemkab Cianjur. Namun, emosi massa tersulut karena tak kunjung dipertemukan dengan Plt. Bupati Cianjur yang sedang berada di tempat lain.

Ketegangan sudah dirasakan sejak aksi dimulai. Beberapa kali terjadi ketegangan dan kericuhan karena aparat dianggap menghalangi upaya aksi mahasiswa. Bahkan, massa sempat berang setelah salah satu dari mereka dipukul aparat yang menjaga area Pendopo Cianjur.

Massa yang sempat memasuki area pendopo memilih kembali mundur ke jalan raya. Mereka sengaja menutup jalan sebagai bentuk protes karena niat audiensi bersama pejabat Cianjur tak kunjung dipenuhi.

Siraman bensin

Ketegangan kembali terjadi saat salah satu peserta aksi membawa ban ke lokasi. Khawatir massa membakar ban tersebut, aparat sigap mengamankan dua ban yang dibawa. Massa menantang langkah petugas itu. Adu mulut kembali terjadi sampai akhirnya massa nekat membakar kardus air mineral.

”Ketika petugas mau memadamkan api, ada yang menyiramkan bensin ke arah api. Akhirnya sejumlah petugas yang berada sangat dekat dengan api tersambar,” ujar Anggota Patroli Satlantas Polres Cianjur Brigadir Dua, Aryo yang saat itu berada tepat di lokasi.

MASSA OKP Cipayung Plus bersitegang dengan aparat kepolisian yang bertugas mengamankan aksi massa di Pendopo Cianjur, Kamis 15 Agustus 2019. Aksi massa tersebut berakhir ricuh.*/SHOFIRA HANAN/PR

Tiga polisi yang terluka yaitu anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Bojongherang Polsek Cianjur Aiptu Erwin Yudha, anggota Sat Sabhara Polres Cianjur Bripda Yudi Muslim, dan anggota Sat Sabhara Polres Cianjur Bripda Aris Simbolon. Aiptu Erwin mengalami luka paling parah. Bripda Aris Simbolon mendapat luka cukup serius.

”Saat ini, satu anggota kami harus dirujuk ke RS Bhayangkara R Said Sukanto Kramat Jati karena lukanya mencapai 80 persen. Satu orang lainnya mengalami luka 40 persen. ada dua orang yang harus dirawat di RSUD Sayang,” ujar Kapolres Cianjur AKBP Soliyah.

Selidiki adanya unsur kesengajaan

Aksi unjuk rasa mahasiswa yang berakhir ricuh dinilai perlu diselidiki secara intensif. Sejumlah pihak menilai, tidak tertutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan.

Aktivis senior sekaligus Presidium Aliansi Masyarakat Untuk Penegakan Hukum Cianjur Yana Nurjaman menilai, aksi tersebut harus bisa disikapi bijak oleh semua pihak terutama kepolisian, agar bisa melakukan penyelidikan secara intensif.

”Apalagi, kalau memang ada unsur kesengajaan untuk membuat aksi rusuh dan memakan korban. Kita memang seringkali tidak bisa memprediksi kondisi di lapangan, tapi apa yang terjadi ini sangat disayangkan,” ujar Yana.

Dia mengatakan, sering ada faktor X yang tidak bisa diduga saat terjadi aksi di lapangan. Tidak jarang, banyaknya aspirasi atau bahkan emosi yang tertahan menimbulkan amarah.

Hal tersebut, tidak jarang memicu terjadinya tindakan-tindakan spontan. Yana mengatakan, sebaiknya aparat berwenang jangan menunggu tensi semakin panas saat aksi berlangsung.

”Pada satu sisi, polisi bertugas untuk mengamankan. Tapi di satu sisi lagi, mereka harus menjadi delegasi yang menghubungkan antara massa dengan pemangku kebijakan,” ujar dia.***

Bagikan: