Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 23.5 ° C

Ada Kisah Heroik di Balik Monumen Lusuh Penanda Penyerbuan Markas Satuan Terbengis Jepang di Tasikmalaya

Bambang Arifianto
PELAJAR SMK membaca tulisan di monumen penyerbuan pejuang terhadap markas Kempeitai di pojok Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, Selasa 13 Agustus 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PELAJAR SMK membaca tulisan di monumen penyerbuan pejuang terhadap markas Kempeitai di pojok Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, Selasa 13 Agustus 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

PROKLAMASI kemerdekaan 1945 bukan hanya bergema di Jakarta. Bara revolusi juga menjalar ke wilayah Tasikmalaya dan membakar hati para pemudanya.

Aksi heroik 700-1.000 pemuda Tasikmalaya pun meletus melalui penyerbuan ke markas Kempeitai Jepang meski dengan keterbatasan senjata, pada 18 September 1945.

Di bawah cahaya sinar bulan dan hawa dingin, sejumlah pemuda dan berbagai elemen masyarakat Tasikmalaya bertiarap mengepung Markas Kempeitai yang menempati bangunan bekas Kantor Asisten Residen di wilayah kota pada pukul 0.30. Mereka terbagi menjadi sejumlah pasukan.

Lokasi markas itu berada di depan lapangan tenis dan penjara dan dikelilingi kawat. Kini, bekas bangunan markas sudah tak terlihat bekasnya. Lokasi tersebut kini berganti menjadi gedung yang dihuni Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya. Gedung itu terimpit Jalan Pemuda dan Jalan Kiai HZ Mustofa.

MONUMEN penyerbuan pejuang terhadap markas Kempeitai di pojok Gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya di Jalan Mayor Utarya, Kota Tasikmalaya, Selasa 13 Agustus 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Lima belas menit berselang, pasukan khusus pemotong kawat telah melaksanakan tugasnya. Pintu serangan telah terbuka. Tak butuh waktu lama, lampu listrik di seluruh wilayah kota padam dengan pekikan merdeka dari para penyerbu bergema diiringi bunyi dari pukulan-pukulan ke tiang listrik dan kentungan.

Seluruh pasukan pun menerobos kawat-kawat yang telah terpotong dari sektor barat dan timur. Sementara itu, dari sektor utara, masuk kendaraan pikap Chevrolet yang juga ditumpangi beberapa penyerbu.

Diserang secara mendadak, pada dini hari pula, membuat serdadu-serdadu Kempeitai tak berdaya. Beberapa mereka langsung ditodong bambu runcing di atas tempat tidur. Bahkan pimpinan para serdadu itu keluar dari kamar tidur dengan mengenakan kemeja putih, sandal, dan meng­acungkan kedua tangannya dengan berteriak, ”Merudeka...merudeka!”

Kisah heroik yang terjadi pada 18 September 1945 tersebut tercatat dalam dokumen Risalah Berakhirnya Kekuasaan Pemerintahan Tentara Jepang di Kabupaten Tasikmalaya yang disusun oleh mantan para pejuang, seperti Suwaryo RA, HA Suhara, dan RH Akil Prawiradiredja. Mereka adalah pemuda-pemuda Tasikmalaya yang turut terbakar semangat dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Beberapa pemuda juga merupakan bekas tentara sukarela dan organisasi kepanduan yang dibentuk Jepang, seperti Peta, Yogekitai, Kaigun Heiho, dan Seinendan. Mereka kesal karena Jepang masih bercokol di Tasikmalaya.

”Tanggal 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, bergema di mana-mana. Namun, di Tasikmalaya, sampai dengan minggu pertama September 1945, bendera Nippon masih berkibar, khususnya di Markas Kempeitai di kompleks bekas Kantor Asisten Residen Priangan,” tulis Suwaryo RA dalam dokumen Setetes Keringat dari Putra Bangsa untuk Ibu Pertiwi.

Melancarkan provokasi dan siasat jitu

Selain Kantor Asisten Residen, serdadu negeri matahari terbit juga masih menduduki wilayah Cibeureum dan Perkebunan Sukajadi di Singaparna.

Panitia penyerbuan dan pelucutan Kempeitai pun dibentuk di rumah Naseh, tokoh pergerakan Tasikmalaya di Jalan Gudangjero Nomor 1. Kala itu, Naseh bersama tokoh lain, O Tosin, baru dua pekan dibebaskan dari tahanan Kempeitai.

Dengan kondisi fisik yang masih lemah lantaran siksaan polisi militer Jepang itu, kedua tokoh hadir dan bersepakat dengan pemuda untuk menyerang markas Kempeitai. Para pemuda Tasikmalaya eks Peta dan organisasi kepemudaan bentukan Jepang memang menjadi saksi mata atas kejamnya pendudukan Jepang di Tasikmalaya.

Suwaryo yang sempat menjadi Bundacho Peta melihat langsung para santri Pesantren Sukamanah pimpinan Kiai Haji Zaenal Mustofa—yang berontak terhadap Je­pang—ditarik dan ditendang dari truk yang mengangkutnya saat tiba di penjara Tasikmalaya.

Kekejaman tersebut menjadi api semangat pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan. Penyerbuan pemuda juga menunjukkan kematangan siasat. Pada H-3 serangan, mereka melancarkan provokasi dan sengaja menyebarkan berita bahwa pemuda bakal menyerbu Kempeitai dan satuan-satuan tentara Jepang di seluruh Tasikmalaya.

Tak urung, serdadu Kempeitai bersiaga penuh mengantisipasi serangan. Namun, 6 jam sebelum waktu penyerangan, para pemuda kembali mengeluarkan pernyataan batal menyerbu karena kekurangan senjata.

Siasat jitu itu membuat serdadu Jepang tertipu dan tak siap lantaran pemuda ternyata benar-benar melancarkan serangan.

Persoalan keterbatasan senjata memang benar-benar dialami pemuda. Mereka hanya memiliki sebuah revolver FN 32. Namun, berkat kerja sama yang apik dengan masyarakat, pasukan Jepang berhasil dilucuti dan dirampas persenjataannya.

Keesokan harinya, serdadu lain di Cibeureum dan Perkebunan Sukajadi di Singaparna turut dilucuti dan dise­rahkan ke induk pasukannya di Cibangkong, Bandung.

Penyerbuan markas Kempeitai merupakan salah satu fragmen sejarah penting Tasikmalaya. Pasalnya, masyarakat bahu-membahu untuk mengusir Jepang yang telah kalah perang.

Zainal Aboedin Alamsyah (87), Ketua Harian Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuang­an 45 Kota Tasikmalaya masih mengingat peristiwa tersebut. Saat itu, Aboedin masih ber­usia 13 tahun.

Informasi penyerangan markas Kempeitai beredar di masyarakat. ”Ada beberapa tetangga yang ikut (penyerangan),” ucap Aboedin di kediamannya, Lengkongsari, Minggu 21 Juli 2019.

Monumen lusuh tak menarik

Jejak heroik bersejarah itu hanya tinggal sebuah monumen di pojok gedung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Dinas Ko­perasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya. Monumen lusuh itu bahkan tak terlalu menarik perhatian warga.

Mesi Mulyasari, pelajar SMK asal Singaparna cukup kaget saat mengetahui lokasi monumen. Padahal, dia sudah dua minggu menjalani praktik kerja lapangan di gedung tersebut. ”Monumen sumpah pemuda kitu?” ucapnya bertanya-tanya. Ia baru tahu ternyata pernah ada perebutan kekuasaan oleh pemuda kepada Jepang di Tasikmalaya.

Secuil informasi sejarah lokal itu memang tak disajikan di sekolahnya. Sekolah hanya menyampaikan sejarah pemberontakan Kiai Zaenal Mustofa yang merupakan pahlawan nasional dan terkait dengan Tasikmalaya.

Hal senada dilontarkan kawannya, Yulis Tiana (17). Yulis berharap, monumen perebutan markas Kempeitai di Tasikmalaya itu bisa dirawat dan dijaga.

Peristiwa penyerbuan Pemuda Tasikmalaya memang telah berlalu puluhan tahun lalu. Namun, tanpa adanya upaya memelihara jejak tersisa, memperingati, dan memasukkannya ke dalam pelajaran siswa, Tasikmalaya mungkin bakal kehilangan ingatan akan sejarah yang menjadi bagian penting darinya.***

Bagikan: