Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 22.3 ° C

Alami Kekeringan, Pemkot Bogor Rencanakan Gelar Salat Istiska

ILUSTRASI kekeringan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
ILUSTRASI kekeringan.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

BOGOR, (PR).- Musim kemarau panjang membuat sejumlah wilayah di Kota Bogor kesulitan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bogor terus mendapatkan permintaan bantuan air bersih di wilayah yang dilanda kekeringan.

Berdasarkan data sementara, kesulitan air bersih terjadi di Kampung Tarikolot, Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara. Sebanyak 50 keluarga meminta bantuan air bersih kepada BPBD Kota Bogor. Kekeringan juga terjadi di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan. BPBD mencatat, kekeringan di Mulyaharja menyebabkan kurang lebih 235 keluarga terdampak. Kekeringan terjadi akibat hujan yang tak kunjung turun. 

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bogor, Budi Hendrawan mengatakan bahwa bantuan air bersih terus disalurkan di wilayah yang membutuhkan. Di Kecamatan Bogor Selatan, ada 7.500 liter air yang didistribusikan dengan perincian 2.500 liter air untuk 260 keluarga, dan 5.000 liter untuk 235 keluarga.

“Kami siap siaga menerima laporan kekeringan. Kalau memang ada yang laporan kekeringan, kami sarankan untuk ke pemerintah setempat dulu, ke kelurahan, nanti dari kelurahan menghubungi BPBD, selanjutnya kami ambil air ke PDAM,” kata Budi.

Menurut Budi, sejauh ini BPBD Kota Bogor baru menerima laporan kekeringan di dua kecamatan. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, permintaan air bersih memang meningkat. Sementara kendala yang dihadapi BPBD adalah keterbatasan kendaraan, yang mana BPBD hanya memiliki satu truk tangki pengisian air. Itu sebabnya distribusi air dilakukan secara bertahap.

“Minggu-minggu ini lumayan meningkat, distribusi air pun kami lakukan tiap hari. Titik krisis air juga baru didapatkan sekarang ini saja, di 2016-2017 belum ada pendistribusian air, di 2018 juga hanya di Bojongkerta, sekitar 3.000 liter air saja,” ucap Budi.

Meskipun sudah menerima laporan kekeringan, Pemerintah Kota Bogor juga belum menetapkan darurat kekeringan karena masih dapat diantisipasi. BPBD Kota Bogor, lanjut Budi, masih mengacu pada data yang dikeluarkan BMKG. Berdasarkan informasi, Kota Bogor masuk pada kategori non zona, karena sewaktu-waktu bisa saja turun hujan.

“Tetapi tetap harus waspada, BMKG tetap mengimbau agar irit menggunakan air bersih karena kemarau panjang diprediksi terjadi hingga September,” kata Budi.

Salat istiska

Terpisah, Wali Kota Bogor Bima Arya mengaku sudah menerima laporan kekeringan di sejumlah titik di Kota Bogor. Selain mengirimkan bantuan air melalui PDAM,  Pemerintah Kota Bogor juga berencana menggelar salat istiska, atau salat meminta hujan.

“Saya sudah koordinasikan dengan PDAM untuk memasok air di daerah kekeringan. Ada juga usulan dari warga dan MUI, kalau belum turun-turun juga hujannya kita akan salat Istiska, ikhtiar di dunia sudah, tinggal ikhtiar rohani, nanti akan diatur,” ucap Bima.

Menurut Bima, sejauh ini laporan kekeringan di wilayah Kota Bogor relatif masih sedikit, kurang dari 10 titik. Bima juga sudah mengatur kebijakan pengendalian penggunaan air di bawah tanah. Sehingga ke depan, masyarakat terutama perusahaan, hotel, dan industri tidak diperbolehkan menggunakan air bawah tanah, dan diarahkan mengakses fasilitas air dari PDAM. “Ini sudah dilakukan dalam bentuk Perwali,” ucap Bima.***

Bagikan: