Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Jembatan Penghubung Ciawi-Singaparna Ambles

Bambang Arifianto
TRUK pasir melintasi retakan Jembatan Cimampan, Kampung Cimala, Desa Indrajaya, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, 13 Agustus 2019. Rusaknya jembatan di ruas Jalan Ciawi-Singaparna itu menuai kekhawatiran warga.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
TRUK pasir melintasi retakan Jembatan Cimampan, Kampung Cimala, Desa Indrajaya, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, 13 Agustus 2019. Rusaknya jembatan di ruas Jalan Ciawi-Singaparna itu menuai kekhawatiran warga.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Jembatan Cimampan di Kampung Cimala, Desa Indrajaya, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami kerusakan. Jembatan penghubung Jalan Ciawi-Singaparna (Cisinga) tersebut ambles dan retak diduga karena tergerus air sungai dan  dilalui truk-truk pengangkut pasir.

Pantauan Pikiran Rakyat, kerusakan terlihat jelas di permukaan aspal yang tampak retak. Sementara di area tepi jembatan, tembok penahan tanah dan tebingnya telah longsor.

Material longsoran tampak berserakan di dasar sungai. Dua spanduk kecil yang berisi peringatan para pelintas jalan berhati-hati lantaran jembatan ambles terlihat di sana. Spanduk peringatan yang dibuat UPT PU Wilayah Sukaratu tersebut juga memberi batasan bobot kendaran yang melintas maksimal hanya lima ton.

Ujang (45), warga Kampung Cimala menuturkan, kerusakan jembatan sudah terjadi cukup lama. Sekira empat bulan lalu, sempat dibuat tembok guna menahan tanah di tepi jembatan. Akan tetapi, kerusakan terus terjadi.

"Pondasi tergerus (sungai), retak bagian atasnya," ucap Ujang saat ditemui di dekat jembatan itu, Selasa, 13 Agustus 2019.

Menurutnya, pondasi jembatan rusak lantaran tergerus aliran sungai yang mengalir di bawahnya. Saat musim hujan, tutur Ujang, arus sungai memang terbilang kencang.

Tepi sungai baik tembok jembatan dan tebing tanah pun runtuh tersapu arus. Kerusakan jembatan diperparah melintas sejumlah truk pengangkut pasir.‎

Ujang mengatakan, Jalan Cisinga yang mengarah ke Cisayong masih dipergunakan oleh truk-truk pasir bermuatan berat. Selain jalur itu, truk juga menggunakan Jalan Cisinga ke arah Singaparna.

"Itu mah memaksakan, kalau jembatan belum diperbaiki kan mengkhawatirkan," ucap Ujang.

Ia menilai, pemerintah semestinya melarang dulu truk-truk pasir itu melintas bila kondisi jembatan masih rusak. Truk melewati jembatan itu biasanya membawa pasir untuk kebutuhan pabrik-pabrik di Ciawi. Ujang berharap, pemerintah segera memperbaiki jembatan tersebut. Ia khawatir jembatan itu ambruk dan makan korban jiwa.

Pondasi tergerus

Hal senada dikemukakan warga Cimala lainnya, Danial (60). "Pondasina tos ngagantung, dicocokan ku boronjong," ujar Danial.

Sebagaimana Ujang, ia menyebut pondasi jembatan memang tergerus arus sungai di musim hujan. Kendati telah ambles, truk-truk pengangkut pasir masih tetap lalu lalang di akses penghubung Cisinga itu.

Truk-truk yang menggali pasir di kawasan Gunung Galunggung memang membawat muatan pasir melintasi Cisinga. Sebagian truk tersebut mengarah ke Singaparna. Sedangkan yang lain menuju Cisayong.

"Enjing ngaraleut," ucap Danial terkait aktivitas pengangkutan pasir yang ramai melintas jembatan setiap pagi.

Ia menduga, aktivitas pengangkutan pasir ramai di pagi hari karena Jalan Cisinga yang lowong saat itu. Selepas jembatan, truk akan berbelok masuk ke Cisayong kemudian Pagendingan.

Dari sana, truk melaju kembali ke Ciawi. Danial memperkirakan bobot muatan pasir yang dibawa truk bisa melebihi satu ton.

Wewenang pemkab

Sementara itu, Camat Sukaratu Roni menyebut status Jalan Cisinga masih merupakan tanggung jawab Pemkab Tasikmalaya. Rencananya, akses penghubung Ciawi-Singaparna itu bakal diserahkan ke Pemprov Jabar. Roni juga berharap akses tersebut laik, memenuhi standar keselamatan sehingga bisa digunakan masyarakat. 

Menurutnya, ketika jalan diaspal semestinya persoalan kajian tanah untuk konstruksi jembatan sudah siap. "Logikanya ketika di hot mix (aspal), sudah memenuhi standar," ujarnya.

Roni pun menyoroti persoalan perencanaan dan kajian terkait tanah dalam pembuatan jembatan tersebut. Dalam prasasti yang tertera pada jembatan tersebut, pengerjaan berlangsung pada tahun anggaran 2008. Sedangkan pelaksananya adalah CV Mitra Karya. ***

Bagikan: