Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

Khawatir Ambruk, Puluhan Siswa SDN Jayamekar Cianjur Terpaksa Belajar di Teras Sekolah

Shofira Hanan
SEJUMLAH siswa belajar di teras depan SDN Jayamekar, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Senin, 12 Agustus 2019. Sekolah mereka berisiko untuk terus digunakan karena sudah terlalu tua dan belum juga mendapat bantuan rehabilitasi maupun pembangunan sampai saat ini.*/SHOFIRA HANAN/PR
SEJUMLAH siswa belajar di teras depan SDN Jayamekar, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Senin, 12 Agustus 2019. Sekolah mereka berisiko untuk terus digunakan karena sudah terlalu tua dan belum juga mendapat bantuan rehabilitasi maupun pembangunan sampai saat ini.*/SHOFIRA HANAN/PR

BELAJAR di teras sekolah menjadi kegiatan rutin puluhan siswa SDN Jayamekar, Kabupaten Cianjur, sejak beberapa pekan terakhir. Beralaskan tikar atau bahkan sesekali duduk tanpa alas dilakoni agar mereka tetap bisa belajar setiap hari.

Sekolah yang sudah berdiri sejak 1981 itu sudah terlalu rapuh untuk ditempati, karena dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu. Bahkan, sejak awal pembangunan, belum ada bantuan untuk membangun ruang kelas baru (RKB) maupun rehabilitasi.

Komite sekolah SDN Jayamekar, Hasan, mengatakan, atap bangunan sekolah sudah rapuh dan terlihat mau ambruk. Menyiasati hal itu, pihak terkait pun mengganjal atap menggunakan bambu.

”Supaya tidak ambruk, karena khawatir ada korban. Apalagi, kalau anak-anak sedang belajar di dalam kelas. Sebenarnya ini kondisinya sudah mau ambruk, tapi tetap belum ada bantuan,” ujar Hasan kepada Pikiran Rakyat, Senin, 12 Agustus 2019.

Padahal, sekolah yang terletak di Kampung Bantaka RT 04 RW 03, Desa Muaracikadu, Kecamatan Sindangbarang itu, tidak begitu jauh dari pusat kota dan Kantor Kecamatan Sindangbarang. Maka dari itu, komite sekolah pun cukup heran karena dinas terkait seakan tutup mata dengan kondisi sekolah.

Hasan mengungkapkan, sekolah tersebut dulu bernama SD Inpres saat pertama dibangun. Sekolah itu diketahui dibangun dengan swadaya masyarakat dan sejak saat itu, belum ada bantuan yang diperoleh sekolah untuk perbaikan maupun pembangunan.

Akan tetapi, sekolah tua itu terpaksa tetap digunakan meski pun kondisinya tidak layak. ”Kemarin-kemarin memang masih bisa dipaksakan untuk dipakai belajar. Tapi, karena ada gempa bumi yang cukup besar, akhirnya atapnya ambruk dan tidak bisa dipakai lagi,” ucapnya.

Besar harapan Hasan, agar Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten dan provinsi dapat segera membantu pembangunan sejumlah RKB. Soalnya, anak anak dinilai semakin membutuhkan ruangan belajar.

Hal senada disampaikan pula oleh salah seorang guru, Dudi Riyana. Sekolah itu diketahui hanya memiliki tiga ruang kelas, tapi para siswa masih harus berbagi karena satu ruangan lagi digunakan sebagai kantor guru.

”Sekolah sebenarnya sudah mengajukan RKB dan rehabilitasi dengan mengajukan proposal. Ditujukan untuk dinas pendidikan kabupaten dan provinsi, cuma belum ada tanggapan sampai sekarang,” kata dia.

Sepi peminat

Selain berdampak bagi 74 siswa yang ada, kondisi buruk sekolah itu akhirnya membuat minat pendaftaran menurun. Banyak orangtua siswa yang enggan menyekolahkan anaknya di sana, karena melihat bangunan tidak layak pakai dan hampir ambruk.

Dibandingkan mengambil risiko untuk menyekolahkan anaknya di SDN Jayamekar, para orangtua pun memilih sekolah lain meskipun lokasinya sedikit lebih jauh.

”Kami mengharapkan, dinas bisa segera datang ke lokasi. Melihat langsung seperti apa sekolah kami ini, kasihan anak-anak yang sudah beberapa hari ini belajar di luar sekolah. Untung saja, sekarang lagi kemarau, kalau musim hujan bisa jadi kami pasang tenda untuk belajar,” ujar Dudi.***

Bagikan: