Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Jalur Peredaran Narkoba dari Cirebon hingga Sukabumi

Shofira Hanan
KEPALA BNN RI Heru Winarko saat diwawancarai awak media, di Gedung Assakinah, Cianjur, Selasa 13 Agustus 2019. BNN pusat fokus mengawasi peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Jabar, karena tingkat kerawanan yang relatif tinggi dalam skala nasional.*/SHORIFA HANAN/PR
KEPALA BNN RI Heru Winarko saat diwawancarai awak media, di Gedung Assakinah, Cianjur, Selasa 13 Agustus 2019. BNN pusat fokus mengawasi peredaran dan penyalahgunaan narkotika di Jabar, karena tingkat kerawanan yang relatif tinggi dalam skala nasional.*/SHORIFA HANAN/PR

CIANJUR, (PR).- Peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Jawa Barat dianggap paling tinggi dalam skala nasional. Penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, saat ini prevalensi peredaran dan penyalahgunaan narkoba berada pada angka 3-5 persen.

Kepala BNN Republik Indonesia, Heru Winarko mengatakan, angka tersebut diketahui merupakan prevalensi pada remaja yang berada di Jabar. Ia mengaku, target yang diincar pengedar sampai saat ini adalah kalangan muda.

“Kondisi yang ada sangat berbahaya. Jangan sampai bonus demografi kita hilang karena narkoba ini,” ujar Heru, usai kegiatan Deklarasi Anti Narkoba di Gedung Assakinah, Selasa 13 Agustus 2019.

Oleh karena itu, BNN pun memfokuskan diri untuk lebih mengawasi wilayah Jabar. Apalagi di Jabar banyak daerah yang berada dekat dengan kota Jakarta, pelabuhan, dan perairan yang memudahkan transportasi laut.

Ia menyebutkan, wilayah seperti penyangga ibukota, Cirebon, hingga Sukabumi perlu diperhatikan karena memiliki jalur masuk narkoba. Maka dari itu, BNN bekerja sama dengan Angkatan Laut dan bea cukai untuk mencegah terjadinya peredaran di lokasi-lokasi vital.

Apalagi, tercatat hingga sekarang jaringan internasional banyak mengedarkan narkotika melalui jalur darat maupun laut. Ia mengatakan, jaringan tersebut banyak mengedarkan sabu dan ganja.

Bersihkan desa

Lebih lanjut dikatakan, Jabar juga perlu diperhatikan karena 20 persen penduduk Indonesia ada di provinsi tersebut. Tidak heran jika Jabar menjadi provinsi terpadat di Indonesia.

Dengan begitu, jika peredaran dan penyalahgunaan narkotika bisa dibersihkan atau diturunkan, maka secara tidak langsung angka skala nasional pun bisa berkurang.

“Setidaknya, bisa dilakukan mulai dari tingkat desa. Supaya nanti kemudian masuk ke perkotaan. Penting sekali untuk membersihkan desa dari narkoba,” ujar dia.

Ia mengatakan, ke depannya akan menjadi sangat penting agar semua masyarakat bahu membahu mencegah peredaran narkoba. Heru mengimbau, agar dilakukan tangkap tangan jika ada kegiatan penyalahgunaan narkoba.

Kemudian, seluruh pihak bisa menyerahkan penyalahguna narkoba tersebut kepada BNN atau kepolisian untuk diproses lebih lanjut. Heru menargetkan, upaya yang dimulai dari desa itu bisa menurunkan prevalensi yang sudah ada sekitar 2 persen.

“Pokoknya kami ingin Jabar bisa dikendalikan,” ucapnya.

Awasi kepala desa

Sementara itu, Plt Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan, pemerintah kabupaten sudah berkomitmen sejak awal agar masyarakat Cianjur bebas narkoba.

“Apalagi, sejak BNNK Cianjur mendapatkan ganja dengan jumlah yang besar di wilayah Pacet. Saya semakin komitmen kalau desa harus bebas dari narkoba,” ujar Herman.

Selain itu, Herman juga mengaku, agar terus memperketat pencegahan terutama di lingkungan pemerintahan. Oleh karena itu, pilkades yang akan berlangsung beberapa waktu ke depan tak luput dari perhatian.

“Semua calon kades akan diperiksa, mereka harus bersih dan terbukti sehat,” kata Herman.***
 

Bagikan: