Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 22.3 ° C

Banjir Lahar Mengancam Warga Tasikmalaya akibat Aktivitas Penambangan Pasir

Bambang Arifianto
BADAN Sungai Cikunir menyempit dan dangkal di kawasan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 12 Agustus 2019. Aktivitas tambang pasir ditengarai merusak alur sungai yang merupakan jalur lahar Gunung Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
BADAN Sungai Cikunir menyempit dan dangkal di kawasan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 12 Agustus 2019. Aktivitas tambang pasir ditengarai merusak alur sungai yang merupakan jalur lahar Gunung Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

PRAKTIK penambangan pasir di kawasan gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya turut berdampak terhadap rusaknya jalur lahar gunung api tersebut. Dua sungai yakni Cikunir dan Cibanjaran yang merupakan tempat penampungan lahar Gunung Galunggung kini menyempit dan dangkal karena aktivitas penambangan.

Tepian sungai yang berada di Desa Linggajati dan Sinagar, Kecamatan Sukaratu tersebut menjadi area tumpukan tanah dan material yang digali di lokasi tambang.

Akibatnya, banjir lahar mengintai warga Sukaratu yang bermukim di bawah kawasan penambangan. Indikasinya sudah terjadi saat banjir karena luapan Sungai Cibanjaran menerjang pemukiman di Kikisik dan sejumlah perkampungan lain di Desa Gunungsari, Rabu 27 Maret 2019.

Derasnya hujan serta bertambahnya debit air sungai ditengarai terjadi karena jebolnya kolam penampungan limbah penambang pasir sehingga banjir terjadi.

Kendati peristiwa itu telah berlalu, Muslim (58), warga Desa Linggajati masih mengingatnya.  Menurut dia, Sungai Cibanjaran sebenarnya memiliki tanggul yang dikenal dengan istilah cek dam yang dibangun setelah Gunung Galunggung meletus pada 1982-1983. Kenyatanya, banjir tetap menerjang Sukaratu beberapa bula lalu.

CEK dam terlihat di tepi Sungai Cibanjaran di perbatasan Desa Sinagar dan Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 12 Agustus 2019. Aktivitas tambang pasir ditengarai merusak alur sungai yang merupakan jalur lahar Gunung Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Cek dam yang berada di area belakang Mapolsek Sukaratu tersebut masih berdiri. Namun, sebagian aliran Sungai Cibanjaran malah mengalir ke sampingnya.

Muslim mengatakan, jebolnya tanggul penampung limbah tambang pasir berdampak terhadap munculnya bencana. Cek dam tak mampu membendung luapan air yang masuk ke permukiman. ‎ Apalagi, tanggul buatan pengusaha tambang di bagian atas cek dam bukanlah tanggul permanen.

"Itu hanya tanggul tanah," kata Muslim saat ditemui di lokasi cek dam, perbatasan Desa Sinagar-Linggajaya, Senin 12 Agustus 2019.

CEK dam terlihat di tepi Sungai Cibanjaran di perbatasan Desa Sinagar dan Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 12 Agustus 2019. Aktivitas tambang pasir ditengarai merusak alur sungai yang merupakan jalur lahar Gunung Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Tanggul merupakan bagian dari kolam yang dibuat pengusaha tambang guna membersihkan pasirnya dan mengendapkan limbahnya di sana. Tempatnya dibuat di tepi sungai sehingga air kolam gampang dibuang juga ke sungai.

Muslim mengatakan, alur sungai sudah berubah sejak penambangan menggerogoti tepi Sungai Cibanjaran dan Cikunir. Dalam ingatannya, lebar kedua sungai itu bisa mencapai 25 meter. Kini lebarnya menciut.

Semua berubah sejak truk pasir berdatangan

Hal senada dikemukakan warga lain di Kampung Cihanjuang, Desa Sinagar yang enggan disebutkan namanya. Pria 60 tahun itu menuturkan, di sejumlah titik Cibanjaran, lebarnya bisa mencapai 10 meter pada masa lalu. "Kalau melintas saja lama," ucapnya.

Sekarang, dia bercerita, lebar sungai tersisa diperkirakan hanya 4 meter. Alur sungai jalur lahar Gunung Galunggung tersebut berubah sejak penambangan mulai menggerogoti kawasan Sukaratu pada 1984.

TANGGUL buatan terlihat di tepi Sungai Cibanjaran, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 12 Agustus 2019. Aktivitas tambang pasir ditengarai merusak alur sungai yang merupakan jalur lahar Gunung Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Badan sungai menjadi sempit dan dangkal. Di Kanan dan kiri sungai terdapat lubang-lubang galian dengan jurang-jurang yang menganga.

Sebagian lahan persawahan yang dulu terhampar di Desa Sinagar telah berubah menjadi ceruk besar tempat lalu lalang truk pengangkut pasir dan alat-alat berat pengeruknya.

Kualitas air ikut terdampak karena menjadi keruh. ‎Padahal, warga Desa Sinagar dulu tak perlu repot saat membutuhkan air bersih. Mereka cukup menciduk air dari kolangnya karena air begitu jernih. Demikian pula dengan air selokan.

Segala yang asri dan damai tersebut hilang setelah aktivitas penambangan masuk 35 tahun lalu. Keruhnya air bahkan masih dirasakan warga yang menggali sumur tak terlalu dalam. Air sumur tetap keruh lantaran diduga berasal dari resapan air yang dihasilkan aktivitas tambang.

Lumpur hilang gelisah datang

T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung turut menyinggung potensi bencana yang terjadi karena rusaknya jalur lahar di sungai-sungai kawasan Gunung Galunggung. Apalagi, aktivitas penambangan berlangsung di lahan pesawahan.

"Sawah yang sudah subur dan ada lumpurnya akan berubah menjadi kondisi tak berlumpur. Lumpur yang subur untuk sawah akan hanyut ke hilir dan mengendap di dasar sungai," ucap T Bachtiar. 

Sungai pun mendangkal serta dikhawatiran tak mampu menampung volume air yang biasa tertampung di sungai. Imbasnya, sungai bakal meluap serta longsor akan terjadi.

"Bila terus digerus secara luas, bila ada hujan, akan memicu longsor di arah hulu, karena ada penyesuaian dasar di suatu kawasan menjadi lebih dalam," ujarnya.

Hal serupa terjadi ketika lahar Gunung Galunggung masuk ke sungai.‎ "Volume air tetap, misalnya, tetapi dasar sungai mendangkal, air tak terwadahi lagi dan meluap," ujarnya.***

Bagikan: