Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Kebakaran di Gunung Ciremai Meluas, Helikopter Tak Bisa Jangkau Titik Api

Tim Pikiran Rakyat
PETUGAS gabungan melakukan pemadaman kebakaran di Gunung Ciremai, Kuningan secara manual, Senin 12 Agustus 2019 karena helikopter tak mampu mencapai titik api.*/NURYAMAN/PR
PETUGAS gabungan melakukan pemadaman kebakaran di Gunung Ciremai, Kuningan secara manual, Senin 12 Agustus 2019 karena helikopter tak mampu mencapai titik api.*/NURYAMAN/PR

KUNINGAN, (PR).- Dua helikopter Bell 412 yang didatangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk membantu menangani amukan api yang membakar lereng puncak Gunung Ciremai dengan pengeboman air (water bombing), selama dua hari terakhir tidak bisa melakukan operasi tersebut.

Alhasil, operasi pemadaman kebakaran di lereng Gunung Ciremai hingga hari keenam, Senin 12 Agustus 2019 baru mengandalkan kerja keras personel pemadam dengan cara-cara manual langsung di titik-titik sebaran api.

Satu helikopter dengan kode panggil PK-DAR disiagakan di Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kuningan untuk operasi tersebut. Pada Senin pagi sekira pukul 6.50, helikopter itu sempat diterbangkan untuk melakukan pemadaman. Namun, belasan menit kemudian helikopter turun kembali ke landasannya tanpa melakukan pengeboman air.

Hal serupa, menurut Priyana, Kapten Pilot heli PK-DAR, juga sempat sempat teerjadi pada satu helikopter lainnya yang diposisikan di Bandara Pengggung, Cirebon untuk operasi yang sama.

PETUGAS gabungan melakukan pemadaman kebakaran di Gunung Ciremai, Kuningan secara manual, Senin 12 Agustus 2019 karena helikopter tak mampu mencapai titik api.*/NURYAMAN/PR

Priyana menyatakan, pengeboman air dengan dua helikopter itu, sepanjang Minggu hingga Senin tidak bisa dilakukan. Kondisi cuaca di seputar lereng Gunung Ciremai tidak mendukung, sulit ditembus, dan berisiko membahayakan penerbangan helokopter jenis tersebut.

“Tadi kami mau membawa water bombing, tetapi ketika mencapai ketinggian 5.000 kaki dan mau naik ke 6.000 kaki saja, kecepatan angin di ketinggian itu sudah mencapai 40 hingga 45 knot sehingga membuat pesawat ini pontang-panting. Untuk naik ke posisi 9.000 kaki, kami lebih baik mengutakaman safety (keamanan) dengan turun kembali karena pesawat tidak stabil terempas angin kencang,” ujarnya.

Kecepatan angin yang aman untuk penerbangan dan pengeboman air menggunakan helikopter sekelas Bell 412 tidak boleh sampai melebihi 15 knot.

Selain angin kencang, tuturnya, di ketinggian antara 5.000 hingga 7.000 kaki di seputar lereng Gunung Ciremai diliputi kabut dan awan tebal.

“Di atasnya (di atas 7.000 kaki ) cerah. Hanya, mau masuk menembus awan susah. Tidak boleh masuk awan karena kalau memakasakan bisa mengalami vertigo,” ujar Priyana.

Sudah lebih dari 2/3 keliling lereng

Kebakaran lahan di lereng puncak Gunung Ciremai yang terjadi sejak Rabu 7 Agustus 2019 masih terus meluas. Berdasarkan keterangan personel tim pemadam dalam kendali BPBD Kuningan serta pantauan petugas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, area terbakar sudah melampaui 2/3 keliling lereng puncak di ketinggian antara 2.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut.

Kondisi medan pada area yang sudah terbakar maupun yang masih tersisa di lereng gunung tersebut sangat sulit ditembus. Oleh karena itu, pemadaman langsung dengan cara manual di titik-titik sebaran api jauh dari jalur pendakian, terbatas hanya dilakukan orang-orang yang sudah berpengalaman.'

Di bagian Majalengka

Di Gunung Ciremai yang masuk wilayah administratif Majalengka, kebakaran sudah mencapai sekira 379 hektare, bahkan kini muncul titik api baru.

Kepala Pelaksana BPBD Majalengka Agus Permana, Senin 12 Agustus 2019 mengatakan, kini terdapat titik api baru di jalur Sadarehe di daerah Buyut Ketub sampai Batu Pangsujudan yang mengarah ke puncak Gunung Ciremai.

“Pembuatan sekat bakar sudah tidak efektif akibat kepulan asap tebal yang menghambat pergerakan tim serta adanya jurang Cilongkrang dan jurang Ciwaringin yang sulit dilalui. Kondisi fisik tim juga sudah mulai menurun,” ujar Agus.

Menurut dia, water boombing sudah 3 kali dilakukan dengan menumpahkan 3.000 liter air. Air ditumpahkan di Goa Walet sekali dan Sangiang rangkah 2 kali. Air diambil dari Situ Cikuda di Kecamatan Sindangwangi, Majalengka. (Nuryaman, Tati Purnawati)***

Bagikan: