Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Diduga Disiksa Majikan, PMI Asal Cianjur Hilang Kontak Belasan Tahun di Arab Saudi

Shofira Hanan
KELUARGA menunjukan foto Alis Juariah (46) yang sudah hilang kontak selama 21 tahun, di Kecamatan Haurwangi, Cianjur, Sabtu, 11 Agustus 2019. Negara dinilai perlu turun tangan untuk membantu kepulangan PMI yang bekerja di Riyadh sejak 1998 itu.*/SHOFIRA HANAN/PR
KELUARGA menunjukan foto Alis Juariah (46) yang sudah hilang kontak selama 21 tahun, di Kecamatan Haurwangi, Cianjur, Sabtu, 11 Agustus 2019. Negara dinilai perlu turun tangan untuk membantu kepulangan PMI yang bekerja di Riyadh sejak 1998 itu.*/SHOFIRA HANAN/PR

SUDAH 21 tahun lamanya, Alis Juariah (46) bekerja, tapi tak kunjung kembali dari Riyadh, Arab Saudi. Keluarga pekerja migran indonesia (PMI) asal Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur itu hilang kontak dengan Alis yang saat ini tidak jelas keberadaannya.

Berbagai cara sudah dilakukan oleh keluarga Alis. Adik kandungnya, Didik, bahkan sudah menghabiskan harta benda yang dimiliki demi bisa memulangkan kakaknya kembali ke kampung halaman. Akan tetapi, keadaan berkata lain, karena sampai saat ini Alis belum juga kembali.

”Awalnya masih ada kontak, ada surat tiga kali dikirim kakak saya ke sini. Setelah dua tahun (bekerja), tidak ada kontak sama sekali. Sampai di tahun ke lima kami mendapat surat yang isinya kurang enak, kakak saya mengaku disiksa oleh majikan,” ujar Didik ketika ditemui Pikiran Rakyat, Sabtu, 11 Agustus 2019.

Di dalam surat itu, Alis mengaku disiksa dan dikurung di kamar mandi selama sepekan. Kuat dugaan, ibu satu anak itu terpaksa makan, minum, hingga salat di tempat yang sama selama disiksa.

Didik segera bertindak usai mendapat surat tersebut, dengan pergi ke Jakarta untuk memproses pengaduan PMI bermasalah. Ia juga berusaha menghubungi KBRI Riyadh untuk meminta bantuan.

”Beberapa bulan kemudian ada kabar, tapi keluarga tidak dengar langsung (suara Alis). Cuma membaca fax yang isinya bilang, Alis Juariah belum ingin kembali,” kata dia.

Keluarga pun bisa bernafas lega, hingga akhirnya kembali datang surat dari Alis dua tahun kemudian. Melalui surat itu, Alis mengaku sudah tidak kuat karena terus disiksa bahkan hingga mendapat 20 jahitan, usai tangannya ditusuk menggunakan pisau.

Menurut Didik, surat dari Alis datang lagi beberapa tahun kemudian. Lagi-lagi, ia menyatakan sudah tidak sanggup berada di Riyadh dan berharap bisa dipulangkan ke Tanah Air.

”Tapi, kami bingung mau bergerak kemana. Kami ingin keadilan, karena pihak PT yang memberangkatkan kakak saya juga seolah cuci tangan. Ketika saya melaporkan kondisi kakak saya, keluarga malah ditegur karena Alis tidak pulang setelah bekerja selama dua tahun di sana,” ujar dia.

Pihak keluarga pun memohon kepada Presiden RI, agar kasus Alis dapat diperhatikan dan dibantu secepat mungkin. Pasalnya, meski sudah mengupayakan berbagai cara, keluarga tak kunjung mendapat kejelasan.

Mengumpulkan informasi

Sementara itu, Ketua DPC Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Raya (Astakira) Pembaharuan Cianjur, Ali Hildan mengatakan, tim sudah bergerak untuk mengumpulkan informasi terkait Alis Juariah. Bahkan, asosiasi sudah mencoba menghubungi kontak majikan Alis di Riyadh, tapi niat untuk bisa berbicara langsung dengan PMI tersebut tidak berhasil.

”Kami langsung berkoordinasi dengan instansi terkait, terutama BNP2TKI, Disnakertrans, KBRI, Kemenlu, dan PWNI. Pada kasus ini, negara harus hadir karena PMI tidak kembali sudah 21 tahun lamanya,” ucapnya.

Ali menilai, kasus ini pun harus direspons dengan cepat. Pemerintah juga dinilai memiliki kewenangan untuk bisa memulangkan Alis yang diberangkatkan pada 1998 lalu.

Ia mengharapkan, proses penanganan bisa dipercepat agar keberadaan PMI tersebut bisa diketahui dan keluarga pun mendapat kejelasan. Selain itu, Ali juga meminta supaya pemenuhan hak Alis terjamin.***

Bagikan: