Pikiran Rakyat
USD Jual 14.007,00 Beli 14.105,00 | Umumnya cerah, 25.8 ° C

Cadangan Pangan Beras Kota Bogor Hanya Tujuh Ton per Tahun, Dianggap Cukup

Windiyati Retno Sumardiyani
Ilustrasi/ANTARA FOTO
Ilustrasi/ANTARA FOTO

BOGOR, (PR).- Pemerintah Kota Bogor hanya menyediakan cadangan pangan beras sebanyak tujuh ton pertahun.  Dinas Ketahanan Pangan Kota Bogor menyebutkan, idealnya cadangan pangan beras di Kota Bogor mencapai 80 ton pertahun.

Angka 80 ton beras didasarkan pada  acuan perhitungan  Peraturan  Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 11/Permentan/KN.130/1/2018 tentang  penetapan jumlah cadangan beras pemerintah daerah. Pada pasal 3 disebutkan, perhitungan jumlah cadangan beras pemerintah kota/kabupaten didasarkan pada kriteria jumlah penduduk, konsumsi beras per kapita per tahun, dan proporsi terhadap cadangan beras nasional.

“Idealnya memang harus punya 80 ton. Karena duitnya belum ada, ya, bertahap dulu,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Bogor, Ghozali, di Balai Kota Bogor, Senin, 12 Agustus 2019.

Ghozali menuturkan, meskipun belum ideal, cadangan beras Pemkot Bogor tidak selalu terserap setiap tahunnya. Beras tersebut dapat diserap apabila Wali kota Bogor menginstruksikan untuk mengintervensi keadaan luar biasa, seperti kerawanan pangan akibat bencana atau harga beras yang melonjak tinggi.

“Khusus tahun lalu terserap habis, karena memang ada kejadian bencana, terserapnya di akhir tahun. Mudah-mudahan tahun ini tidak habis, jadi tahun depan beli lagi,” katanya.

Menurut Ghozali, cadangan beras Kota Bogor disimpan di gudang Bulog. Pemkot Bogor melakukan perjanjian kerja sama dengan Bulog sehingga Kota Bogor memiliki cadangan beras sebanyak tujuh ton. Namun, jumlah cadangan beras tersebut bisa saja menyusut karena saat diambil harganya disesuaikan dengan harga terkini.

“Jadi disesuaikan harganya. Jadi bisa saja saat harga beras tinggi, cadangan yang disimpan di Bulog menyusut,” ucapnya.

SEBANYAK 500 ton beras di gudang penyimpanan Subdivre Banyumas, Jawa Tengah, diserang kutu beras.*/EVIYANTI/PR

Cadangan tahun ini belum terserap

Terkait potensi kerawanan pangan di Kota Bogor, Ghozali menuturkan, masih ada wilayah di Kota Bogor yang terancam rawan pangan. Ia enggan menyebut secara spesifik, namun kawasan rawan pangan itu dikatakannya belum tahap kritis.

“Ada kawasan rawan pangan, semisal yang ada bayi stunting. Tetapi cadangan pangan itu tidak bisa sembarangan dikeluarkan, harus tunggu intruksi wali kota. Ke depan sih obsesinya kita punya lumbung pangan, ini untuk mengantisipasi warga yang kesusahan. Jangan sampai warga enggak bisa makan sehari dua kali,” katanya.

Hingga Agustus 2019, Ghozali menyebutkan, cadangan beras Kota Bogor belum sama sekali terserap. Hal tersebut terjadi karena belum ada kondisi gawat darurat yang membuat Pemerintah Kota Bogor mengeluarkan cadangan pangan.

“Kalau masalah paceklik pangan mungkin ada, tetapi untuk beras masih aman. Justru paceklik itu di komoditas lain, seperti cabai itu harganya luar biasa. Kemarin kita intervensi dengan melaksanakan operasi pasar cabai,” ujarnya.

Disinggung terkait usulan anggaran cadangan pangan 2020,  Ghozali mengatakan bahwa usulan tersebut tidak banyak mengalami kenaikan. Kenaikan hanya berkisar 1-2 ton beras per tahun.

“Doanya  mudah-mudahan tidak banyak terserap, jadi cadangan kita semakin banyak,” ucapnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya, mengatakan, cadangan pangan sebanyak tujuh ton sudah cukup untuk Kota Bogor. Bima menyebutkan bahwa selama ini tidak ada wilayah di Kota Bogor yang rawan pangan.

“Selama ini kita tercukupi saja tuh, enggak ada masalah, enggak pernah ada yang kelaparan. Yang harus diperhatikan lebih kepada diversifikasi pangan. Kita justru menilai banyak makanan yang lebih banyak mudaratnya, seperti terigu itu. Harus ada substitusi pangan pengganti terigu,” kata Bima.***

Bagikan: