Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Praktik Aborsi di Bekasi Terbongkar, Pasien Ungkap Tarifnya

Yusuf Wijanarko
Aborsi/DOK. PR
Aborsi/DOK. PR

CIKARANG, (PR).- Petugas Kepolisian Sektor Tambun, Kabupaten Bekasi membongkar kasus dugaan praktik aborsi di Klinik Aditama Dua, Minggu 11 Agustus 2019. Klinik tersebut berada di Kampung Siluman, Desa Mangun Jaya, Kecamatan Tambun Selatan.

Kapolsek Tambun Kompol Rahmat Sujatmiko mengatakan, pengungkapan kasus berawal dari informasi yang didapat petugas dari masyarakat. Petugas mengamankan empat orang termasuk seorang perempuan berinisial HM yang baru saja melakukan aborsi.

Pelaku aborsi HM (25) adalah warga Kampung Baru, Desa Tanjung Baru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Sementara tiga orang lainnya yakni HF merupakan pemilik Klinik Aditama Dua, bidan berinisial MPN, dan teman dekat HM yang berinisial WS yang mengantarkannya ke klinik tersebut.

Saat petugas menggeledah klinik, HM diduga baru menjalani aborsi. Selain mengamankan para pelaku, petugas juga menyita alat-alat yang digunakan dalam praktik di klinik tersebut sebagai barang bukti.

"Saat kami melakukan penggeledahan, pemilik klinik sedang atau selesai melakukan tindakan aborsi atau mengeluarkan janin. Kami juga menemukan pelaku aborsi sedang dalam proses pemulihan di kamar dan ada tenaga medis yang ikut membantu," kata Rahmat Sujatmiko kepada Antara.

Polisi kemudian memeriksa para tersangka dan kelengkapan dokumen terkait izin praktik klinik dan petugas medis. Setelah melakukan pemeriksaan dan penyidikan, pemilik klinik dan petugas medis diketahui bukan orang yang berkompeten melakukan tindakan aborsi.

"Setelah kami lakukan penyidikan, tenaga medis itu bukan seorang dokter spesialis yang bisa melakukan tindakan medis tersebut," katanya.

Saat ini, kepolisian masih mendalami peran masing-masing tersangka yang diamankan sekaligus melakukan pengembangan kasus untuk mengetahui apakah masih ada praktik aborsi lain yang dilakukan di klinik itu sebelumnya, begitu juga mengenai pembuangan limbah medis klinik itu.

Pengakuan pasien soal biaya

Menurut pengakuan HM, dia melakukan aborsi karena merasa malu sudah hamil enam minggu dari hasil hubungan gelap dengan kekasihnya. Sementara pacarnya menolak bertanggung jawab atas kehamilannya.

Setelah mendapat informasi ada salah satu klinik yang bisa melakukan aborsi, HM mendatangi klinik tersebut dengan diantar teman dekatnya. Untuk menjalani aborsi, dia mengeluarkan uang sebesar Rp 5.500.000.

"Saya tahu keberadaan dan informasi mengenai klinik ini dari teman saya," kata HM.

Pemilik Klinik Aditama Dua, HF mengatakan bahwa dia baru kali ini menangani tindakan aborsi. Sementara kliniknya sudah berdiri hampir tiga tahun.

"Baru kali ini kami menangani aborsi, itu juga karena menolong, karena katanya sudah perdarahan," katanya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, keempat pelaku dikenakan Pasal 83 Juncto Pasal 64 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan atau Pasal 194 Juncto Pasal 75 ayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman lima tahun penjara. Sementara pelaku aborsi, HM, dikenakan Pasal 348 KUHP dan Pasal 346 KUHP dengan ancaman empat tahun penjara.***

Bagikan: