Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Ongkos Ojol Naik Drastis, Warga Pilih Kembali Naik Angkot

Tim Pikiran Rakyat
null
null

GARUT, (PR).- Mulai Jumat 9 Agustus 2019, pemerintah pusat memberlakukan tarif ojek online (ojol) yang merupakan hasil penyesuaian. Hal ini sangat berdampak bagi masyarakat akibat tarif yang kini diberlakukan mengalmai kenaikan cukup signifikan dibanding tarif sebelumnya.

Pantauan di lapangan, kenaikan tarif ojol terbilang tinggi bahkan ada yang sampai mencapai 300 persen. Ini tentu dianggap sangat memberatkan warga sehingga mereka pun kini kembali memilih jasa angkutan kota (angkot) sebagai sarana transportasi.

Tak sedikit pula warga yang mengeluhkan terjadinya kenaikan tarif ojol yang cukup tinggi ini. Mereka pun meminta pemerintah agar meninjau ulang penerapan tarif ojol yang dianggap tak wajar ini.

"Kaget juga ketika tadi saya pesan ojol saat mau pergi ke sekolah. Biasanya dari rumah sampai sekolah itu tarifnya hanya Rp 8 ribu atau Rp 10 ribu, tapi tadi naik jadi Rp 14 ribu," ujar Dewi Faiza, siswi kelas 1 SMKN 1 Garut.

Warga perumahan Greenview, Kecamatan Karangpawitan ini mengaku sangat keberatan dengan terjadinya kenaikan tarif ojol yang begitu tinggi. Dengan tarif ojol sebesar itu, berarti ia harus mengeluarkan uang transport hingga Rp 28 ribu setiap harinya, belum termasuk uang jajan.     

Jika tarif ini terus berlaku tutur Dewi, maka ia pun terpaksa akan memilih menggunakan jasa angkot untuk pergi dan pulang ke sekolah. Meski dirasa agak ribet karena harus beberapa kali naik turun, akan tetapi biayanya masih lebih rendah ketimbang tarif ojol.

"Kalau harus naik ojol, jatah uang jajan saya habis untuk ongkos semua. Makanya lebih baik naik angkot saja meski agak ribet," katanya. 

Tidak wajar

Keluhan senada dilontarkan Heru (52), warga Desa Tarogong. Menurutnya, kenaikan tarif ojol memang merupakan hal yang sangat wajar untuk penyesuaian sebagaimana alasan pemerintah. Namun jika kenaikannya seperti yang terjadi sekarang ini, tentu sangat tak wajar dan meberatkan pelanggan ojol.

"Ya kalau naik dari Rp 5 ribu menjadi Rp 7 ribu atau Rp 8 ribu masih wajar lah. Tapi kalau dari Rp 5 ribu jadi Rp 10 ribu bahkan Rp 13 ribu, itu sangat keterlaluan," komentar Heru.

Menurut ayah dari dua anak ini, saat ini ojol sudah menjadi sarana transportasi alternatif yang banyak dipilih warga. Selain tak ribet karena bisa langsung dipesan dari rumah, tarof ojol juga dinilai terjangkau oleh masyarakat kecil. 

Seharusnya tutur Heru, hal itu menjadi pertimbangan pmerintah dalam menentukan kenaikan tarif ojol. Jangan sampai kebijakan yang dikeluarkan pmerintah hanya akan menambah beban bagi masyarakat.

"Belum lagi bagi para driver ojolnya yang tentu juga terdampak dengan adanya kebijakan ini. Akan banyak masyarakat yang beralih ke angkot sehingga pendapatan driver ojol akan mengalami penurunan," ucap Heru kepada wartawan Kabar Priangan, Aep Hendy.     

Baik Dewi maupun Heru meminta pemerintah meninaju ulang kebijakan terkait pemberlakuan tarif ojol yang disebut-sebut hasil penyesuaian tersebut. Akan sangat banyak yang terkena dampak negatif dari dipaksakannya kebijakan tersebut.***

Bagikan: