Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Pencemaran Rugikan Nelayan

Tommi Andryandy
BANGKAI ikan  di area pantai yang terkena tumpahan minyak.*/ DODO RIHANTO/PR
BANGKAI ikan di area pantai yang terkena tumpahan minyak.*/ DODO RIHANTO/PR

DEDE (32) menunjukkan bangkai ubur-ubur seberat sekitar lima kilogram yang terdampar di Pantai Muarabungin Desa Pantai Bakti Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi. Pria yang mengenakan sweater merah itu menyebut, ubur-ubur itu menjadi satu di antara biota laut lain yang ditemukan mati sejak dua pekan terakhir.

“Ya ini begini, ngedampar, mati. Di titik lain banyak lagi. Apalagi pas awal-awal, banyak yang mati,” kata dia saat ditemui “PR”, Kamis 8 Agustus 2019, atau 19 hari sejak kebocoran minyak Pertamina mencemari perairan Karawang hingga Bekasi.

Berdasarkan pantauan “PR”, meski nyaris sebulan berlalu, dampak kebocoran lingkungan itu masih terlihat. Selain ubur-ubur yang ditunjukkan Dede, ditemukan pula sejumlah ikan mati di bibir pantai Muarabungin. Lokasi ini menjadi satu dari dua desa di Muaragembong yang tercemar.

Bercak-bercak minyak mentah masih terlihat di beberapa titik. Mencemari air laut, pasir hingga menyangkut di perangkap ikan milik nelayan maupun di mesin baling-baling. Bercak itu tidak bisa dihindarkan kendati setiap dua kali sehari petugas Pertamina dibantu warga serta tentara dan polisi air membersihkan pantai.

Menurut salah seorang petugas, pembersihan dilakukan pada pagi dan sore hari di saat matahari tidak begitu terik. Soalnya, minyak kerap terserap, menyatu dengan pasir jika panas matahari tengah terik.

Pembersihan pun sulit dilakukan

Dari pantauan “PR”, hal tersebut benar terjadi. Saat matahari mencapai puncaknya, minyak mentah tersebut sudah menyatu dengan pasir. Alhasil di sepanjang bibir pantai, pasir pun berwarna lebih gelap karena tercampur minyak.

Sementara itu, Sardi (43), warga yang bertugas mengangkut sampah mengaku, sedikitnya 80 karung sampah diangkut di satu titik. Karung beras berukuran 25 kilogram itu berisi pasir yang tercemar minyak mentah. Sardi beserta satu rekannya bertugas khusus di Muarabungin. Di lokasi ini terdapat dua titik pengumpulan sampah. “Ada dua titik, ngangkutnya pagi sama sore. Dua kali sehari,” kata dia.

Sampah yang diangkut dari bibir pantai itu dibawa menggunakan kendaraan terbuka lalu untuk dikumpulkan di salah satu rumah warga. “Nanti ada yang ngambil pakai mobil gede sama Pertamina,” ucap dia.

Libur melaut

Sarian (40), mengaku baru kali kedua kembali melaut setelah lebih dari dua pekan memarkirkan perahunya di dermaga kecil, Kamis 8 Agustus 2019, tepat di depan rumahnya. Warga Kampung Muarabungin Desa Pantai Bakti terpaksa libur melaut karena jalurnya menangkap ikan tercemar tumpahan minyak.

Seperti nelayan lainnya, Sarian mengaku tidak berani melaut saat minyak itu mencemari. Dia khawatir minyak merusak mesin perahunya saat melaut. “Perginya bisa, nanti saat pulangnya bingung takut mesin rusak, soalnya itu minyaknya banyak. Terus belum tentu juga dapat ikannya,” kata Sarian.

Biasanya, Sarian mengaku dapat memeroleh ikan minimal 30 kilogram sekali melaut. Jenis ikan yang didapat pun relatif memiliki harga jual tinggi seperti ikan layur yang dihargai Rp 22.000 per kilogram atau ikan kembung diterima dengan harga Rp 13.000 per kilogram. Untuk itu, dalam sekali melaut dia bisa mendapatkan Rp 500.000 dari hasil penjualan.

Namun, sayangnya, kini dia hanya memeroleh 10 kilogram atau bahkan kurang. “Pas pertama itu dapat 10 kilogram, terus tadi 7 kilogram. Ya karena susah ikannya,” ucap dia.

Laut yang telah tercemar itu membuat ikan menjauh. Meski mencoba mencari ikan di lokasi yang lebih jauh, hasil tangkapan yang diperoleh tidak maksimal. Ikan yang didapat pun lebih banyak untuk diolah jadi ikan asin daripada ikan segar.

Camat Muaragembong, Junaefi mengatakan, Pertamina telah menjalankan komitmennya untuk membersihkan minyak yang mencemari pantai. Namun, dia berharap, komitmen itu diperpanjang dengan mengembalikan ekosistem laut. Soalnya, akibat pencemaran itu, warga sekitar merugi.

Menurut dia, pencemaran terjadi di sepanjang garis pantai di Muaragembong yakni 12 kilometer. Alhasil, pencemaran itu pun berdampak pada 1.070 nelayan dan 1.000 petambak. “Ini yang jadi pertimbangan, membersihkan mah gampang tapi setelahnya bagaimana. Hasil dibersihkan dan dikembalikan kondisi lingkungannya,” ucap dia.

Untuk petambak, kata Junaefi, pencemaran terjadi usai mereka panen. Kini, akibatnya, mereka tidak bisa mulai menambak. Soalnya, rata-rata penambak memanfaatkan air laut untuk mengairi tambaknya.

“Nah sekarang penambak enggak berani soalnya kan kalau mulai menambak, airnya bercampur minyak. Ini jadi persoalan selain para nelayan yang tangkapan ikannya merosot. Kemarin hal ini sudah jadi pertimbangan KLHK juga namun realisasinya kami harapkan dapat segera dilakukan,” ucap dia.***

Bagikan: