Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 24.6 ° C

Status Gunung Galunggung Normal, Warga Tasikmalaya Diimbau Tetap Waspada

Bambang Arifianto
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

SINGAPARNA, (PR).- Meskipun Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsi dan gempa yang berpusat di Banten terjadi belum lama ini, Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya masih berstatus normal. Walau demikian, masyarakat tetap mesti berhati-hati lantaran bencana alam akibat aktivitas gunung berapi  tak bisa diprediksi.

"Galunggung masih di status normal, kegempaannya masih didominasi tektonik jauh," kata ‎ Petugas Pengamat Gunung Api Galunggung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  Yudi Juhara saat ditemui di pos pengamatan Gunung Galunggung, Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Senin, 5 Agustus 2019.

Gempa tektonik terjadi bukan karena aktivitas dapur magma Galunggung dengan sumbernya berasal dari luar gunung tersebut, seperti di Pangandaran dan Banten beberapa waktu lalu.  Demikian pula dengan erupsi Tangkuban Parahu. Menurut dia, erupsi itu tidak memicu hal serupa di Galunggung. "Masing-masing gunung punya dapur magma sendiri," ujarnya.

Walau begitu, masyarakat harus tetap berhati-hati karena bencana alam akibat aktvitas vulkanik gunung berapi tak bisa diramalkan. Para peneliti, lanjut Yudi, menyebut Galunggung punya siklus letusan 30-60 tahunan. "Tetapi kita tidak tahu, namanya alam," tuturnya.

Gempa vulkanik dalam sempat tercatat dan terekam petugas pos pengamatan Galunggung pada 1 Agustus 2019. Gempa tersebut terjadi satu kali serta bersumber dari aktivitas magma Galunggung "Amplitudo 2,03 lama gempanya 13,57 detik," ucap Yudi terkait kekuatan gempa.

Kendati tak menjadi indikasi bahaya, petugas melarang pengunjung turun ke danau kawah. Pengunjung hanya diperbolehkan naik hingga bibir kawah.

"Masih riskan dengan longsor di bagian tebing barat daya," ujar Yudi mengenai musabab larangan tersebut. Selain itu, pengunjung ditakutkan menghirup gas-gas yang berbahaya jika berada di area danau kawah.

Informasi mengenai kondisi Galunggung pun rutin disampaikan kepada aparat kecamatan, Polsek dan BPBD.

PETUGAS mengamati seismograf di Pos Pengamatan Gunung Api Galunggung, Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Senin, 5 Agustus 2019. Kendati berstatus normal, masyarakat tetap mesti berhati-hati dengan aktivitas vulkanik Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Hoaks

Sebelumnya, informasi hoaks mengenai air yang keluar dari danau kawah Galunggung sempat mengemuka dan cukup menimbulkan kekhawatiran warga.

Informasi beredar melalu video di media sosial tersebut tanpa menyertakan atau meminta keterangan dari petugas pos pemantauan. Padahal, lanjut Yudi, air itu berasal dari puncak-puncak Galunggung yang turun ke danau kawah bukan keluar dari lokasi tersebut. Hal itu lazim terjadi saat musim hujan. 

Yudi menambahkan, dapur magma Galunggung sempat tercatat menggeliat pada 2012. Saat itu, ada peningkatan kegempaan vulkanik diikuti perubahan warna danau dari hijau muda menjadi hijau tua. Gelembung gas pun keluar disertai peningkatan suhu air danau. 

Menyadari potensi bencana, petugas pos pengamatan juga terus melakukkan pengecekan kondisi gunung yang terakhir meletus pada 1982-1983 tersebut secara berkala. Pengecekan dilakukan guna memantau suhu air danau, mata air Cipanas serta alat sensor yang dtempatkan di sana.

Tak berpengaruh

Sementara itu, peneliti geologi asal Tasikmalaya Irev Jundulloh menyatakan, gempa dan erupsi Tangkuban Parahu tak mempengaruhi Galunggung. "Letusan gunung api terjadi ketika magma naik ke permukaan dari dapur magmanya. Setiap gunung api di Jawa memiliki dapur magma masing-masing dan tidak terhubung, jadi tidak akan berpengaruh," ucapnya. 

T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung berpendapat gempa bumi bisa saja mempengaruhi akivitas vulkanik Galunggung jika terjadi di kawasan gunung dengan kekuatan tinggi. "Kalau ada lini/gempa bumi di selatan Tasikmalaya dan sekitarnya dapat saja memicu aktivitas Gunung Galunggung," ujarnya.

Kendati demikian, ada atau tidaknya dampak atau pengaruh tersebut hanya dapat terlihat dari perekaman dan pencatatan seismograf di pos pengamatan. Bachtiar menambahkan, perlunya sosialisasi mitigasi gunung api.

"Apa yang harus dilakukan di daerah yang mungkin tersapu lahar. Apa yang harus dilakukan bila hanya terkena hujan abu lebat. Apa yang harus dilakukan di daerah dalam radius 3 sampai dengan 5 kilometer," tuturnya.***

Bagikan: