Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

Dari kebutuhan Ideal 30 Alat, Hanya Dua Alat Deteksi Dini Gempa dan Tsunami yang Berfungsi di Kabupaten Pangandaran

Tim Pikiran Rakyat
PROFESOR Yoshiyuki Kaneda, seorang peneliti dari Universitas Kagawa Jepang didampingi petugas BNPB Pusat dan BPBD Provinsi Jawa Barat dan BPBD Kab Pangandaran tengah berbagi pengalaman tentang mitigasi bencana tsunami bersama para perangkat desa dan Muspika se-Kecamatan Cimerak, di lapangan pacuan kuda Desa Legokjawa, Minggu, 4 Agustus 2019.*/AGUS KUSNADI/KP
PROFESOR Yoshiyuki Kaneda, seorang peneliti dari Universitas Kagawa Jepang didampingi petugas BNPB Pusat dan BPBD Provinsi Jawa Barat dan BPBD Kab Pangandaran tengah berbagi pengalaman tentang mitigasi bencana tsunami bersama para perangkat desa dan Muspika se-Kecamatan Cimerak, di lapangan pacuan kuda Desa Legokjawa, Minggu, 4 Agustus 2019.*/AGUS KUSNADI/KP

PANGANDARAN, (PR).- Perairan selatan Pulau Jawa, termasuk pantai di Kabupaten Pangandaran, merupakan daerah rawan gempa dan tsunami karena berada di antara lempengan Indo-Australia yang memiliki potensi megathrust. Namun, dari 14 alat pendeteksi dini atau early warning system (EWS), hanya dua yang masih berfungsi.

Area pantai di Kabupaten Pangandaran mencapai 91 kilometer. Di area itu, ada 30.000 penduduk yang bermukim di sepanjang pantai.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kab. Pangandaran, Nana Ruhena, dua alat EWS yang masih berfungsi adalah yang berlokasi di Plaza Telkom Jalan Kidang Pananjung dan di perumahan nelayan di Bojongsalawe Parigi. Sedangkan, 12 EWS lainnya dalam kedaan rusak.

"Satu EWS bisa menjangkau hingga dua kilometer," ujar Nana saat ditemui di hari ke tiga Ekpedisi Destana Tsunami di Desa Legokjawa Cimerak, Kab. Pangandaran, Minggu, 4 Agustus 2019, seperti dilaporkan Agus Kusnadi dari Kabar Priangan.

Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemetaan sepanjang pantai di Pangandaran. Bila dihitung berdasarkan panjangnya dan hunian penduduk, maka seharusnya di Pangandaran terpasang sebanyak 30 EWS. Kekurangan 28 EWS pun sedang diajukan ke pemerintah pusat.

Di tempat yang sama, staf observasi gempa bumi dan tsunami stasiun Geofisika BMKG Bandung, Rafdi Ahadi Triputra, mengatakan, BMKG juga sedang berproses untuk menambah EWS untuk mewaspadai bencana di laut selatan Jawa. Namun, kebijakan itu sepenuhnya ada di pemerintah pusat.

Menurut Rafdi, berdasarkan penelitian, gempa yang terjadi di pantai selatan Jawa Barat merupakan gempa dangkal. Karena itu, apabila terjadi gempa, masyarakat dianjurkan jangan panik dan mencari tempat yang aman. Masyarakat bisa berlindung di bawah meja, namun harus meja yang kokoh.

"Karena seperti pengalaman gempa di Banten kemarin, ada empat orang yang meninggal akibat panik sehingga ketika ada gempa langsung panik dan terjatuh. Dianjurkan juga jangan masuk ketika bangunan rumah sudah retak-retak," ujarnya. Karena itulah, Rafdi, sosialisasi tentang mitigasi bencana sangat penting untuk disampaikan kepada masyarakat untuk menyiapkan langkah evakuasi mandiri.

Belajar mitigasi dari penduduk Jepang

Tsunami/DOK. PR

Pada pemaparan Tim Ekpedisi Destana Tsunami yang dihadiri para perangkat desa dan aparat se-Kecamatan Cimerak, Prof Yoshiyuki Kaneda menceritakan pengalaman bencana tsunami yang disebabkan gempa bumi di Ansei-Nankai, Jepang, tahun 1854. Peneliti dari Universitas Kagawa Jepang itu mengatakan, saat tsunami menerjang sebuah kampung kecil di Peninsula Kii (Hirokawa), sebelah barat Jepang, seorang kepala kampung berhasil menyelamatkan seluruh warganya.

Caranya, menurut dia, terbilang unik. Si kepala kampung rela membakar lumbung padi miliknya yang berada di atas bukit atau membuat Inamura No Hi (api dari tumpukan padi). Begitu melihat lumbung terbakar, maka warga naik ke bukit untuk membantu memadamkan api. 

"Mereka (warga) tidak tahu kalau tsunami mau menerjang kampungnya, dengan niat membantu memadamkan api yang berada di atas bukit. Tanpa disadari, mereka telah terselamatkan dengan sendirinya dari gelombang tsunami yang datang beberapa saat kemudian meluluh lantakkan pemukiman di kampung Hirokawa," ujarnya. Yoshiyuki menyatakan, ia menilai bahwa komunitas di Hirokawa tidak jauh beda dengan komunitas di Desa Legokjawa Cimerak. 

Kepada Desa Legokjawa, Rohman, menuturkan, bencana gempa dan tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006 telah menelan korban jiwa sebanyak 54 orang. Ketika ada tanda-tanda mau terjadi tsunami dengan surutnya air laut, ia bersama warga langsung berlarian ke daerah perbukitan. Rohman mengaku sempat tidak bertemu dengan istrinya selama satu hari. 

"Pada saat itu saya sedang ngukur lahan di pinggir pantai," ujarnya. Pascabencana, ia pun ikut mengangkat dan mengumpulkan mayat-mayat yang bergelimpangan di pinggir pantai ke daerah perbukitan di Desa Legokjawa.

Kehadiran Tim Ekspedisi Destana Tsunami, kata Rohman, bisa menambah pengetahuan tentang mitigasi bencana gempa dan tsunami kepada masyarakat. Informasi disampaikan melalui berbagai cara, seperti menonton bersama tentang pengetahuan mitigasi bencana.***

Bagikan: