Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Besek untuk Daging Kurban Kita Bisa Jadi Berasal dari Kampung di Tasikmalaya Ini

Bambang Arifianto
ENCUM (60), perajin besek tengah mengayam di rumahnya, Kampung Cigadog Tugu, Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat 2 Agustus 2019. Perajin besek Cigadog Tugu tetap bertahan kendati modal kembang kempis, harga naik turun dan minim tersentuh bantuan pemerintah.*/ BAMBANG ARIFIANTO/PR
ENCUM (60), perajin besek tengah mengayam di rumahnya, Kampung Cigadog Tugu, Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat 2 Agustus 2019. Perajin besek Cigadog Tugu tetap bertahan kendati modal kembang kempis, harga naik turun dan minim tersentuh bantuan pemerintah.*/ BAMBANG ARIFIANTO/PR

JEMARI Encum tak henti bergerak menganyam bilah bambu tipis di depan rumahnya siang itu di Tasikmalaya. Di dekat perempuan 60 tahun tersebut, tergeletak tumpukan pipiti atau besek yang telah rampung dianyam.

Ia berkonsentrasi penuh. Sorot matanya terus mengamati susunan helai irisan bambu yang sudah terpilin rapi. Demikianlah  keseharian Encum, warga Kampung Cigadog Tugu, RT 8, RW 1,‎ Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Ia merupakah salah satu warga Cigadog Tugu yang bekerja sebagai pembuat besek. Selain Encum, sebagian besar warga kampung tersebut juga berprofesi serupa. Keahlian tersebut diperoleh secara turun temurun sejak dahulu.

Sebagai sentra pembuatan besek, irisan tipis bambu yang tengah dijemur terlihat di sejumlah pekarangan rumah warga hingga tepi jalan kampung menjadi pemandangan jamak di kampung itu. Meski demikian, hingga kini harga jual besek masih belum stabil. Warga masih mengandalkan penjualan kepada para bandar yang menyalurkannya ke pasar-pasar. Siang itu, Encum tengah menyelesaikan beberapa besek yang akan dijual ke bandar.

Ia mengaku, besek tengah laku menjelang Iduladha. "Banyak yang memesan untuk hajat nikahan dan sunatan," ucap Encum saat ditemui di kediamannya di Tasikmalaya, Jumat 2 Agustus 2019.

ENCUM (60), perajin besek tengah mengayam di rumahnya, Kampung Cigadog Tugu, Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat 2 Agustus 2019. Perajin besek Cigadog Tugu tetap bertahan kendati modal kembang kempis, harga naik turun dan minim tersentuh bantuan pemerintah.*/ BAMBANG ARIFIANTO/PR

Hajatan pernikahan serta sunatan memang kerap digelar warga selepas momen Lebaran haji tersebut. Warga menggunakannya sebagai wadah makanan dengan lauk pauk yang dibawa pulang para tamu hajatan.

Satu besek menjadi alas makanan, besek lain menjadi tutupnya.  Dalam sehari, Encum bisa membuat 30 besek. Ia bekerja dari pagi hingga malam menjelang. Harga normal rata-rata satu besek adalah Rp 1.000. Dengan harga itu, Encum hanya beroleh penghasilan Rp 30.000 dari 30 besek yang dijual ke bandar setiap hari.

Penghasilan tersebut masih kotor. Encum mesti membayar bahan baku berupa bambu yang dia beli senilai Rp 25.000 untuk panjang satu leunjeur atau sekira semeter. Agar tak habis modal dan masih bisa memiliki uang belanja bagi kebutuhan sehari-hari, dia tak langsung membayar lunas bambu itu. Biasanya, Encum membayarnya Rp 10.000 dan melunasinya setelah produksi kembali pada hari-hari berikutnya.

Tak pelak, dia cuma mendapat penghasilan bersih Rp 20.000 setiap hari. Kendati demikian, harga tersebut masih dianggap bagus oleh warga Cigadog Tugu, Tasikmalaya.

Harga per besek sempat naik hingga Rp 2.000. Kini, tutur Encum, harganya kembali turun.

Saat harga jual rendah, satu besek bisa dihargai Rp 200 rupiah. Dia memutuskan menghentikan pembuatannya jika harga sudah terlalu murah.‎ "Keur mirah, teu ngadamel, dicandak ku (biaya beli) awi ge seep," tuturnya.

Menurut Encum, harga besek sampai sekarang masih tetap naik-turun. Meski Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mewajibkan konversi penggunaan kantong palstik untuk daging kurban menjadi besek atau daun pisang, dampak nyata agar harga kerajinan anyaman bambu stabil dan terus meningkat belum terasa. Para perajin besek di Tasikmalaya masih bergantung kepada siklus penjualan berdasarkan momen-momen tertentu.

Coco (40), perajin besek Cigadog Tugu lain menuturkan, pesanan bakal meningkat setelah Idulfitri dan menjelang Iduladha. Momen hari raya membuat produksi besek warga Tasikmalaya menggeliat. Para bandar kampung juga kebanjiran pesanan.

‎Akan tetapi, keadaan tersebut hanya berlaku beberapa bulan.  Setelah Iduladha, pesanan besek sepi. Dia berharap, pemerintah memerhatikan nasib warga pembuat besek di Tasikmalaya yang penghasilannya masih turun-naik. Apalagi, keberadaan para perajin sudah terancam kehadiran kantong plastik dan styrofoam yang mulai menggeser penggunaan besek sebagai wadah makanan.

Persoalan lain yang muncul adalah produksi besek yang belum bisa memenuhi pemesanan skala besar. Hal itu dikeluhkan Karni, pria 50 tahun yang berprofesi sebagai bandar atau pengepul di Cigadog Tugu, Tasikmalaya.

Dalam sepekan, Karni hanya bisa beroleh 75 kodi atau 1.500 besek. Dia memperolehnya dengan mendatangi langsung rumah-rumah para perajin yang tersebar di sejumlah kampung di Desa Cigadog seperti Cigadog Tugu, Cigadoghilir, Cigadoggirang, Cimuta, Cipanawa Pasir, Nyantong. Setiap hari, barang-barang yang didapat langsung dikirim ke Pasar Singaparna, Manonjaya, Cikurubuk hingga Pasar Bojonloa di Garut.

Permasalahannya, Karni tak mampu menyimpan lebih banyak besek karena keterbatasan modal. Padahal, dia baru saja beroleh pesanan 2.000 besek dari wilayah Cirebon. "Tidak sanggup (memenuhinya)," ujar Karni.

Untuk penjualan 15 kodi besek dengan harga Rp 450.000-500.000 pun, dia hanya kecipratan untung kecil. Per besek, dia hanya beroleh untung Rp 300 rupiah. Keuntungan tersebut belum dipotong ongkos ngider alias berkeliling kampung mencari besek dan membawanya ke Singaparna memakai jasa tukang ojek untuk disalurkan ke pasar-pasar.

Karni berharap, pemerintah turun tangan memberikan bantuan modal bagi para pelaku usaha besek. Melalui bantuan itu, ia optimistis bisa memenuhi pesanan dalam jumlah besar.

Kebijakan konversi kantong plastik ke besek bukan sekadar pemberian surat edaran semata. Nun jauh di kampung-kampung terpencil Desa Cigadog, Tasikmalaya, para perajin besek menanti bantuan pemerintah agar masih bisa bertahan dan melestarikan tradisi yang ramah lingkungan.***

Bagikan: