Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Sebagian cerah, 29.1 ° C

Permintaan Meningkat, Pengiriman Air Bersih 10 Kali dalam Sehari

Hilmi Abdul Halim

PERMINTAAN air bersih terus meningkat seiring musim kemarau. Warga harus antre menunggu kiriman air bersih yang kini disebar ke 11 kecamatan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
PERMINTAAN air bersih terus meningkat seiring musim kemarau. Warga harus antre menunggu kiriman air bersih yang kini disebar ke 11 kecamatan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Dampak kekeringan meluas ke 11 kecamatan di Kabupaten Purwakarta. Angka tersebut berdasarkan laporan dan permohonan bantuan air bersih ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana daerah setempat.

Banyaknya permintaan membuat Kepala DPKPB Purwakarta Wahyu Wibisono kesulitan menyalurkan bantuan air bersih. "Armada yang dimiliki Perusahaan Daerah Air Minum selaku penyedia jasa air minum itu terbatas juga," katanya, Rabu 31 Juli 2019.

Sampai saat ini, dinas tersebut mencatat jumlah pengguna manfaat dari bantuan air bersih mencapai hampir 1.000 kepala keluarga. Terakhir, bantuan itu disalurkan ke Desa Sukamaju Kecamatan Sukatani sebanyak empat tangki air untuk memenuhi kebutuhan 400 kepala keluarga.

"Kalau tidak salah PDAM itu punya lima armada. Dua untuk konsumen biasa, tiga armada untuk menyalurkan bantuan air bersih," kata Wibi. Setelah melakukan rapat koordinasi dengan pihak terkait, ia mengatakan ketiga armada dapat menyalurkan hingga 10 kali dalam sehari.

Selain jumlah armada yang minim, penyaluran bantuan air bersih diakui juga terkendala oleh jarak yang jauh ke lokasi tujuan. Seperti halnya ke wilayah Kecamatan Maniis, Wibi mengaku tidak bisa menyalurkan bantuan air bersih sebanyak ke kecemasan yang lebih dekat.

"Petugas juga memiliki jam kerja. Jam kerjanya itu dari pagi sampai jam 17.00," ujar Wibi menambahkan. Karena itu, ia meminta masyarakat yang meminta bantuan air bersih untuk menyediakan tempat penampungan air berukuran besar agar penyaluran air lebih efektif.

Meskipun musim kemarau diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, pemerintah daerah setempat belum mengisyaratkan melakukan langkah antisipatif. Wibi hanya meyakinkan pihaknya akan berupaya maksimal mengurangi dampak kekeringan.

"Sejauh kami mampu, akan kami layani. Tidak terkendala oleh biaya. Karena, kalau hari ini anggaran dalam APBD kekurangan, bisa diajukan tahun depan," tuturnya. Sehingga, Wibi meminta masyarakat tidak segan meminta bantuan air bersih ke pemerintah daerahnya.

Sebelumnya dilaporkan kondisi kekeringan paling parah dialami lebih dari 1000 orang warga di tiga desa di Kecamatan Tegalwaru. Menurut salah seorang warga Desa Batu Tumpang Kecamatan Tegalwaru, Lilis (43), kekeringan sudah terjadi selama lebih dari dua bulan terakhir.

"Dari bulan puasa sumur warga kering sampai 100 meter airnya kosong," katanya mengeluh. Lilis menuturkan, sumur milik warga hanya terisi air apabila terjadi hujan terus-menerus pada musim hujan.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau seperti sekarang, mereka pun rela membeli seharga Rp50 ribu per 500 liter atau satu toren air. Persediaan air itu biasanya habis dalam sepekan dengan penggunaan yang sangat hemat.***

Bagikan: