Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Pemprov Jabar Disebut Hanya Umbar Wacana Soal Penambangan yang Merusak Lingkungan di Tasikmalaya

Bambang Arifianto
BUKIT terkelupas akibat penambangan pasir di Kampung Rancakiray, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Selasa 30 Juli 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
BUKIT terkelupas akibat penambangan pasir di Kampung Rancakiray, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Selasa 30 Juli 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Pemerintah Provinsi Jawa Barat didesak agar tak hanya berwacana terkait penertiban dan pendataan praktik penambangan pasir yang merusak lingkungan di wilayah Kabupatendan Kota Tasikmalaya.

Kerusakan lingkungan yang nyata serta diduga menjadi pemicu sejumlah bencana alam belakangan ini semestinya sudah menjadi alasan Pemprov Jabar melakukan moratorium penambangan.

Wacana penertiban dan pendataan dikemukakan Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum saat mengunjungi Garut, Sabtu 27 Juli 2019. Uu Ruzhanul Ulum bahkan menyebut telah melakukan penertiban di wilayah Tasikmalaya.

Klaim Uu Ruzhanul Ulum bakal menertibkan penambangan pasir di Tasikmalaya bukan kali pertama disampaikan. Pernyataan serupa dia sampaikan saat mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam kegiatan program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera di Desa Kiarajangkung, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat 11 Januari 2019.

Dia memastikan, Pemprov Jabar akan melakukan tindakan tegas terhadap praktik penambangan ilegal. Namun, pada Selasa 30 Juli 2019, kerusakan lingkungan yang semakin parah masih terjadi di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

PENAMBANGAN pasir di bukit di Jalan Mangkubumi-Indihiang, Kota Tasikmalaya, Selasa 30 Juli 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Bukit-bukit di tepi Jalan Mangkubumi-Indihiang hanya tinggal menunggu waktu untuk lenyap karena terus digerogoti penambang.

Titik penambangan yang terlihat baru juga menerjang area bukit yang masih mulus. Hal itu terjadi di Bukit Rancapanjang, Jalan Mangkubumi-Indihiang yang berada di perbatasan Kecamatan Mangkubumi-Bungursari, Kota Tasikmalaya. "Masih baru ditambang," kata Mumus (40) warga di sekitar lokasi, Selasa 30 Juli 2019.

Bukit itu, kata Mumus, sudah ditambang di bagian tepinya. Saat ini, penambangan bergeser ke bagian lain sehingga membuat bukit semakin bopeng.

Tak jauh dari sana, praktik penambangan juga menggerogoti Bukit Cibugelan di Kampung Rancakiray, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi. Penambangan itu berlangsung di dekat kawasan Situ Gede yang merupakan sumber air warga.

Alih-alih merawat pepohonan yang ada guna kelestarian sumber air, bukit itu justru ditambang dengan menggunakan alat berat.

Nana Rohana (65), warga Rancakiray menyebut, praktik penambangan telah berlangsung lama. Sebagian warga Rancakiray pemilik lahan di bukit yang dikenal dengan nama Gunung Cibugelan menyewakannya ke pengusaha tambang. "(Lahan) gunung dikontrakkan," tutur Nana. 

Meski belum berdampak pada pasokan air di kampungnya, Nana mengatakan, penambangan yang berlangsung dekat rumah warga menganggu lantaran bising.

Pernyataan tak berdasar

Di tempat terpisah, Ketua Badan Pengurus  Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Jabar Dedi Kurniawan menilai, pernyataan Uu Ruzhanul Ulum tak berdasar atau hanya sekadar wacana tanpa realisasi.

Jika penertiban telah dilakukan, semestinya Uu Ruzhanul Ulum menyodorkan buki data perusahaan-perusahaan penambangan pasir mana yang telah terkena penindakan.

Dedi mempertanyakan keberpihakan Pemprov Jabar terhadap persoalan lingkungan. "‎Kita belum melihat dan bahkan mendapat informasi soal keberpihakan Pemprov Jabar terhadap lingkungan, malah yang ada masih banyak pengaduan masyarakat terkait tambang tersebut," ujar Dedi.

Diab menegaskan, Pemprov Jabar serta pemerintah daerah seharusnya tak sekadar berwacana menertibkan penambangan yang merusak lingkungan. "Jangan hanya ‘akan’, tetapi harus ‘sudah’ (menindak)," kata Dedi.

Bencana alam sudah beberapa kali terjadi di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya dan ditengarai lantaran rusaknya lingkungan oleh penambangan pasir.

Di Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, banjir menerjang permukiman warga akibat melubernya air dari kolam-kolam penambangan pasir. Di Kota Tasikmalaya, banjir juga kerap terjadi di sejumlah titik yang diduga terjadi karena faktor kerusakan lingkungan tersebut.***

Bagikan: