Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 24.6 ° C

Gedong Duwur, Warisan Sejarah Masa Lalu yang Terbengkalai

Gelar Gandarasa
WARGA berdiri di dekat bangunan Gedong Duwur yang ada di Sindang, Indramayu, Kamis, 1 Agustus 2019.*/GELAR GANDARASA/PR
WARGA berdiri di dekat bangunan Gedong Duwur yang ada di Sindang, Indramayu, Kamis, 1 Agustus 2019.*/GELAR GANDARASA/PR

MUNGKIN bagi warga yang berkunjung ke Kabupaten Indramayu akan sulit menemukan bangunan bertingkat. Hal itu tidaklah aneh karena Indramayu bukanlah sebagai kota metropolitan. Namun siapa sangka, di balik kesederhanaannya itu terselip sebuah peninggalan masa lampau yang jarang diketahui warga pendatang.

Terletak di Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, sebuah bangunan arsitektur Eropa berdiri megah. Bangunan khas dengan pilar-pilar tinggi itu nampak kontras dengan bangunan di sekitarnya.

Betapa tidak, cat warna-warni menghiasi gedung yang berdiri sejak tahun 1901. Meski indah, namun tampaknya kurang cocok karena bangunan tersebut merupakan warisan cagar budaya nasional yang mesti dijaga keasliannya.

Gedung yang diberi nama Gedong Duwur itu dahulu kala digunakan sebagai tempat pemerintahan Belanda di Indramayu. Kini Gedong Duwur dipakai sebagai tempat belajar anak-anak PAUD. Gedong artinya gedung dan duwur artinya tinggi. Tak salah diberi nama tersebut karena struktur bangunan memanglah tinggi.

Keindahan warna yang ditampilkan di depan gedung berbanding terbalik dengan gedung bagian belakang. Kondisi usang sangat menyeruak tatkala menatap sudut bangunan. Kayu struktur bangunan telah lapuk termakan rayap. Belum lagi cat yang mungkin awalnya berwarna putih berubah drastis menjadi putih kotor.

WARGA berdiri di dekat banguna gedung KNIL di Sindang, Kamis, 1 Agustus 2019.*/GELAR GANDARASA/PR

Kondisi tak jauh beda juga terlihat dari bangunan bersejarah di sebelah Gedong Duwur. Bangunan yang dahulunya dipakai sebagai asrama tentara saat agresi militer Belanda pertama itu juga tak terawat. “Dahulunya merupakan kantor KNIL,” kata Dedi salah seorang warga Indramayu, Kamis, 1 Agustus 2019.

Pelaksana Tugas Kasi Permuseuman dan Keprubakalaam Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu Tinus menerangkan, mayoritas bangunan bersejarah yang ada di Indramayu memang terbengkalai. Di Indramayu sendiri total ada 218 cagar budaya yang 150 di antaranya sudah teregistrasi.

Tinus menambahkan, kesadaran masyarakat terkait benda peninggalan sejarah memang masih minim. Satu contohnya sebuah nisan makan tua kini beralih fungsi menjadi tutup septic tank. Padahal bisan berbahan marmer itu merupakan nisan yang terdapat di makam-makam Belanda. "Di batu nisan ada tulisan nama Martinus Azon Cornelis yang lahir 23 Desember 1860 dan meninggal Juni 1916," kata Tinus. 

Dia pun berharap, bangunan-bangunan bersejarah itu bisa mendapatkan perawatan. Sebab bangunan tersebut menyimpan cerita masa lampau yang sangat berguna bagi perkembangan peradaban di Indramayu. Apalagi bukan hanya warisan bangunan Eropa saja yang ada di Indramayu. Warisan dari China pun turut mewarnai peradaban masyarakat di Indramayu. 

Tinus mengatakan, sangat sulit mengatasi bangunan rusak itu seorang diri. Terlebih anggaran perawatan cagar budaya hanya Rp 500 juta saja per tahunnya. Dana itu pun habis untuk membayar honor para juru kunci sebesar Rp 485 juta. "Itu pun tidak mencakup 218 juru pelihara cagar budaya," ungkapnya.***

Bagikan: