Pikiran Rakyat
USD Jual 13.986,00 Beli 14.084,00 | Umumnya cerah, 33 ° C

Batu Nangtung dan Batu Kasur Ternyata Memiliki Nilai Sejarah

Tim Pikiran Rakyat
TINGGI batu nangtung 163 centimeter dengan lebar batu bagian bawah 60 centimeter, lebar batu bagian atas 30 centimeter dan ketebalan batu 20 centimeter.*/MUSLIH JERRY/KABAR PRIANGAN
TINGGI batu nangtung 163 centimeter dengan lebar batu bagian bawah 60 centimeter, lebar batu bagian atas 30 centimeter dan ketebalan batu 20 centimeter.*/MUSLIH JERRY/KABAR PRIANGAN

PANGANDARAN, (PR).- Tidak disangka sebuah batu yang berdiri di depan rumah salah satu warga Dusun Cijalu Desa Langkaplancar Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran ternyata memiliki nilai sejarah. Selama ini warga setempat hanya menyebut benda tersebut sebagai "Batu Nangtung".

Ternyata "Batu Nangtung" merupakan peninggalan sejarah budaya masa megalitikum dan mauk kategori batu "Menhir". Selain "Batu Nangtung" juga ditemukan "Batu Kasur" yang oleh sebagian warga selama ini dimanfaatkan untuk menyimpan sesaji.

Pamong Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Angkatan 2013-2016, Agus Mulyana mengatakan, bahwa tinggi batu itu 163 centimeter dengan lebar batu bagian bawah 60 centimeter, lebar batu bagian atas 30 centimeter dan ketebalan batu 20 centimeter. Lokasinya pada ketinggian 1539 m dpl. Batu dipindahkan dari tempatnya semula sekitar 300 meter yang asalnya berada di blok sawah batu nangtung.

"Batu nangtung ini berjenis batuan andesit," ungkapnya kepada wartawan Kabar Priangan Muslih Jerry.

Menurutnya, yang menarik dari inventarisasi pendataan informasi sementara di sekitaran daerah batu nangtung itu informasi yang dihimpun dari masyarakat terdapat sekitar 7 gua yang tersebar di bentang perbukitan daerah Desa Langkaplancar. Gua-gua tersebut juga belum sempat disurvei. Jika gua tersebut diduga mendukung sebagai hunian manusia prasejarah dan kemudian ditemukan tinggalan budayanya.

"Maka bisa jadi batu nangtung itu merupakan tinggalan tradisi megalitik," tuturnya.

Dirinya berpendapat bahwa untuk menentukan batu nangtung sebagai tinggalan budaya pada masa megalitikum yang disebut dengan istilah "menhir", maka perlu penelitian lebih lanjut secara mendalam. Terus terang, hasil dari expedisi belum selesai karena ada satu tinggalan budaya yang oleh masyarakat disebut "batu kasur" dan informasinya bahwa masih ada masyarakat yang meletakkan sesaji di atas batu itu. 

"Artinya dalam konteks budaya merupakan kebudayaan berlanjut," katanya.

Perlu bukti

Masih perlu dilakukan survei lagi agar dapat diambil hipotesa apakah "batu nangtung" itu benar sebagai tinggalan budaya megalitik atau klasik. Karena pada masa klasik, tradisi menhir dan dolmen misalnya, yang awalnya lahir pada masa megalitik, bisa juga batu naNgtung ini tinggalan budaya masa klasik. 

"Untuk itulah perlu didukung oleh bukti-bukti yang lain," lanjut Agus.

Menurut Agus Mulyana  "Batu Nangtung" masih dimanfaatkan atau digunakan oleh manusia sesudahnya baik di masa klasik maupun mungkin sampai sekarang ini. Yang perlu digarisbawahi adalah lokasi batu nangtung tidak jauh dari daerah penting di masa klasik yaitu daerah "karanten" yang sekarang oleh masyarakat disebut karantenan. Daerah itu dulunya, pada masa Surawisesa merupakan daerah Mandala dan lokasinya terletak di Meander sungai Cimandala. 

"Di karantenan (sekarang Desa Jayasari) terdapat pertemuan sungai dan dialokasi itu terdapat areal yang disebut "panyembahan", dilokasi ini terdapat struktur batu yang dulunya nampak sebagai sebuah struktur untuk sesuatu bangunan," ungkapnya.

Kemudian yang terkenal dari kisah daerah "karanten" adalah sejarah seorng wanita dari karanten bernama Ijab Larangan yang di peristri oleh Prabu Mundingkawati yang menurunkan 5 orang putra sebagai leluhurnya Sukapura,yang menarik lagi bahwa didaerah ini ditemukan artefak fragmen keramik Cina. Hal itu menandakan bahwa dahulunya merupakan sebuah daerah penting dan memiliki akses perdagangan internasional, terkait temuan artefak keramik Cina tersebut.

"Dan jauh sebelum itu, daerah Desa Pangandaran khususnya di Pananjung sedang memiliki akses perdagangan internasional dengan ditemukannya artefak keramik Cina produksi masa Dinasti Sung di abad 8, keramiknya ada campuran serpihan giok," tambahnya.***

Bagikan: