Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 24.7 ° C

Pekerja Migran asal Cirebon Sudah 30 Tahun Hilang Kontak

Agung Nugroho
ILUSTRASI pekerja migran yang menjadi pembantu rumah tangga.*/DOK PR
ILUSTRASI pekerja migran yang menjadi pembantu rumah tangga.*/DOK PR

SUMBER, (PR).- Informasi hilangnya kontak dengan seorang pekerja migran atau tenaga kerja wanita (TKW) selama puluhan tahun di Arab Saudi kembali terungkap. Kali ini, pekerja asal Kabupaten Cirebon, Carmi, sudah lebih dari 30 tahun tidak jelas keberadaannya.

Carmin merupakan warga dari Blok Kalibangka, Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan. Putri bungsu dari pasangan Ilyas (78 tahun) dan Warniah (75 tahun) itu masih terus dicari oleh keluarganya sampai Senin, 29 Juli 2019. Ilyas menyatakan, seingat dia, keluarga berkontak terakhir kali pada tahun 1995.

“Kami sudah ke sana ke mari untuk mencari keberadaan Carmi, tapi tak pernah berhasil. Sampai sekarang, kami terus berharap, tapi tidak pernah ada titik terang keberadaan anak saya,” tutur lelaki itu sembari bersimbah air mata.

Carmi berangkat ke Arab Saudi  pada 2 September 1988, atas jasa seorang sponsor, hanya selang setahun setelah lulus sekolah dasar (SD). Kendati masih di bawah umur, Carmi masih bisa lolos terbang ke luar negeri untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) melalui perusahaan pengerah tenaga kerja PT Umah Sejati Alwidah Jaya Sentosa (USAJS) yang berkantor di Jakarta.

"Saya masih ingat betul, anak saya berangkat itu setelah lulus SD. Belum punya KTP, pakainya surat keterangan yang ngurusnya ya sponsor. Dia masih sangat kecil saat itu," tutur Ilyas.

Ilyas ingat kalau dirinya sebenarnya keberatan saat anaknya direkrut menjadi TKW. Namun, karena kemiskinan yang dideritanya, juga berkat rayuan sponsor, dia merelakan putri pertamanya ke luar negeri dengan berat hati.

“Saat Carmi pergi, saya baru punya anak lima. Sekarang anak saya sepuluh termasuk Carmi. Adik-adiknya sebagian besar tidak pernah ketemu dengan kakaknya. Sekarang, adik-adiknya sudah pada menikah, bahkan sebagian besar sudah punya anak,” tuturnya.

Diceritakannya, pada tahun-tahun awal, ia masih bisa kontak dengan Carmi yang berdasar catatan keluarga lahir tanggal 4 Mei 1971. Carmi beberapa kali mengirimkan surat yang ditulis tangannya sendiri dan mengatakan kalau ia bekerja sebagai PRT di rumah majikan bernama Suud bin Hudaiban dan Habibah di Kota Riyadh.

“Terakhir kontak lewat telefon setelah tujuh tahun dia menjadi PRT, di tahun 1995. Sejak itu, sampai sekarang tidak pernah kontak dan tidak tahu lagi apakah masih di majikan yang sama atau sudah pindah, atau bagaimana nasibnya,” tutur Ilyas.

Sejak sulit dihubungi, Ilyas sempat meminta pertolongan kepada sponsor dan PT USAJS yang memberangkatkan Carmi. Namun tidak pernah ada hasil, termasuk juga saat meminta pertolongan ke Kementerian Tenaga Kerja dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di Jakarta.

ILUSTRASI. Pekerja Migran Indonesia.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

Kehilangan jejak dan minta pertolongan Presiden

Sejak kontak terakhir di tahun 1995, keluarga terus berusaha mencari kejelasan nasib Carmi. Namun mereka kehilangan jejak, sejak sponsor yang memberangkatkan Carmi sudah meninggal dunia dan perusahaan pengerah tenaga kerjanya, PT USAJS, sudah bangkrut dan tutup.

“Sejak sponsor meninggal dunia dan perusahaan yang memberangkatkan Carmi tutup, kami kesulitan. Tapi tidak pernah menyerah, terus berusaha, tapi sampai sekarang tidak ada hasil,” tutur Warniah, ibunda Carmi yang mengaku selalu menangis bila ingat anaknya itu.

Sudah jatuh tertimpa tangga, Ilyas bahkan pernah beberapa kali menjadi korban penipuan dalam upaya mencari putri sulungnya itu. Ada beberapa oknum yang datang menawarkan jasa dan meminta uang dengan janji bisa menemukan dan memulangkan Carmi. Tetapi, orang itu pun kabur setelah memperoleh uang.

“Ada saja orang menipu. Sudah tahu kami lagi susah kehilangan anak, malah menipu. Tega sekali,” tutur Warniah yang mengaku trauma dan selalu meneteskan air mata jika ingat saat-saat terakhir melepas putri pertamanya terbang ke Arab Saudi.

Sofiyuddin (48 tahun), paman Carmi, selalu mendampingi saat kakaknya mencari Carmi. Kesembilan adiknya pun secara aktif berupaya mencari jejak kakaknya.

“Kita sudah ke mana-mana tapi belum ada kejelasan. Sekarang, kami minta kepada Pak Jokowi, Pak Gubernur, dan Pak Bupati, untuk memberi perhatian kepada masalah Carmi. Jika Pak Jokowi yang bicara, pasti semuanya serius berusaha,” tuturnya seraya menambahkan keluarga mengharapkan Carmi masih hidup.***

Bagikan: