Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Medsos Berpengaruh pada Tingginya Angka Kekerasan Seksual

Tommi Andryandy
ILUSTRASI kekerasan terhadap anak.*/KABAR BANTEN
ILUSTRASI kekerasan terhadap anak.*/KABAR BANTEN

CIKARANG, (PR).- Angka kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Bekasi terbilang tinggi. Setidaknya setiap minggu kepolisian menerima satu laporan tentang kekerasan terhadap anak. Beberapa di antaranya kini masuk dalam tahap penyidikkan.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak pada Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Bekasi, Inspektur Satu Aliani mengatakan, laporan tersebut diterima dari pihak keluarga maupun warga sekitar lingkungan.

Ironisnya, dari berbagai laporan tersebut, tren yang melatarbelakangi kekerasan kini telah berubah. Tidak melihat video porno dan mengonsumsi minuman keras, namun karena terpengaruh media sosial.

“Memang kondisinya boleh dibilang sangat memprihatinkan. Dari perkara anak yang kami tangani, dominannya justru kasus kekerasan terhadap anak, yakni pencabulan dan pemerkosaan. Kemudian ada tren pengaruh baru yang berkembang, yakni faktor media sosial,” ucap dia, Minggu 28 Juli 2019.

Diungkapkan Aliani, tahun lalu pihaknya telah menangani 32 kasus kekerasaan seksual terhadap anak. Sedangkan, tahun ini hingga bulan Juli, dari berbagai laporan yang masuk, pihaknya telah menindaklanjuti sedikitnya 16 kasus.

Bahkah, saat ini kasus anak yang sedang ditanganinya, ada seorang anak di bawah umur dengan usia 15 tahun atau anak yang duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Korban diperkosa oleh teman-temannya secara bergantian. Ironisnya, hal itu dilakukan setelah korban dan para pelaku berhubungan melalui media sosial.

”Awalnya adanya pertemuan tersebut dipicu dari komunikasi melalui medsos. Kemudian berhubungan intensif tapi ujungnya terjadi tindakan kekerasan terhadap anak. Kasus ini tengah kami tangani,” ucap dia.

Dari sedikitnya 16 kasus yang ditangani, kata Aliani, beberapa di antaranya dilatarbelakangi hubungan melalui media sosial. Hanya saja, Aliani tidak dapat mengungkapnya secara detail terkait kasus tersebut. “Demi keberlangsungan kehidupan korban, kasus apalagi identitas korban tidak diungkap,” ucap dia.

Kendati demikian, ungkap Aliani, kekerasan seksual terhadap anak ini sebenarnya dapat dicegah sejak dini. Peran orang tua menjadi sangat vital menjauhkan anak dari kejahatan. Penggunaan gawai oleh anak perlu ada pendampingan dan pengawasan oleh orang tua.

Terapkan Layak Anak

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bekasi, Fatma Hanum mengatakan, saat ini Kabupaten Bekasi telah berpredikat sebagai kabupaten layak anak. Kendati belum ditingkatan utama, namun predikat tersebut harus direalisasikan dalam kehidupannya.

Menurut dia, salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak yakni keberadaan pemerintah dalam memberi keamanan bagi kehidupan anak. Soalnya, dalam beberapa kasus, kekerasan justru terjadi di ruang publik.

“Kalau ruang publik berarti siapa yang mengatur dan mengelola, ada peran negara di situ, dalam hal ini pemerintah. Maka, saya sangat menyakini jika predikat kabupaten layak anak diterapkan dengan maksimal, angka kekerasan terhadap anak, apalagi kekeraan seksual bisa ditekan. Apalagi kan kemarin Perda tentang Kabupaten Layak Anak telah diterbitkan,” ucap dia.***

Bagikan: