Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Sebanyak 193 Anak di Leuwimunding Majalengka Gagal Tumbuh Alias Stunting

Tim Pikiran Rakyat
STUNTING.*/DOK KEMKES.GO.ID
STUNTING.*/DOK KEMKES.GO.ID

MAJALENGKA, (PR).- Sebanyak 193 anak dari jumlah keseluruhan 4.509 anak di Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, menderita stunting atau gagal tumbuh. Sebanyak 179 anak bertubuh pendek dan 14 lainnya sangat pendek. Seluruh anak stunting itu tersebar di sejumlah desa.

Kepala Puskesmas Leuwimunding,  Kartisem, menyebutkan, para penderita stunting ini menyebar di 14 desa. Angka tertinggi  berada di Desa Rajawangi dengan jumlah kasus mencapai 34 anak pendek dan satu sangat pendek. Urutan berikutnya ada di Desa Ciparay dan Mirat.

“Untuk Desa Lame, bersyukur di sana nihil kasus. Anak-anaknya sehat-sehat,”  ungkap Kartisem, kepada Tati Purnawati dari Kabar Cirebon.

Dia mengatakan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah lima tahun (balita) akibat berbagai faktor, terutama kekurangan gizi. Tubuh anak pun menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kekurangana gizi itu tak hanya saat bayi lahir hingga tumbuh balita, melainkan sejak dalam kandungan.

“Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting, perlu dilakukkan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan,”  ungkapnya.

Ditambahkannya, faktor lainnya penyebab stunting adalah praktik pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, dan pembelajaran dini yang berkualitas. Selain itu, gagal tumbuh bisa terjadi karena kurangnya akses rumah tangga atau keluarga ke makanan bergizi, kurangnya akses ke air bersih, serta sanitasi yang buruk.

Ilustrasi/CANVA

Camat Leuwimunding buat satgasus, desa harus siapkan anggaran dari Dana Desa

Camat Leuwimunding, Iwan Dirwan, menuturkan, pihaknya berupaya membentuk satuan tugas khusus (satgasus) penanggulangan stunting di seluruh desa. Satgasus itu melibatkan Ketua TP PKK Kecamatan Leuwimunding beserta posyandu di setiap desa.

“Kami akan data seluruh anak, nama lengkap, alamat, orang tuanya, agar penanganannya lebih fokus. Ketua Satgas harus Kepala Desa,” kata Iwan.

Menurutnya, setiap desa wajib mengalokasikan anggaran yang bersumber dari Dana Desa untuk menangani  stunting dan kesehatan lainnya. Penanganan bisa dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di setiap posyandu.

Pihaknya juga bakal menyiapkan formulir khusus untuk mencatat riwayat hidup keluarga penderita. Misalnya, bagaimana pola makan ibu saat kehamilan, bagaimana orang tua mereka sebelumnya, hingga pengawasan pascamelahirkan bagi ibu-ibu yang baru bersalin.***

Bagikan: