Pikiran Rakyat
USD Jual 13.986,00 Beli 14.084,00 | Umumnya cerah, 33 ° C

Rusak Parah Pascagempa, SD Puspasari di Tasikmalaya Tak Juga Diperbaiki

Bambang Arifianto
Sejumlah siswa melintasi ruang kelas yang rusak SD Negeri Puspasari, Kampung Cipari, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Rabu, 24 Juli 2019. Rusak karena gempa, bangunan sekolah tersebut tak kunjung diperbaiki.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
Sejumlah siswa melintasi ruang kelas yang rusak SD Negeri Puspasari, Kampung Cipari, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Rabu, 24 Juli 2019. Rusak karena gempa, bangunan sekolah tersebut tak kunjung diperbaiki.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Rusak berat karena gempa beberapa tahun lalu, sejumlah ruang kelas di SD Negeri Puspasari, Kampung Cipari, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya tak tersentuh perbaikan. Sebagian siswa pun terpaksa belajar di teras sekolah. Siswa lain bertaruh nyawa dengan belajar di kelas yang rentan ambruk.

Pantauan Pikiran Rakyat, bangunan SD Puspasari tampak sudah tak laik digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Satu ruang kelas bahkan tak memiliki atap.

Sebagai gantinya, pihak sekolah membentangkan terpal di bagian atas agar ruangan itu masih bisa berfungsi sekadarnya.

Kepala Sekolah SD Puspasari Agus Permana menuturkan, kerusakan bermula saat gempat melanda Tasikmalaya sekira 2-3 tahun lalu. Meskipun telah diusulkan berkali-kali  ke Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, upaya perbaikan dan pembangunan ruang kelas baru tak kunjung dilakukan. 

Perhatian pemerintah hanya sebatas saat gempa terjadi dan beberapa hari kemudian dengan meninjau lokasi. "Setelah itu tidak ada kelanjutan dan realisasi," ucap Agus saat ditemui Pikiran Rakyat di ruang guru SD Puspasari, Rabu, 24 Juli 2019.

Dari total 8 ruang kelas, 5 rusak berat dan 3 rusak ringan. Tiga ruang kelas bahkan sudah tak difungsikan guna kegiatan belajar.

Selain sudah tak memiliki atap, terdapat pula ruang-ruang kelas yang rentan ambruk lantaran kayu penyangga telah lapuk dengan kondisi tembok retak. Jamban sekolah dan rumah dinas kepala sekolah juga setali tiga uang.

Dari 3 jamban, hanya 1 yang bisa dipakai. Sementara rumah dinas akhirnya bisa direnovasi berkat urunan orang tua siswa. Rencananya, rumah dinas itu bakal difungsikan sebagai musala sekolah.

Kekhawatiran ambruk

Kegiatan belajar mengajar di tengah bangunan yang nyaris seluruhnya rusak menuai kekhawatiran Agus. "Takutnya gentingnya jatuh menimpa anak-anak," ucapnya.

Kekhawatiran Agus tak berlebihan. Sejumlah siswa yang belajar di kelas tampak dinaungi plafon berlubang. Dengan kondisi kayu penyangga lapuk, kepala murid dan guru menjadi target empuk genting dan material lain yang jatuh. 

Agus sangat risau dengan keselamatan para anak didiknya. Apalagi, peristiwa genting jatuh pernah terjadi. Untungnya, tak ada siswa yang berada di ruangan saat itu.

Kondisi memilukan juga terjadi ketika hujan. "Kalau hujan sampai banjir (di kelas), lebih dari bocor," ucapnya.

Hujan menerobos bagian atas bangunan yang rusak hingga mampu menjangkau ruang belajar. Akibatnya, jam belajar terganggu lantaran siswa mesti mengepel dulu ruangannya.

Bila hujan teramat besar, Agus tak akan mengambil risiko meneruskan proses belajar. "Kalau hujan besar (siswa) akan dipulangkan, daripada takut kecelakaan (bangunan ambruk)," ujarnya. 

Tak kebagian kelas

Ia menambahkan, sebagian siswa pun belajar di teras sekolah. Mereka duduk di kelas IV dan tak kebagian ruang kelas. Murid kelas tersebut belajar terlebih dahulu di teras sembari menunggu kelas I pulang sekolah.

Setelah siswa kelas I pulang, murid kelas IV masuk ruangan kelas yang telah ditinggalkan. "Setiap hari ini teh," ujar Agus. Sebelumnya, para siswa itu pernah juga belajar di tenda yang berdiri di halaman sekolah. 

Jumlah siswa SD Puspasari mencapai 206 murid. Satu rombongan belajar atau kelas diisi rata-rata 34 siswa. Jumlah tersebut sangat banyak bila mengacu rombel ideal per kelas sebanyak 20 siswa.

Akan tetapi, pihak sekolah tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan dibagi menjadi dua, satu rombel saja masih terkendala ketersediaan ruangan.

Menurut Agus, keadaan sekolah yang memprihatinkan berdampak pada siswa. Para anak didik SD Puspasari melaksanakan kegiatan belajar tanpa rasa nyaman karena fasilitas sekolah tak laik. 

Semangat bersekolah

Kondisi mengenaskan tak menyurutkan semangat para siswa bersekolah dan minat orang tua siswa. "Warga Desa Sundawenang kebanyakan menyekolahkan anak ke sini," ujarnya.

Lokasi SD Puspasari memang berada paling dekat kawasan pemukiman dibanding beberapa sekolah lain di wilayah desa tersebut. Kerusakan dan kekurangan ruang belajar disiasati SD Puspasari dengan memanfaatkan bangunan yang masih ada. Agus menuturkan, ruang kelas yang sudah tak memiliki atap ditutup terpal supaya bisa dimanfaatkan.

"Maksudnya supaya bisa dipergunakan apa sajalah," ujarnya.

Hal senada dikemukakan Ketua Komite Sekolah, Endang. "Inginnya sarana prasarana mah ideal, ingin nyaman," kata Endang.

Berdiri sejak 1977, bangunan SD Puspasari juga minim direhabilitasi oleh pemerintah. Endang menuturkan, rehabilitasi pernah dilakukan dengan mengganti asbes menjadi genting pada 2005 lalu.

Selebihnya, orang tua siswa yang turun tangan mengumpulkan sumbangan guna perbaikan fasilitas sekolah. Ia mencontohkan, peran orang tua siswa yang urunan perbaikan rumah dinas kepala sekolah pascagempa untuk dipakai sebagai musala.

Akan tetapi, kehadiran dan bantuan pemerintah tetap ditunggu dalam menyelesaikan buruknya sarana pendidikan dasar tersebut. Dalam catatan Pikiran Rakyat, gempa yang menyebabkan kerusakan banyak sekolah di wilayah Tasikmalaya terjadi pada 2017.***

Bagikan: