Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.5 ° C

Saat Prasasti Gegerhanjuang Kembali Ke Tatar Sukapura, Kabupaten Tasikmalaya

Bambang Arifianto
PRASASTI Gegerhanjuang saat kembali berada di Kabupaten Tasikmalaya. Prasasti yang juga dikenal dengan nama Rumatak ini menyimpan sejarah Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PRASASTI Gegerhanjuang saat kembali berada di Kabupaten Tasikmalaya. Prasasti yang juga dikenal dengan nama Rumatak ini menyimpan sejarah Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DITEMUKAN peminat sejarah Belanda KF Holle di lereng Gunung Galunggung, punggung Bukit Gegerhanjuang pada 1887 dan lama tersimpan di Museum Nasional Indonesia, prasasti Gegerhanjuang akhirnya kembali ke Tatar Sukapura.

Prasasti yang dikenal dengan nama Rumatak atau Gegerhanjuang ini menyimpan sejarah Tasikmalaya. Di lokasi penemuannya yang berada di Desa Linggamulya, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, bahkan dibuatkan batu replika prasasati untuk mengenangnya.

Namun, replika tetaplah replika. Warga Kabupaten Tasikmalaya hanya disodori cerita dan batu tiruannya tanpa melihat langsung prasasti yang merupakan aset sejarah wilayahnya sendiri.

Hingga momentum peringatan 387 tahun ulang tahun Kabupaten Tasikmalaya, Prasasti Gegerhanjuang bisa dilihat langsung dala kegiatan Museum Keliling dari Museum Nasional Indonesia. Batu tulis berbentuk agak segitiga tersebut dibawa dari Jakarta guna diperlihatkan kepada masyarakat di Gedung Bupati Tasikmalaya, Singaparna.

Kepala Desa Linggamulya, Dadih, mengaku takjub bukan kepalang melihat prasati yang cuma didengarnya dalam cerita. Padahal, desa yang dipimpinnya kini merupakan lokasi penemuan prasasti.

"Walaupun saya ini dari Desa Linggamulya, Kecamatan Leuwisari, tidak terlalu tahu tentang sejarahnya," ucap Dadih di ruang pameran museum keliling Museum Nasional di  Kantor Bupati Tasikmalaya, Selasa, 23 Juli 2019. 

Ia begitu gembira ketika fragmen fisik sejarah wilayahnya bisa dinikmati dari jarak dekat. Apalagi, ia menyebut prasasti menjadi bukti keberadaan Kerajaan Galunggung tempo dulu.

Saking takjubnya, Dadih bahkan menemui langsung petugas Museum Nasional di area pameran. Ia berencana ingin menyinggahkan prasasti sejenak ke tempat asal penemuannya di Desa Linggamulya saat napak tilas hari jadi Kabupaten Tasikmalaya Agustus 2019.

"Ini supaya dilihat masyarakat, mengingat sejarahnya," ucap Dadih.

Ia pun diminta mengirimkan surat permintaan tersebut ke Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Bagi Dadih, kehadiran prasasti penting bagi pelajar dan generasi muda Linggamulya. Mereka akan memperoleh pengetahuan bagaimana cikal bakal Tasikmalaya terbentuk langsung dari lokasi penemuan batu tulis tersebut.

Riwayat Gegerhanjuang pun seakan masih gelap bagi sebagian pelajar Bumi Sukapura. Salah satu contohnya adalah Anistia Destiani, pelajar 15 tahun dari SMP Negeri 2 Singaparna. Ia baru mengetahui sejarah prasasti ketika mengikuti kegiatan pameran itu.

"Jarang disebutkan dalam pelajaran sejarah," ujar Anistia.

Sejarah yang dipelajari para siswa lebih sering mengupas peristiwa dan tokoh nasional ketimbang babad lokal di tempat sekolah itu berdiri. Tak pelak, generasi muda cenderung tak memiliki kedekatan dengan akar tradisi yang bersumber dari hikayat lokal yang ada.

Proses tak mudah

Proses menghadirkan prasasti di tempat asal mulanya, terbilang tak mudah. Kepala Seksi Promosi Museum Nasional Dyah Sulistiyani mengungkapkan, prasasti bisa dibawa dan dipamerkan ke luar Jakarta setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tasikmalaya mengajukan permintaan.

Awalnya, Museum Nasional memiliki program Museum Keliling yang singgah di berbagai daerah yang berbeda setiap tahun. Kebetulan, Kabupaten Tasikmalaya menjadi tempat kegiatan itu pada 2019. Permintaan kehadiran prasasti pun dipenuhi lantaran bertepatan pula dengan momen hari jadi Kabupaten Tasikmalaya.

"Secara kondisi memungkinkan (prasasti dibawa)," kata Dyah.

Akhirnya sejak 19-23 Juli 2019, prasasti pun tiba dan dipamerkan di Kantor Bupati Tasikmalaya. Namun, Museum Nasional meminta sejumlah syarat berupa penjagaan 24 jam ketika prasasti disimpan dalam ruangan yang aman.

Pengunjung juga tak diperbolehkan memegangnya. Mereka hanya bisa mengambil foto dari jarak dekat. Sentuhan manusia yang mengandung minyak dikhawatirkan merusak prasasti.

Terkait sejarah, batu tulis Gegerhanjuang memiliki tiga baris tulisan dalam aksara kuno yang dipahat pada batu pipih panjang 85 cm, lebar 62 cm, tebal 28 cm. Pihak Museum Nasional juga menyertakan dua pembacaan isi prasasti dari dua peneliti, yaitu Hasan Djafar dan Nira Sunari Tudjiana.

Hasan menerjemahkanya, "Pada 1333 Saka (1411 Masehi) (Desa) Rumatak ditetapkan menjadi perdikan oleh Batari Hyang."

Sedangkan Nira membacanya, "Pada 1334 Saka (1412 Masehi), Desa Rumatak ditetapkan menjadi perdikan oleh raguti, teman Batari Hyang."

Hingga kini, masih ada beberapa tafsiran mengenai prasasti tersebut. Selain diduga menjadi penanda eksitensi Kerajaaan Galunggung, adapula yang menilai prasasti itu menerangkan jejak kabuyutan penting di tanah Pasundan.***

Bagikan: