Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.5 ° C

Mengenal 3 Tempat Ibadah Tertua di Sukabumi Bernilai Heritage

Tim Pikiran Rakyat
GEREJA Sidang Kristus do Jalan Masjid Nomor 8, Cikole, Kecamatan Gunungparang, Kota Sukabumi.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI
GEREJA Sidang Kristus do Jalan Masjid Nomor 8, Cikole, Kecamatan Gunungparang, Kota Sukabumi.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI

TAK hanya memiliki keindahan alam, Kota Sukabumi juga memiliki banyak bangunan heritage peninggalan era kolonial. Kota Sukabumi yang semula merupakan kawasan perkebunan kopi pernah menjadi daerah yang penduduknya didominasi orang Eropa.

Karena pesatnya pertumbuhan populasi bangsa Eropa, Kota Sukabumi ditetapkan sebagai Burgerlijk Bestuur dengan status Gemeente (Kotapraja). Setelah berstatus Kotapraja, Sukabumi berkembang pesat dengan ditandai dibangunnya berbagai fasilitas untuk menunjang aktifitas bangsa Eropa.

Beberapa fasilitas itu di antaranya adalah bangunan peribadatan yang kini sudah berusia ratusan tahun. Bangunan-bangunan itu tercatat dalam data potensi heritage, situs, dan kebudayaan Kota Sukabumi yang dimiliki Dinas Pendidikan Olahraga Kebudayaan dan Parawisata Kota Sukabumi. Berikut ini 3 bangunan heritage yang ada di Kota Sukabumi.

Masjid Agung Sukabumi

Masjid tertua dan terbesar di Sukabumi ini merupakan saksi sejarah perjuangan warga menghadapi penjajahan. Dulunya, bangunan ini dijadikan markas atau pusat pertemuan pejuang untuk merumuskan strategi perang.

MASJID Agung Kota Sukabumi di Jalan Alun-alun Utara Nomor 4b, Gunungparang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI

MASJID Agung Sukabumi tempo dulu.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI

Diperkirakan masjid ini sudah berdiri sejak abad ke-19 dan menjadi satu-satunya masjid yang berdiri di tengah kota Sukabumi hingga akhir abad ke-19.

Awalnya, Masjid Agung Sukabumi didirikan di atas tanah wakaf milik warga bernama Ahmad Juwaeni yang hingga sekarang terus mengalami perubahan.

Pada masa awal, bangunan Masjid Agung Sukabumi masih sederhana dengan atap tumpang dan memiliki satu menara. Di bagian depan masjid terdapat alun-alun dengan hamparan padang rumput yang menjadi tempat penggembalaan sapi. Namun, hewan-hewan tersebut kemudian dipindahkan ke bagian timur.

Selama berdirinya, Masjid Agung Sukabumi telah mengalami 6 kali renovasi yaitu pada 1900, 1936, 1945, 1975, 2004, dan renovasi besar-besaran pada 2012 yang rampung setahun kemudian.

Perubahan arsitektur yang sangat dominan menjadikan masjid Agung Sukabumi terlihat megah dan modern. Namun bangunan telah kehilangan bentuk aslinya.

Dari kejauhan, Masjid Agung Sukabumi terlihat punya warna emas yang mendominasi kubah. Empat menaranya juga mendapatkan sentuhan warna emas di sisi bagian atas. Interior masjid seperti empat pilar besar, langit-langit, hingga mihrabnya juga memiliki warna yang sama.

Bagian paling menarik dan menjadi ciri khas Masjid Agung Sukabumi adalah puncak menara yang tidak menggunakakan kubah tetapi ornamen kujang.

Gereja Sidang Kristus

Gereja Sidang Kristus yang letaknya berdekatan dengan Masjid Agung Sukabumi merupakan tempat peribadatan umat Kristen Protestan yang didirikan tahun 1911.

Awalnya, Gereja Sidang Kristus dibangun pemerintahan kolonial Belanda sebagai tempat beribadah kaum Nasani, agama mayoritas para pendatang Eropa saat itu.

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1941-1945, Gereja Sidang Kristus digunakan sebagai gudang senjata.

GEREJA Sidang Kristus do Jalan Masjid Nomor 8, Cikole, Kecamatan Gunungparang, Kota Sukabumi.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI

Setelah Indonesia merdeka hingga sekarang, Gereja Sidang Kristus difungsikan kembali sebagai gereja bagi para jemaah Sidang Kristus yang dimiliki dan dikelola Yayasan Gereja Sidang Kristus.

Sebagian besar bangunan Gereja Sidang Kristus masih asli. Gereja dibangun dengan lantai tinggi, dinding permanen yang masif, pintu dan jendela berukuran besar, juga dilengkapi halaman berpagar.

Pada bagian muka terdapat bangunan tinggi meruncing yang di bagian puncaknya terpasang jam berukuran besar berangka romawi.

Sesuai dengan fungsinya, berbagai kegiatan keagamaan termasuk musik dan paduan suara dilaksanakan di Gereja Sidang Kristus.

Vihara Widhi Sakti

Dalam sejarahnya, bukan hanya orang Eropa yang datang ke Sukabumi, orang dari dataran Tiongkok juga berdatangan dengan membawa keyakinan masing-masing.

Oleh karena itu , Vihara Widhi Sakti dibangun pada 1912 sebagai tempat ibadah agama Buddha aliran Mahayana yang mayoritas umatnya adalah golongan Tionghoa.

VIHARA Widhi Sakti di Jalan Pajagalan Nomor 20, Nyomplong, Kota Sukabumi.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI

VIHARA Widhi Sakti di Jalan Pajagalan Nomor 20, Nyomplong, Kota Sukabumi.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI

Vihara Widhi Sakti yang dulunya bernama Kelenteng Bie Hian Kong sudah berusia lebih dari 100 tahun sejak awal dibangunnya. Bangunan ini didirikan di atas tanah seluas 900 meter persegi yang kemudian mengalami perluasaan saat direnovasi pada 1986.

Vihara Widhi Sakti berdiri megah di sudut jalan Pajagalan, Kota Sukabumi dan berada di antara pemukimam warga.

BAGIAN dalam Vihara Widhi Sakti di Jalan Pajagalan Nomor 20, Nyomplong, Kota Sukabumi.*/DOK. DISPORABUDPAR KOTA SUKABUMI

Unsur-unsur tradisional Tiongkok mendominasi bangunan tersebut seperti adanya ornamen berbentuk naga, penggunaan warna merah dan kuning, serta atap pelana kuda.

Dua Stupa pada bagian atap juga menunjukan ciri bahwa umat Vihara Widhi Sakti penganut ajaran Buddha. Selain sebagai tempat ibadah, di Vihara Widhi Sakti sering diadakan kegiatan seni budaya seperti penampilan wayang potehi, gotong tapekong, dan atraksi barongsai setiap Imlek. (JT-Maulinawati)***

Bagikan: