Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 31.1 ° C

Melestarikan Mata Air Lewat Muru Indung Cai

Hilmi Abdul Halim
SEJUMLAH anak melompat ke kolam mata air Cibulakan Desa Babakan Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta beberapa waktu lalu. Pemerintah daerah setempat berupaya melestarikan mata air dengan kegiatan Muru Indung Cai dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-188 dan 51 daerahnya.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
SEJUMLAH anak melompat ke kolam mata air Cibulakan Desa Babakan Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta beberapa waktu lalu. Pemerintah daerah setempat berupaya melestarikan mata air dengan kegiatan Muru Indung Cai dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-188 dan 51 daerahnya.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PERHATIAN Pemerintah Kabupaten Purwakarta terhadap sumber mata air di wilayah Kecamatan Wanayasa ditunjukkan lewat kegiatan bertajuk "Muru Indung Cai". Rangkaian tersebut untuk merayakan Hari Jadi ke-188 Purwakarta dan Kabupaten Purwakarta yang menginjak usia 51 tahun.

Kegiatan tersebut berupa pengumpulan air dari sembilan sumber mata air di Kecamatan Wanayasa. Yakni Mata Air Cipancur (Desa Cibuntu), Ladu (Sumurugul), Legokmacan (Wanayasa), Ciburial (Wanayasa), Cipicung (Ciawi), Cijauh (Taringgul Tengah), Cipondoh (Sakambang), Ciganasoli (Babakan) dan Cibulakan (Babakan).

Kesembilan mata air itu dipilih dari sekian banyak mata air di Wanayasa karena perannya yang dinilai paling besar bagi masyarakat. Aliran air dari mata air tersebut diketahui mengalir hingga wilayah kecamatan lainnya di Purwakarta.

Camat Wanayasa Jaya Pranolo menjelaskan rangkaian kegiatan yang baru pertama dilakukan di daerahnya itu. "Intinya kita tawasulan (mendekatkan diri pada tuhan), tasyakuran (syukuran) di mata air itu. Ada tausiah juga dari ketua Majelis Ulama (MUI)," katanya belum lama ini.

Air dari sembilan mata air itu kemudian disimpan dalam lodong (bambu besar) berukuran 1-1,5 meter dan dibawa ke Situ Buleud atau Taman Air Mancur Sri Baduga. Prosesi iring-iringan yang membawa air tersebut dikemas secara kolosal hingga menyita perhatian publik di sepanjang perjalanan.

Kemudian, air tersebut diserahkan kepada Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika dan para pejabat pemerintah daerah setempat. Prosesi tersebut menurutnya sebagai simbolisasi rasa sukur terhadap keberadaan sumber air yang selama ini dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat.

Dan yang terpenting menurun Jaya, masyarakat juga tergerak untuk melestarikan lingkungan mata air tersebut. "Kalau bukan masyarakat, siapa lagi yang menjaga. Menjaga kebersihan di lingkungan mata airnya, jangan sampai tanamannya ditebang," kata Jaya berpesan.

Ironisnya, pesan pelestarian lingkungan tersebut justru tak teraktualisasi dalam suatu program kegiatan yang dibuat pemerintah. Pemerintah daerah bahkan tidak memiliki data keberadaan mata air sejak Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral diambil alih Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kondisi mata air dan kolam renang Cibulakan di Desa Babakan, misalnya. Menurut pantauan PR di lokasi, kondisinya kotor seperti tidak terawat sama sekali. Padahal, beberapa hari sebelumnya dilakukan prosesi pengambilan air untuk perayaan Hari Jadi Purwakarta.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menyatakan komitmennya untuk memperbaiki kondisi lingkungan di mata air yang selama ini tidak diperhatikan. "Pemerintah daerah dengan OPD-OPD terkait akan mengatur air melalui regulasi yang baik dan ketat," kata Anne dalam pidato sambutannya di Bale Nagri Purwakarta.

Anne mengakui ada beberapa mata air yang dikuasi pihak lain sebagai ajang bisnis. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta berupaya untuk membeli lahan milik warga yang memiliki sumber mata air.

"Dari pada nanti sumber air dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kami, dari pemerintah daerah siap membeli lahan milik warga yang terdapat sumber air," tuturnya. Namun, Anne belum menentukan waktu untuk merealisasikannya.***

Bagikan: