Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 20.5 ° C

Pohon Asem Raksasa yang Dianggap Keramat Jadi Perbincangan di Subang

Tim Pikiran Rakyat
SALAH  satu pohon Ki Tambleg yang dimohon dipindahkan dari habitatnya di perkebunan tebu Purwadadi  ke Bandung yang mendapat reaksi  dari aktivis lingkungan.*/DALLY KARDILAN/GALAMEDIA
SALAH satu pohon Ki Tambleg yang dimohon dipindahkan dari habitatnya di perkebunan tebu Purwadadi ke Bandung yang mendapat reaksi dari aktivis lingkungan.*/DALLY KARDILAN/GALAMEDIA

SUBANG, (PR).- Pohon asem (adansonia digitata) raksasa karena cukup besar dan berusia puluhan tahun yang dimohon diboyong ke Bandung untuk dipindahkan mendapat penolakan dari aktivis lingkungan. Sebab, pohon raksasa yang sering disebut Ki Tambleg dianggap spesies langka dan berkeramat. 

Salah seorang aktivis lingkungan, Cece Rahman yang dihubungi Minggu 21 Juli 2019 membenarkan, kalau dirinya telah mendengar salah satu pohon di daerah Purwadadi sudah ada yang akan dipindahkan ke Bandung. Tentu saja pihaknya merasa keberatan dan sudah sejak lama melakukan konservasi atau membuat bibit serta menanam pohon Ki Tambleg.

Bahkan bukan hanya Cece tetapi juga dari Maps, Gival dan Yayasan Sagunung Samaung, Iis Rochayati pun menolak keras adanya permohonan pemindahan dari salah satu Yayasan di Bandung yang akan memindahkan pohon Ki Tambleg di kebun tebu Blok Waladin Desa Pasirbungur Kecamatan Purwadadi.

“Kita menolak dengan dasar UU No 5/1990 tentang KSDAH dan ekosistemnya, pasal 21 ayat (a) mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, mengangkut dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati,“ ujarnya kepada wartawan Galamedia, Dally Kardilan.

Kemudian, butir  (b) mengeluarkan tumbuhan yg dilindungi atau bagian bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. “Untuk itu kami mengeluarkan petisi dalam rangka menjaga pohon ki tambleg dari rong – rongan pihak manapun yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Adapun isi petisinya dalam menolak pemindahan pohon Adonsonia Digitata/Baobab African  dan Pemkab Subang harus tegas untuk tidak memberikan izin atau rekomendasi terhadap pemohon pemindahan Ki Tambleg dari habitatnya. “Bagi siapa pun yang mau menanam pohon Ki Tambleg silakan untuk menanam mulai dari benih ataupun bibit dibawah usia 10 tahun,“ tegasnya.

Namun surat permohonan dari salah satu Yayasan di Bandung ke BLH Subang pun hingga kini belum ada jawaban pasti. Bahkan Sekda Subang, H.Aminuddin yang diminta komentarnya mengatakan ketidak-setujuannya. “Kita belum baca suratnya dan yang pasti jangan sampai dipindahkan. Sebaliknya harus dilestarikan,“ katanya.***
 

Bagikan: