Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Umumnya berawan, 25 ° C

Berdalih Telah Sosialisasi, Rehabilitasi Irigasi Cikunten Tetap Berlanjut

Bambang Arifianto
PEDAGANG makanan melintasi saluran irigasi Cikunten II di Kampung Warung Lebak, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jumat, 19 Juli 2019.Pemerintah pusat tetap melanjutkan rehabilitasi Cikunten kendati menuai sorotan pembudidaya ikan dan petani.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PEDAGANG makanan melintasi saluran irigasi Cikunten II di Kampung Warung Lebak, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jumat, 19 Juli 2019.Pemerintah pusat tetap melanjutkan rehabilitasi Cikunten kendati menuai sorotan pembudidaya ikan dan petani.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Meskipun menuai sorotan, pemerintah pusat tetap meneruskan proyek rehabilitas irigasi Cikunten yang bakal menutup pasokan pasokan air kepada petani. Alasannya, pemerintah pusat berdalih telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Pelaksanaan proyek perbaikan Cikunten telah mengemuka sepekan lalu. Rencananya, saluran irigasi tersebut akan dikeringkan selama 4 hari dan dibuka 2 hari dalam seminggu.

Kepanikan dan kekhwatiran pun merebak di kalangan pembudidaya ikan tawar dan petani Kabupaten Tasikmalaya. Bagaimana tidak, saluran irigasi itu menjadi sumber pasokan air bagi sejumlah kecamatan di Kabupaten/Kota Tasikmalaya seperti Leuwisari, Sariwangi, Singaparna, Sukarame, Padakembang, Mangkubumi. Proyek belum berjalan pun para pembudidaya ikan telah menjual ikannya sebelum masa panen karena ketakutan pasokan air mengering.

Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya pun mendatangi Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy di Kota Banjar, Jumat pekan lalu. Tujuannya, untuk menyampaikan aspirasi para petani yang khawatir proyek bakal berdampak sawah mereka tak teraliri irigasi. Namun, mereka tak bisa menemui pejabat BBWS Citanduy yang terkait pelaksanaan proyek.

"Pada kosong, yang ada hanya tata usaha," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya Roni A. Sahroni saat dihubungi Pikiran Rakyat, Jumat, 19 Juli 2019.

Tak patah arang, Dinas Pertanian menelfon salah satu kepala seksi yang berurusan dengan rehabilitasi Cikunten. Dari komunikasi tersebut, BBWS Citanduy tetap meneruskan rehabilitasi Cikunten meskipun menuai sorotan. Soalnya, BBWS mengaku telah menyosialisasikanya kepada warga.

"Tetapi masalahnya itu belum tersampaikan ke seluruh petani," ucap Roni.

Seharusnya, perwakilan petani atau aparatur pemerintah setempat yang ikut sosialisasi menyampaikan kembali ke petani.  Dinas Pertanian yang tugasnya berhubungan erat dengan para petani juga tak mendapat sosialisasi.

"Saya juga tahu itu (proyek Cikunten) dari petugas lapangan," ujarnya.

Roni menyatakan, mendukung rehabilitasi irigasi Cikunten karena bakal mengoptimalkan saluran air yang bermanfaat bagi petani. Kendati demikian, tuturnya, harus ada koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Dinas Pertanian.

Kini, dinas pertanian akan melihat dahulu jalannya sistem empat hari penutupan irigasi dan dua hari pembukaannya dalam pelaksaaan rehabilitasi. Jika sistem tersebut tak memberikan kecukupan air, para petani dipastikan kembali melakukan protes.

Dua paket

Dalam laman https://lpse.pu.go.id, terdapat dua paket proyek Cikunten, yaitu rehabilitasi jaringan irigasi di Cikunten 1 dan II. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menjadi instansi pengelola proyek dengan sumber dana dari APBN 2019.

Nilai pagu paket Cikunten I dan II mencapai Rp 52.972.220.000,00. Paket Cikunten 1 berlokasi di Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya. Sementara Cikunten II di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya dan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. 

Protes telah diajukan pembudidaya ikan tawar karena penutupan saluran irigasi berdampak buruk pada ikan-ikan peliharaan yang kolamnya bisa kehilangan pasokan air. Proyek Cikuten pun berpotensi menyulut konflik antarpetani lantaran rebutan air yang semakin terbatas.

Momen pelaksanaan proyek yang berlangsung selama 200 hari tersebut juga tidak tepat lantaran bertepatan dengan musim kemarau.

Sementara itu, Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto mengaku belum menerima lapora resmi terkait rehabilitasi Cikunten. Meskipun menilai proyek perbaikan irigasi itu baik demi kelancaran pasokan air, ia meminta nasib para petani diperhatikan.

"Bagaimana caranya, jangan sampai di tengah-tengah kita kesulitan air, masyarakat kita dirugikan," ujarnya di Kantor Bupati Tasikmalaya, Singaparna belum lama ini.

Ia meminta pelaksanaan proyek mengacu pada kebutuhan air masyarakat. Untuk itu, saluran irigasi mesti tetap dibuka untuk memenuhi kepentingan masyarakat.

"Jangan sampai masyarakat kekurangan," kata Ade. Ia mengaku telah menugaskan Plt Sekda Iin Aminudin  guna segera mengatasi kemungkinan-kemungkinan dampak akibat kekeringan.

"Termasuk di dalamnya adalah kelancaran (distribusi air) para petani," ucapnya.

Hasil penelusuran

Pikiran Rakyat menelusuri pula pengerjaan rehabilitasi Cikunten II di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jumat, 19 Juli 2019 sore. Debit air tampak menyusut di saluran irigasi tersebut yang berada di Kampung Warung Lebak, Kelurahan Cipari.

Jejak pengerukan lumpur terlihat di dasar irigasi. Lili (60), warga Warung Lebak mengungkapkan, pelaksanaan proyek yang diawali pengerukan telah berlangsung sejak pekan lalu menggunakan pacul. Dari keterangan pekerja, lanjut Lili, sisi dan dasar irigasi bakal dicor. 

Namun, kelanjutan proyek berhenti sejak tiga hari lalu. Lili mengaku mendengar informasi proyek itu terkendala urusan di atas. Tetapi ia tak menjelaskan urusan tersebut terkait apa.  Ia menyatakan, rencana penutupan saluran irigasi selama empat hari memberatkan petani.

"Pami aya hujan moal berat, pami teu aya hujan rada abot," ujarnya.

Konflik antarpetani gampang tersulut karena permasalahan itu. Soalnya, praktik pemotongan air bisa dilakukan di hulu irigasi Cikunten II agar petani di wilayah sana tetap mendapatkan pasokan. Dampaknya, petani di wilayah hilir yang tak kebagian tersulut amarah serta berujung konflik.***

Bagikan: