Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 18.2 ° C

Kisah Guru SMA Cokroaminoto Bergerilya Mencari Siswa

Ani Nunung Aryani

SEKOLAH Menengah Atas (SMA) Cokroaminoto, Kota Cirebon, adalah SMA swasta paling tua di Cirebon yang didirikan dengan tujuan menghasilkan kader partai politik yang berpendidikan. SMA ini pernah menjadi sekolah favorit, bahkan mengalahkan pamor sekolah negeri.

Saat ini, kepala sekolah termasuk guru dan staf tata usaha, terus bergerilya mencari siswa untuk bersekolah di SMA ini. Selama empat hari mulai Senin, 15 Juli 2019, hingga Kamis, 18 Juli 2019, ada tambahan tiga siswa laki-laki.

Menurut Kepala SMA Cokroaminoto Mohamad Tajudin, tambahan tiga siswa didapat oleh guru bahasa Indonesia, Titin.

"Tiga siswa tambahan semuanya warga Pancuran, Kota Cirebon, tidak jauh dari lokasi sekolah," katanya kepada Pikiran Rakyat, Kamis, 18 Juli 2019.

Akan tetapi, kata Tajudin, ketiga siswa melalui orang tuanya baru menitipkan berkas-berkas dokumen untuk pendaftaran. Ketiganya masih belum aktif masuk sekolah. 

Meski pihak orang tua enggan berterus terang soal alasan anaknya masih belum masuk sekolah, namun Tajudin menduga hal itu lantaran anak-anak tersebut belum memiliki seragam sekolah.

"Biasanya tahun yang sudah-sudah begitu, malu kalau masuk sekolah tapi belum pakai seragam," katanya.

Menurut Tajudin, seragam memang wajib dikenakan oleh siswa SMA Cokroaminoto. "Namun kalau pilihannya antara mengutamakan berseragam dengan bersekolah dulu, prioritas tentu sekolah dulu," ujarnya.

Tajudin menyadari, ketiga siswa yang baru mendaftar berasal dari keluarga tak mampu. Ketiganya bahkan anak-anak putus sekolah yang kemudian mengikuti kelompok belajar paket B, sehingga ijazah yang digunakan juga ijazah paket B.

"Sehingga boro-boro untuk membeli seragam, untuk makan sehari-hari saja sulit," katanya.

Menurutnya, dengan kondisi latar belakang ekonomi mereka, pihak sekolah menggratiskan semua biaya sekolah, termasuk pendaftaran dan biaya-biaya lainnya.

"Namun untuk seragam, tentu harus mengusahakan sendiri. Karena dengan gratisnya semua biaya sekolah, otomatis ada beberapa komponen yang kami guru-guru di sini, juga harus patungan menutupinya," ucap Tajudin.

Di bawah ambang minimal

Diakui Tajudin, tambahan tiga siswa masih jauh dari jumlah minimal yang disyaratkan dalam satu rombongan belajar. Sehingga, guru dan staf TU masih akan terus berjuang mencari siswa.

Semua guru dan bagian tata usaha tidak terkecuali kepala sekolah, mendapat tugas mencari siswa dari pintu ke pintu, dengan wilayah tugas masing-masing.

Misalnya Kepala Sekolah Mohamad Tajudin, mendapat tugas "bergerilya" mencari siswa di wilayah utara Kabupaten Cirebon, mulai dari Kecamatan Pasindangan, Gunungjati, Suranenggala, sampai Kapetakan dan sekitarnya

Upaya terus bergerilya untuk mendapatkan siswa, menurut Tajudin mengadopsi sistem angkutan kota, yang akan jalan terus selama masih ada penumpang.

"Kami di SMA Cokroaminoto mengadopsi sistem angkot, yang akan terus menaikan penumpang sepanjang masih ada penumpang. Batasnya nanti sampai menjelang pelaksanaan UTS," katanya.

Sekolah favorit

Tajudin mengungkapkan, SMA yang didirikan dengan tujuan melahirkan kader Partai Politik Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang berpendidikan tinggi pada tahun 1955, pernah menjadi sekolah favorit bahkan mengalahkan sekolah negeri.

Sekolah memiliki fasilitas laboratorium yang lengkap dari semua jurusan yang ada. Bahkan, sekolah negeri sempat ada yang meminjam alat dari laboratorium SMA Cokroaminoto. Saat ini karena hanya ada satu jurusan yakni IPS, semua peralatan laboratorium terpaksa digudangkan. 

Adapun sejumlah lulusan SMA Cokroaminoto berhasil menduduki sejumlah jabatan di pemerintahan, baik di Kota Cirebon maupun kota lainnya. "Termasuk Direktur Utama PDAM Kota Cirebon Pak Sofyan Satari, adalah alumnus SMA Cokroaminoto," katanya.

Patungan

Salah seorang guru, Sumirah, mengungkapkan bahwa karena hanya mengandalkan bantuan biaya operasional sekolah (BOS) untuk membiayai operasional sekolah, guru-guru sudah biasa patungan untuk menutupinya.

"Kami sudah biasa menghadapi kondisi orang tua siswa yang serba kekurangan, sehingga kami juga terbiasa untuk patungan. Misalnya agar siswa bisa mengikuti ujian nasional berbasis komputer atau UNBK yang harus menumpang di sekolah lain, kami guru-guru patungan," tutur Sumirah.

Adanya dana sertifikasi guru yang diterima setiap tiga bulan sekali, diakuinya sangat membantu guru-guru. Tajudin dan Sumirah bersyukur, ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Pendidikan Menengah Universal (BPMU).

Dana hibah BPMU SMA/SMK swasta dan MA Provinsi Jawa Barat adalah bantuan dana untuk membantu sekolah dalam memenuhi biaya operasional.

"Boro-boro untuk membayar SPP, untuk ongkos transportasi dari rumah ke sekolah saja, kami guru-guru seringkali harus rela merogoh kocek pribadinya untuk membantu siswa," katanya.

Bahkan, tidak sedikit siswa SMA Cokroaminoto yang berlatar belakang keluarga broken home, sehingga cenderung cuek dengan anaknya.

"Tidak sedikit orang tua siswa yang tidak peduli dengan anaknya. Mau sekolah silahkan, tidak sekolah juga tidak masalah. Makanya kami guru-guru harus aktif memantau siswa. Bahkan seringkali harus menjemput siswa ke rumahnya agar bisa ikut ujian," katanya.***

Bagikan: