Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 28.1 ° C

Ketimbang Ciamis, Nama Galuh Lebih Sarat Makna

Nurhandoko
BUPATI Ciamis Herdiat Sunarya (memegang mic) bersama Wakil Bupati Yana D Putra didampingi Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis Yat Rospia (kiri) bertemu dengan kalangan budayawan serta sastrawan tatar galuh Ciamis, di Aula Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Kamis 18 Juli 2019.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
BUPATI Ciamis Herdiat Sunarya (memegang mic) bersama Wakil Bupati Yana D Putra didampingi Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis Yat Rospia (kiri) bertemu dengan kalangan budayawan serta sastrawan tatar galuh Ciamis, di Aula Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Kamis 18 Juli 2019.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

CIAMIS,(PR).- Wacana mengubah nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh kembali mengemuka. Penamaan nama galuh dinilai lebih sarat makna serta memiliki jalinan dengan perjalanan sejarah dibandingkan dengan Ciamis saat ini. 

Gagasan tersebut  menjadi salah satu topik bahasan yang mendapatkan perhatian penuh saat berlangsungnya pertemuan yang dikemas dalam silaturahmi bupati Ciamis dengan kalangan budayawan, sastrawan, juru kunci situs budaya serta kabuyutan tatar galuh Ciamis, Kamis 18 Juli 2019. Selain kembali mengabadikan nama Galuh, gagasan lain yang muncul yakni belum terwujudnya kampung budaya berikut pernak perniknya. 

Pertemuan yang dikemas dengan sederhana tersebut , diikuti Bupati Ciamis Herdiat Sunarya dan Wakilnya Yana D Putra, Kepala Dinas Pariwisata  Toto Marwoto. Juga hadir Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis, Yat Rospia Brata yang Rektor Universitas Galuh. Termasuk sastrawan Godi Suwarna, juru kunci cagar Budaya Salawe, Adiwidjaya yang lebih sering disapa Abah Latif, serta utusan dari kabuyutan yang ada di Ciamis. 

“Dari sepuluh yang mengajukan pertanyaan, dapat dikerucutkan menjadi keinginan mengganti nama Ciamis menjadi Galuh. Kami menyambut baik gagasan yang dilontarkan kalangan budayawan, termasuk kabuyutan.  Untuk itu, kami juga masih membutuhkan  masukkan dari seluruh elemen lainnya,” tutur Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, dalam pertemuan yang diadakan di aula Dinas Pariwisata Ciamis.

Menampung aspirasi 

Herdiat mengungkapkan bahwa saat ini tengah maraton menampung aspirasi langsung dari seluruh kalangan masyarakat demi Ciamis ke depan yang lebih baik.  Gagasan tersebut tidak hanya dalam sisi sosial budaya, akan tetapi juga infrastruktur, sarana dan prasarana serta bidang lain yang berkenaan dengan kesejahteraan masyarakat. 

“Kami bakal memelajari gagasan tersebut secara mendalam. Menampung aspirasi dari budayawan, kalangan generasi muda, pemerintah daerah, serta lainnya,” katanya. 

Lebih lanjut Herdiat juga menyoroti soal berbagai versi sejarah Galuh yang berkembang di masyarakat maupun kabuyutan. Untuk mengatasi keadaan tersebut, dia menegaskan perlu dilakukan penyusunan sejarah Galuh yang baku. 

“Saya ingin ada penyusunan sejarah Galuh baku, yang bakal menjadi pedoman bersama. Sekarang ini kan simpang siur, semua berkembang dengan versi berbeda-beda. Untuk itu harus melalui kajian ilmiah, yang dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya secara akademis, akan tetapi juga yang lain,” kata Herdiat. 

Sementara itu sastrawan Godi Suwarna juga sepakat perlu dilakukan kajian Ciamis menjadi Galuh. Selain itu juga menyambut baik gagasan kampung maupun taman budaya galuh.   

Hal itu disebabkan karena yang ada saat ini, dinilai tidak memiliki getaran sehingga terasa hampa. 

“Karena tidak ada getaran, tidak memiliki ikatan emosial. Gagasan taman atau kampung budaya dengan konsep kiwari, harus mampu menggugah semangat kegaluhan,” ujarnya.***

Bagikan: