Pikiran Rakyat
USD Jual 14.075,00 Beli 14.173,00 | Cerah berawan, 32.4 ° C

Semula untuk Masak, Gas Melon di Cirebon Kini Digunakan untuk Pompa Irigasi

Agung Nugroho
ILUSTRASI.*/DOK. PR
ILUSTRASI.*/DOK. PR

SUMBER, (PR).- Kemarau panjang dan kekeringan ternyata menjadi penyebab langsung terjadinya kelangkaan gas elpiji tiga kilogram atau ang dikenal dengan gas melon. Terjadi alih fungsi penggunaan gas melon oleh petani, dari semula untuk memasak, belakangan digunakan untuk menghidupkan mesin pompa air.

“Di lapangan kami mendapati banyak gas melon digunakan petani untuk menghidupkan pompa air karena areal persawahannya kekeringan,” tutur Unit Manager Communication Relation dan Coorporate Social Responsibility Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III, Dewi Sri Utami, Kamis, 18 Juli 2019.

Pertamina telah menelusuri penyebab kelangkaan gas melon di Wilaah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciaumajakuning) beberapa pekan ini. Ada penyebab misterius, sebab dari data yang ada, tidak ada pengurangan jumlah pasokan maupun distribusi dari pangkalan, agen hingga ke warung-warung.

“Alih fungsi ini mengganggu pasokan gas melon. Elpiji tiga kilogram yang harusnya untuk rumah tangga dan usaha mikro, dialihfungsikan untuk mengoperasikan pompa air. Tentu saja ini yang membuat pasokan menjadi tidak seimbang antara data dan kondisi lapangan," kata Dewi.
 

AWAK armada truk dari sebuah perusahaan agen elpiji tengah menurunkan gas melon di sebuah pangkalan di Desa Sukaraja, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka beberapa hari lalu.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

Alih fungsi terjadi terutama di sentra-sentra pertanian. Para petani yang areal sawahnya kekeringan, terpaksa mencari sumber air dengan pompa air ang mesinnya digerakan dengan menggunakan gas elpiji.

“Ini terjadi di banyak tempat di Ciayumajakuning. Satu unit pompa setiap hari bisa menghabiskan lima sampai tujuh tabung gas melon. Pantas saja, terjadi ketidakseimbangan penggunaan,” tutur dia.

Kelangkaan gas melon sebagai dampak dari kemarau panjang dan kekeringan ini baru pertama kali terjadi. Hal ini berkaitan dengan ditemukannya mesin penyedot air atau pompa air ang berbahan bakar dari gas elpiji.

Petani beralih ke gas melon untuk menghidupkan pompa karena dinilai lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar minyak (BBM). Fenomena baru ini menjadi catatan sendiri bagi Pertamina maupun Hiswana Migas. “Ini menjadi catatan tersendiri. Ada fenomena baru di lapangan yang berhubungan dengan kuota, pasokan dan alokasi gas melon,” tuturnya.

Pasokan tambahan

Kendati ada penyalahgunaan, Pertamina bersama Hiswana dan masing-masing pemerintah daerah, tetap melakukan penambahan pasokan. Sejak 13 Juli 2019 baru lalu, sudah ada tambahan pasokan sebanyak 187.040 gas melon didistribusikan ke Ciaumajakuning.

“Kita menempuh upaya dengan fakultatif tambahan distribusi sebesar 100 persen. Lalu pemerintah daerah juga melakukan pengajuan fakultatif sebesar 150 persen atau 1,5 kali alokasi harian untuk bulan Juli ini,” tutur Dewi.

Pertamina kini tengah memproses surat pengajuan tambahan fakultatif ke Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Hiswana Migas sebesar 150 persen. Upaya lain, untuk memperketat distribusi agar tidak terjadi penyalahgunaan, distribusi gas melon sekarang dilakukan secara tertutup.

“Pembelian oleh masyarakat dan pelaku usaha menggunakan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Tapi memang karena petani juga butuh untuk mengairi sawah, alih fungsi ini tak bisa dihindari,” tuturnya.

Kepala Seksi Pedagangan Dalam Negeri Bidang Perdagangan dan Promosi Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Cirebon, Dini Dinarsih, menjelaskan, tidak ada pengurangan kuota pasokan sepanjang bulan Juli 2019 ini. Bahkan dibanding tahun 2018 lalu, tahun 2019 ini justru ada penambahan pasokan.

“Kuota dan pasokan bahkan dinaikan tahun ini. Hanya memang ada penggunaan ang diluar alokasi ini ang menyebabkan terjadinya kelangkaan,” tutur dia.***

Bagikan: