Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.8 ° C

Polres Ciamis Ringkus Enam Anggota Sindikat Pembobol ATM

Nurhandoko
KAPOLRES Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bismo Teguh Prakoso didampingi Kasat Reskrim Ajun Komisaris Polisi (AKP) Hendra Virmanto menunjukkan barang bukti sisa uang tunai dari sindikat pembobol ATM, Kamis, 18 Juli 2019 di Mapolres Ciamis.  Keenam tersangka yang berasal dari Lampung itu diringkus saat makan siang di Rumah Makan Mulyasari, Kecamatan Baregbeg, Ciamis.*/NURHANDOKO/PR
KAPOLRES Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bismo Teguh Prakoso didampingi Kasat Reskrim Ajun Komisaris Polisi (AKP) Hendra Virmanto menunjukkan barang bukti sisa uang tunai dari sindikat pembobol ATM, Kamis, 18 Juli 2019 di Mapolres Ciamis. Keenam tersangka yang berasal dari Lampung itu diringkus saat makan siang di Rumah Makan Mulyasari, Kecamatan Baregbeg, Ciamis.*/NURHANDOKO/PR

CIAMIS,(PR).- Satuan Reserse Kriminal Polres Ciamis berhasil meringkus enam anggota sindikat pembobol anjungan tunai mandiri (ATM) yang selama ini beroperasi di berbagai wilayah di Jawa Barat. Komplotan yang berasal dari Lampung itu diringkus ketika sedang makan siang di sebuah rumah makan di wilayah Kecamatan Baregbeg. Ciamis.

Polisi juga terpaksa memngambil tindakan tegas terukur di bagian kaki, karena ketika hendak ditangkap mereka hendak melarikan diri serta dapat membahayakan petugas. Selain enam tersangka yang sudah ditangkap Rabu, 17 Juli 2019, polisi juga masih memburu tiga anggota sindikat lainnya.

“Modusnya dengan cara mengganjal ATM. Sindikat tersebut sudah 21 kali beroperasi di 7 ATM di Ciamis. Kami masih mengembangkan kasus ini, sebab tidak menutup kemungkinan masih ada yang ditutupi,” tutur Kapolres Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bismo Teguh Prakoso, kepada wartawan di Mapolres Ciamis, Kamis, 18 Juli 2019.

Didampingi Kasat Reskrim Ajun Komisaris Polisi (AKP) Hendra Virmanto, lebih lanjut Bismo menjelaskan dalam aksinya, komplotan tersebut berbagi tugas. Dua orang tersangka yakni A dan R bertindak sebagai eskekutor pembobol ATM, sedangkan empat lainnya mengawasi kondisi sekitar.

Saat menjalankan aksinya, mereka memasukkan kartu ATM sebagaimana mestinya. Ketika slot uang terbuka, dengan cepat diganjal dengan obeng. Kemudian menggunakan besi kecil yang dimodifikasi, mereka mengait uang di dalam mesin ATM. “Pelaku tidak mengganjal slot kartu, akan tetapi slot keluarnya uang diganjal dengan obeng. Uang diambil dengan besi pengait,” jelasnya.

Berdasar pengakuan, sekali beroperasi berlangsung selama seminggu, mulai saat berangkat dari Lampung hingga Ciamis. Selama perjalanan, mereka juga membobol ATM di beberapa tempat. Dalam sekali beroperasi, mereka dapat menarik uang hingga Rp 38 juta.

Selama di Ciamis, sindikat tersebut tidak hanya membobol ATM yang ada di wilayah pinggiran, akan tetapi juga di tengah kota. Komplotan tersebut sudah tiga bulan beroperasi di Ciamis, mulai Bulan Mei 2019.
 

Terungkapnya kasus tersebut  bermula ketika polisi menerima laporan dari salah satu bank yang mengungkapkan ATM-nya dibobol. Hasil pemeriksaan CCTV, serta beberapa saksi, diketahui rentetan aksi bobol ATM dilakukan oleh sindikat yang sama.  

Kejadian pertama berlangsung pada 20 Mei 2019 pelaku membobol ATM di wilayah Cikoneng. Berikutnya pada tanggal 15 Juni 2019, sindikat tersebut kembali membobol ATM yang sama.

“Setelah beroperasi di Ciamis, komplotan kembali ke Lampung. Sepanjang perjalanan pelaku juga membobol ATM. Kami juga terpaksa mengambil tindakan tegas yang terukur, karena ketika hendak ditangkap mereka berupaya melarikan diri serta dapat membayakan petugas,” ungkap Bismo.
 

Lebih lanjut Bismo mengungkapkan selain enam orang yang telah ditangkap, masih ada tiga orang lainnya yang masuuk daftar pencarian orang. Pelaku dijerat dengan Pasal 363 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara.

Sementara itu Kasat Reskrim AKP Hendra Virmanto  menambahkan ketiga pelaku yang masih DPO, adalah yang mengajari A dan R membobol ATM. Dalam aksinya di Ciamis pelaku pernah tiga kali membobol empat ATM yang sama dalam kurun waktu berbeda.

Sekali membobol, dapat menarik uang tunai berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 4,5 juta. Dari satu bank yang melapor, mengalami kerugian total hingga Rp 38 juta. Dalam operasinya keenam pelaku naik mobil Daihatsu Xenia Nopol BE 2579 UB.

“Komplotan tersbeut sudah beroperasi selama tiga bulan. Mereka berbagi tugas, dua orang sebagai pembobol, empat lainnya berjaga di luar. Uang hasil mengail uang di ATM dibagi rata, uangnya untuk foya-foya,” tutur Hendra.***

Bagikan: