Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.5 ° C

Pemkab Purwakarta Restui Pengurangan KJA di Waduk Jatiluhur

Hilmi Abdul Halim
SEJUMLAH kapal cepat berlayar menuju Pulau Biru di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu, 17 Juli 2019. Pemerintah bersama Perum Jasa Tirta II bersepakat untuk mengembangkan sektor pariwisata air yang berada di Waduk Jatiluhur dengan harapan dapat meningkatkan fungsi sosial dan fungsi konservasi atau penataan lingkungan untuk mengembangkan nilai ekonomi masyarakat.*/ANTARA
SEJUMLAH kapal cepat berlayar menuju Pulau Biru di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu, 17 Juli 2019. Pemerintah bersama Perum Jasa Tirta II bersepakat untuk mengembangkan sektor pariwisata air yang berada di Waduk Jatiluhur dengan harapan dapat meningkatkan fungsi sosial dan fungsi konservasi atau penataan lingkungan untuk mengembangkan nilai ekonomi masyarakat.*/ANTARA

PURWAKARTA, (PR).- Sekitar 15.000 Keramba Jaring Apung di Waduk Ir H Juanda Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta akan ditertibkan. Pengurangan KJA yang mencapai setengah dari jumlah keseluruhan itu telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah setempat.

"(Yang terpenting) jaring apung tidak dihilangkan. Mungkin akan dikurangi, misalkan sekarang ada 30 ribu kita bisa kurangi setengahnya," kata Wakil Bupati Purwakarta Aming, Rabu, 17 Juli 2019. Ia akhirnya menyetujui penataan KJA di Waduk Jatiluhur setelah menemui Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Alasannya menyetujui karena Gubernur memastikan produktivitas perikanan masyarakat tidak berkurang meskipun jumlah KJA-nya dikurangi. Penataan KJA termasuk dalam rencana penataan bendungan tersebut oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Perum Jasa Tirta II selaku pengelola.

"KJA-nya saja yang akan berkurang, petaninya kayaknya tidak akan berkurang. Misalnya sekarang punya 100 petak, nanti dibagi lah 20 atau 30 (untuk petani lainnya). Jadi dengan luas yang berkurang, produktivitasnya tetap," tutur Aming. Sebelumnya, ia menolak karena tidak ada solusi bagi para pemilik KJA.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengakui penataan KJA termasuk rencana penataan Waduk Jatiluhur sebagai kawasan wisata. "Dalam proses (pengembangan pariwisata) ini ada (sumber) perkonomian lokal yang harus diperbaiki. Jaring apung ini akan diatur jumlahnya," katanya.

Meskipun demikian, gubernur yang akrab disapa Emil menegaskan tidak akan menghilangkan seluruh KJA. Ia mengaku hanya akan mengurangi jumlahnya tapi belum bisa menentukan berapa banyak yang dikurangi. Hal itu diakui masih dalam pembahasan.

KERAMBA jaring apung di Waduk Jatiluhur.*

Dengan luas KJA yang berkurang signifikan, Emil meyakinkan produktivitas perikanan masyarakat tidak akan berkurang. "Jadi ada suatu teknologi baru yang sedang kita eksperimenkan dalam tiga bulan untuk membuktikan satu teori," katanya.

Teknologi tersebut dipercaya dapat membuat air dalam KJA dan air di Waduk Jatiluhur tidak bercampur secara langsung. Emil mengatakan penelitian terkait masih dilakukan oleh para ahli dari Institut Teknologi Bandung yang bekerja sama dengan satu lembaga maritim di negara Swiss.

Dengan tambahan cara membudidayakan ikan dalam KJA yang lebih baik, Emil meyakini hasil produksi ikan dapat berlipat ganda. "Maka, produksi ikannya tetap tapi mengurangi potensi kerusakan lingkungan secara signifikan," katanya.

Setelah teknologi tersebut berhasil mengurangi jumlah KJA di Waduk Jatiluhur, pemerintah provinsi berencana menerapkannya di kawasan perairan lainnya yang terdapat KJA. "Kata kuncinya tidak menghilangkan ekonomi rakyat tapi memperbaiki dengan inovasi dan teknologi," tutur Emil.***

Bagikan: