Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.8 ° C

Hidup Harmonis di Daerah Rawan Gempa Tsunami, Bisa!

Agus Kusnadi
PETUGAS BPBD Kabupaten Pangandaran sedang melakukan program mitigasi go to school ke sejumlah sekolah, terutama yang berada di daerah pesisir pantai. Menyikapi prakiraan pakar mengenai gempa yang akan mengguncang pesisir selatan Pulau Jawa, BPBD Kabupaen Pangandaran mengimbau warga agar memantapkan pemahaman mengenai mitigasi bencana.*/AGUS KUSNADI/KP
PETUGAS BPBD Kabupaten Pangandaran sedang melakukan program mitigasi go to school ke sejumlah sekolah, terutama yang berada di daerah pesisir pantai. Menyikapi prakiraan pakar mengenai gempa yang akan mengguncang pesisir selatan Pulau Jawa, BPBD Kabupaen Pangandaran mengimbau warga agar memantapkan pemahaman mengenai mitigasi bencana.*/AGUS KUSNADI/KP

PANGANDARAN,(PR).- Warga di Kabupaten Pangandaran terutama yang bermukim di daerah pesisir pantai mengaku resah dengan adanya pemberitaan dari para pakar Tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) yang memprakirakan, gempa megathrust dengan magnitudo 8,8 berpotensi terjadi di selatan Pulau Jawa dan bisa menyebabkan timbulnya gelombang tsunami dengan ketinggian 20 meter di sepanjang pantai tersebut.

Kekhawatiran tersebut juga dirasakan oleh sejumlah para pelaku usaha pariwisata di Kabupaten Pangandaran. Hal tersebut diketahui dari tanggapan yang disampaikan melalui media sosial Whatsapp dan Facebook.

Menyikapi hasil kajian dari para pakar tsunami dan gempa bumi yang di gelar di Yogyakarta beberapa waktu lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran menyampaikan press rilisnya dari pihak BMKG Bandung. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Nana Ruhena menanggapi, bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa soal hasil kajian dari para pakar tsunami dan gempa bumi di Yogyakarta.

"Itu yang berbicara kan para pakar, kita tidak bisa menyangkalnya. Dan informasi tersebut walau menakutkan harus disampaikan kepada masyarakat tujuannya agar kita selalu waspada," ujar Nana saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis, 18 Juli 2019.

Kemudian Nana juga menyampailan informasi dari BMKG Bandung bahwa info tentang potensi gempa bumi dan tsunami sampai saat ini, di seluruh dunia, belum ada ilmu dan teknologi yang bisa melakukan prakiraan, kapan gempa bumi akan terjadi. "Benar memang terdapat potensi gempa dan tsunami di laut selatan Jawa," ucap Nana. 

Tetapi kata dia, yang disampaikan di beberapa berita adalah kemungkinan terburuk berdasarkan model teoritis, yang waktu kejadiannya tidak dapat diprediksi. "Yang perlu kita lakukan bersama, adalah melakukan langkah mitigasi pengurangan resiko gempa dan tsunami secara bertahap dan dimulai dari yang kecil disekitar kita," ujarnya. 

Nana mencontohkan, misal dengan menyusun rencana jalur evakuasi saat terjadi gempa yaitu ke tempat terbuka terdekat di halaman yg aman, jalur evakuasi tsunami di sekitar pantai ke tempat yang lebih tinggi atau menjauh dari pantai, memeriksa kekuatan bangunan dan menata interior agar benda tidak jatuh saat gempa.

"Gempa dan tsunami adalah tetangga kita. Kita bisa hidup harmonis bersama potensi bencana tersebut, dengan melakukan langkah mitigasi pengurangan resiko, seperti di negara lain yang memiliki ancaman bencana gempa tsunami yang lebih besar dari Indonesia, tetapi negara tersebut dapat menjadi sejahtera dan maju dengan langkah mitigasi," ujar Nana.

Masih informasi dari BMKG Bandung, kata Nana, BMKG siap melayani info gempa dan tsunami, masyarakat dapat memperoleh info gempa dan peringatan dini tsunami melalui aplikasi di HP yaitu "info BMKG" dan aplikasi "WRS-BMKG" , dan melalui media sosial Twitter (@infoBMKG), Facebook "info BMKG".***

Bagikan: