Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 28.5 ° C

Misterius, Gas Melon Menghilang Tanpa Penjelasan

Agung Nugroho
FOTO ilustrasi gas melon.*/DOK. PR
FOTO ilustrasi gas melon.*/DOK. PR

SUMBER, (PR).- Sudah setengah bulan terakhir di bulan Juli 2019 ini,  gas berisi tiga kilogram atau lebih dikenal sebagai gas melon, menghilang dari pasaran di Kabupaten Cirebon. Masyarakat konsumen gas tersebut, baik untuk keperluan rumah tangga maupun pedagang kecil, kelimpungan.

Nyaris tidak tersedia di warung-warung tempat biasa masyarakat membeli. Untuk mendapatkannya, masyarakat sampai harus keluar desa, atau langsung ke agen dan distributor, itupun harus antre dengan konsumen lain yang juga sama-sama kesulitan.

"Susah sekali mendapatkan gas melon. Kalau mau dapat, harus ke a en atau distributor. Itupun harus ngantre lama," kata Emi (42 tahun), warga Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Rabu 17 Juli 2019.

Kesulitan sama dialami warga lainnya. Dalam dua minggu ini, tidak sedikit masyarakat yang terpaksa membuat kompor darurat dan memasak dengan kayu bakar.

“Kami terpaksa memasak dengan kayu bakar. Kalau sudah dapat gas melon, baru masak dengan kompor biasa,” tutur Warkim (38 tahun), warga Desa/Kecamatan Kanci.

Masyarakat kebingungan dengan menghilangnya gas melon di pasaran. Sebab tidak ada kejelasan penyebabnya, baik agen maupun distributor juga tidak bisa memberi jawaban pasti kenapa gas melon sulit didapat.

“Baik warung, agen maupun distributor juga tidak tahu kenapa langka. Selama ini, kalau ke distributor hanya ketemu pekerjanya saja, bukan majikannya. Pekerjanya juga tidak tahu, kalau ditanya hanya mengaku kalau sejak dari Pertamina jumlahnya terbatas,” tutur Mail (39 tahun), warga Bandengan, Mundu.

Kelangkaan gas melon di Cirebon terjadi merata. Tidak saja di kecamatan di wilayah timur, di wilayah barat juga sama. Masyarakat mengeluhkan dengan sulitnya memperoleh gas melon tersebut.

“Saya harus antre dua jam hanya untuk mendapatkan dua tabung,” tutur Anto (38 tahun), warga Desa Marikangen, Kecamatan Plumbon.

Terjadi merata

Menyusul kelangkaan, otomatis harga juga terdongkrak naik. Di warung, yang biasanya Rp 17.000 sampai Rp 18.000 per tabung, naik bisa mencapai Rp 24.000 per tabung.

“Itupun barangnya susah di dapat. Mereka ang mau antri di pangkalan, harga memang relatif murah, Rp 17.000 per tabung, tapi harus rela antri dan jaraknya jauh dari rumah,” tutur Supriatna (40 tahun), warga Desa/Kecamatan Tengah Tani.

Kepala seksi  Pedagangan Dalam Negeri Bidang Perdagangan dan Promosi Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Cirebon, Dini Dinarsih, mengaku kelangkaan ini cukup misterius. Pasalnya, dilihat dari data, jumlah ang beredar itu sama dengan kuota yang ditetapkan.

Kuota tahun 2019 ada peningkatan pasokan gas dibandingkan 2018 lalu. Tahun 2019 ini sebanak 21.292.000 tabung, rata-rata per bulan 1.774.333 tabung atau 258.334 tabung per hari. Dari sisi pasokan dan ketersediaan gas melon juga tidak ada pengurangan.

Bahkan, Pertamina dan Hiswana Migas sudah mengirim tambahan pasokan untuk mengatasi kelangkaan. Pemerintah Kabupaten Cirebon juga mengajukan tambahan fakultatif sebesar 150 persen atau 1,5 × alokasi harian untuk bulan Juli ini.

"Padahal distribusi gas 3 kg sekarang sudah lebih selektif, pembelian oleh masyarakat dan pelaku usaha menggunakan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Sebetulnya tidak ada kendala. Tapi, enggak tahu kenapa ya bisa langka?" kata Dini.***

Bagikan: