Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.8 ° C

Agustus 2019, Puncak Kemarau di Jawa Barat

Nuryaman
RAPAT Koordinasi Persiapan Menghadapi Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Jawa Barat tahun 2019, antara BPBD Provinsi Jabar dengan BPBD kabupaten dan kota se-Jawa Barat yang digelar BPBD Provinsi Jabar di Hotel Horison Titra Sanita, Kabupaten Kuningan, Selasa, 16 Juli 2019.*/NURYAMAN/PR
RAPAT Koordinasi Persiapan Menghadapi Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Jawa Barat tahun 2019, antara BPBD Provinsi Jabar dengan BPBD kabupaten dan kota se-Jawa Barat yang digelar BPBD Provinsi Jabar di Hotel Horison Titra Sanita, Kabupaten Kuningan, Selasa, 16 Juli 2019.*/NURYAMAN/PR

KUNINGAN, (PR).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat dan BPBD kabupaten dan kota di Jawa Barat sepakat mengajukan rekomendasi kepada Gubernur Jabar untuk menetapkan wilayah Jawa Barat dalam status siaga darurat bencana kekeringan. Jangka waktu yang disepakati yaitu mulai 1 Agustus sampai 31 Oktober 2019.

Hal itu disepakati melalui Rapat Koordinasi Persiapan Menghadapi Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Jawa Barat tahun 2019, antara BPBD Provinsi Jabar dengan BPBD kabupaten dan kota se-Jawa Barat yang digelar BPBD Provinsi Jabar di Hotel Horison Titra Sanita, Kabupaten Kuningan, Selasa, 16 Juli 2019.

“Hasil kesepakatan rakor ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada Gubernur Jawa Barat, untuk menetapkan wilayah Jabar dalam status tersebut mulai tanggal 1 Agustus sampai dengan 31 Oktober 2019, melalui surat keputusan Gubernur Jabar,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Barat Didi Aji Sidik, seusai memimpin dan memberikan materi dalam rakor tersebut.

Dalam rakor tersebut juga dirilis informasi BMKG pada dasarian II bulan Juli 2019. Disebutkan, peluang curah hujan di bawah normal atau di bawah 50 mm akan terjadi di hampir 90 persen wilayah Jabar. Sampai tanggal 12 Juli 2019 tercatat sudah ada 12 kabupaten kota di Jabar melaporkan di daerahnya telah terjadi kekeringan.

Terkait hal itu, Kepala Stasiun Geofisika Bandung Tony Agus Wijaya kepada Pikiran Rakyat menyebutkan, puncak musim kemarau tahun 2019 di wilayah Jawa Barat diperkirakan akan terjadi di bulan Agustus.

“Jabar sekarang sedang berada di musim kemarau. Musim kemarau di wilayah Jawa Barat tahun ini secara umum mulai dari Mei sampai nanti Oktober. Dan, nanti akan mencapai puncaknya di bulan Agustus,” ujarnya

Di bulan Agustus, curah hujan di sebagian besar wilayah Jabar diperkirakan sangat sedikit.  Bahkan, di bebrapa tempat tidak ada hujan sama sekali.

“Kalaupun pada bulan Agustus di beberapa daerah ada hujan, hanya hujan ringan atu gerimis,” ujar Tony.

Tingkatkan koordinasi

Rakor dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jabar, Supriyatno. Pesertanya yaitu kepala pelaksana dan sejumlah unsur pimpinan BPBD dari kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Selain itu, rakor juga dihadiri Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Tony Agus Wijaya, yang bertindak sebagai narasumber.

Untuk menganggulangi bencana kekeringan pada musim kemarau, Suprayitno dan Didi menyarankan kepada BPBD kabupaten dan kota di Jabar agar meningkatkan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah yang menangani penyediaan air bersih di kabupaten dan kotanya masing-masing. Dengan demikian, di musim-musim kemarau berikutnya, wilayah bersangkutan tidak lagi dilanda bencana kekeringan.

“Kalau masih ada wilayah-wilayah yang sama setiap kemarau dilanda kekeringan, berarti penanganan sekarang belum begitu efektif. Baru penanganan bersifat sementara atau darurat. Kalau tahun depannya terjadi lagi, berarti harus ada upaya lain, seperti pipanisasi, pemanfaatan potensi sumber air lain yang ada melalui teknologi, dan cara-cara teknis lainnya  Dan, itu diluar kewenangan BPBD, tetapi pelaksanaannya kewenangan intansi teknis terkait. BPBD hanya kordinasi dan mengusulkan,” ujar Didi.***

Bagikan: