Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Ada LRT, Angkot Dilarang Beroperasi di Pusat Kota Bogor

Angkutan umum berhenti di pemberhentian lampu merah di Jalan Ahmad Yani, Kota Bogor, Jumat, 14 Juni 2019. */WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
Angkutan umum berhenti di pemberhentian lampu merah di Jalan Ahmad Yani, Kota Bogor, Jumat, 14 Juni 2019. */WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR,(PR).-  Angkutan umum kemungkinan besar akan dilarang beroperasi di pusat Kota Bogor jika moda transportasi Lintas Raya Terpadu (LRT) beroperasi di Kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor lebih condong menyediakan transportasi lanjutan LRT dengan menggunakan hibah transportasi dari Belanda sejenis trem atau monorel.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menuturkan, pelarangan angkutan umum di pusat kota terutama di kawasan lingkar Sistem Satu Arah Kebun Raya Bogor adalah hal yang lumrah. Dedie mencontohkan, beberapa kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Batam, dan Semarang sudah lebih dulu memberlakukan larangan tersebut untuk meminimalisasi kemacetan.

“Saat ini dari 3.300 angkot yang ada, mungkin operasional harian itu paling hanya 600, sudah kalah sama taksi online dan ojek online. Secara bisnis keuangan juga sudah tidak lagi menguntungkan,” ujar Dedie, Selasa, 16 Juli 2019. 

Menurut Dedie, pelarangan angkot di pusat kota bukan bertujuan untuk mematikan usaha angkot. Akan tetapi, Dedie ingin ada pendistribusian transportasi yang lebih merata, khususnya di area perbatasan Kota Bogor.

“Di sini, angkot tidak akan dimatikan, boleh beroperasi tetapi di jalan kecil, semisal Bubulak-Ciawi, atau Ciparigi sampai Ciawi,  ya satu kali jalan,” kata Dedie.

Moda transportasi lanjutan

Setelah Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek memastikan stasiun akhir akan dibangun Terminal Baranangsiang, Pemerintah Kota Bogor kini lebih mematangkan moda transportasi lanjutan di pusat kota.

Salah satu alternatif yang akan digunakan adalah  trem atau monorel. Menurut Dedie, Pemerintah Belanda sudah siap menghibahkan trem kepada Pemerintah Kota Bogor. 

Hibah tersebut rencananya akan diberikan pada 2020 mendatang. Belum lama ini, perusahaan dari Prancis juga sedang membuat kajian struktur Kota Bogor, apakah memungkinkan jalur SSA Bogor digunakan sebagai jalur trem.  

“Pemerintah pusat sudah banyak memberikan perhatikan, termasuk misalnya hibah trem dari Belanda, jadi ini harus nyambung, LRT ke mana, trem kemana, ini yang harus direncanakan,” kata Dedie.

Nantinya, trem direncanakan akan beroperasi di pusat kota yakni di jalur SSA Kota Bogor. Sementara untuk monorel, bisa jadi beroperasi di jalur lain antara ke Ciawi dan Cibuluh.

“Nanti trem akan menghubungkan Stasiun Baranangsiang keliling Kebun Raya, nanti ada stasiun lagi misalnya di Surken, BTM, ada di Paledang, di Stasiun Alun-alun Bogor, berputar lagi ke Sempur, ada lagi di Lippo, dan kembali lagi ke Baranangsiang,” ucap Dedie.

Transportasi lanjutan tersebut, kata Dedie, harus digarap bersamaan dengan pembangunan jalur LRT terusan dari Cibubur ke Bogor.  Dedie menargetkan, 2020 progress transportasi lanjutan trem sudah mulai digarap.

“Harus sudah mulai, ya minimal bisa dimulai dari Detail Engeneering Desainnya,  kita ingin 2021 atau 2022 sudah bisa beroperasi semuanya,” ucap Dedie.

Tak setuju

Sementara itu, Ketua Organisasi Angkutan Darat Kota Bogor M. Ishak mengaku tak setuju jika angkot dilarang beroperasi di pusat kota. Ishak menilai, kebijakan tersebut  akan mematikan pengusaha angkot yang sudah beroperasi sejak lama.

“Mau dikemanakan pengusaha angkot yang sudah beroperasi di Kota Bogor. Jakarta saja yang dulu ada trem, juga trem hilang, ini Bogor malah diada-adain, kecuali memang sudah tidak bisa terakomodir oleh angkot,” kata Ishak.

Atas rencana Pemerintah Kota Bogor, Ishak meminta agar rencana tersebut dapat dikaji ulang. Kebijakan tersebut  dinilai Ishak hanya mementingkan pengusaha kelas kakap, dan tidak memberi keuntungan bagi pengusaha kecil.

“Pemkot harus memikirkan perut orang kecil dong, jangan orang gede saja. Trem itu kan pengusaha gede. Kalau disuruh pindah jalur,  jalur mana lagi di Kota Bogor? Orang segitu-gitu saja, tolong pertimbangkan lagi,” kata Ishak.***

Bagikan: