Pikiran Rakyat
USD Jual 14.075,00 Beli 14.173,00 | Cerah berawan, 31.4 ° C

Wakil Bupati Sumedang Menari Tarawangsa, Menikmati Langsung Budaya Leluhur yang Terus Dilestarikan

Adang Jukardi
WAKIL Bupati Sumedang, Erwan Setiawan, bersama unsur masyarakat lainnya sedang menari tarawangsa pada pembukaan Upacara Adat Ngalaksa di Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kaupaten Sumedang, Selasa, 16 Juli 2019. */ADANG JUKARDI/PR
WAKIL Bupati Sumedang, Erwan Setiawan, bersama unsur masyarakat lainnya sedang menari tarawangsa pada pembukaan Upacara Adat Ngalaksa di Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kaupaten Sumedang, Selasa, 16 Juli 2019. */ADANG JUKARDI/PR

WAKIL Bupati Sumedang, Erwan Setiawan, tak kuasa menolak permintaan dari para kasepuhan masyarakat adat Rancakalong untuk menari kesenian tradisional tarawangsa pada  pembukaan Upacara Adat Ngalaksa di Desa/Kecamatan Rancakalong, Selasa, 16 Juli 2019. Orang nomor dua di Kab. Sumedang itu pun menarikan kesenian tradisional khas Rancakalong yang juga merupakan salah satu ikon kesenian di Kab. Sumedang.  

Sebelum menari, sesepuh masyarakat adat memakaikan sehelai kain samping dan mengalungkan beberapa helai selendang berwarna-warni di pundak Erwan. Hal serupa juga dilakukan kepada sejumlah kepala dinas dan pejabat lainnya yang ikut mendampinginya.

Setelah diawali prosesi ritual sakral lengkap dengan  sesajen serta wewangian kemenyan yang dilakukan kasepuhan masyarakat adat, mulailah Erwan menari tarawangsa mengikuti irama alat musik rebab dan kecapi. Sesekali, tangan Erwan mengipas-ngipaskan selendang. Gerakan badan dan kakinya pun mengikuti setiap ketukan irama kedua alat musik bernada pentatonis tersebut. 

Erwan bersama para pejabat  seolah larut dalam tarian yang terkenal sakral tersebut. Setelah beberapa menit menari, Erwan menyudahinya dengan menebar senyum kepada masyarakat adat yang ikut menyaksikan pergelaran seni dan budaya khas masyarakat Rancakalong tersebut.

Sebelumnya, Erwan juga mencoba kesenian tradisional rengkong. Erwan tak sungkan memikul pocongan padi dengan sebatang bambu gombong. Lalu, pikulan pocongan padi itu digerak-gerakan ke kiri dan kanan hingga menghasilkan suara yang berirama. Dua kesenian tradisional itu merupakan bagian dari rangkaian Upacara Adat Ngalaksa yang dibuka secara resmi oleh Erwan.

WAKIL Bupati Sumedang, Erwan Setiawan, sedang menari tarawangsa pada pembukaan Upacara Adat Ngalaksa di Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kaupaten Sumedang, Selasa, 16 Juli 2019. */ADANG JUKARDI/PR

Upacara Adat Ngalaksa, warisan leluhur yang harus dilestarikan

Selepas menari, Erwan Setiawan mengatakan, Upacara Adat Ngalaksa menjadi  salah satu kekayaan seni dan budaya milik masyarakat Sumedang. Sebagai warisan para leluhur sejak abad ke-8, acara adat itu mesti terus dilestarikan dan dikembangkan.

Acara adat Ngalaksa, kata dia,  tak hanya terkenal di Kab. Sumedang, melainkan harus menasional bahkan mendunia. Pemkab Sumedang akan mengundang para tamu dan pengunjung hingga mancanegara.   

“Untuk tempat Ngalaksa, kita akan bangun dan kembangkan lebih luas dan memadai sesuai kebutuhan. Di sini masih banyak tanah desa yang bisa dikerjasamakan. Kami akan buatkan DED (Detail Enginering Desaign) dan FS (Feasebility Study) untuk pengembangan lokasi upacara adat Ngalaksa ini,” ujar Erwan.  

Dikatakannya, untuk mendukung pengembangan seni dan budaya di Kab. Sumedang, Pemkab berencanamembangun geotheater atau gedung pusat seni budaya di Desa Sukamaju Kec. Rancakalong. Pembangunan sarana itu diharapkan bisa menumbuhkembangkan seni dan budaya Sumedang, khususnya di Desa Rancakalong.

Memakan laksa sambil menggelar upacara adat selama seminggu

WAKIL Bupati Sumedang, Erwan Setiawan, sedang mencoba kesenian rengkong dengan memikul pocongan padi hasil panen masyarakat pada pembukaan Upacara Adat Ngalaksa di Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Selasa, 16 Juli 2019.*/ADANG JUKARDI/PR

Ketua Pelaksana Upacara Adat Ngalaksa, Sukarya, mengatakan, upacara adat Ngalaksa merupakan pergelaran budaya dan wisata tahunan di Kecamatan Rancakalong.  Acara adatnya  diselenggarakan lima Rurukan (kelompok adat) dari sembilan desa yang ada di Rancakalong secara bergantian.

Selama seminggu, warga membuat makanan Laksa yang terbuat dari beras sebagai bahan pokok dibungkus daun congkok. “Selama proses pembuatan laksa, warga secara bergantian menari siang dan malam diiringi alat musik tarawangsa (sejenis rebab) dan jentreng (sejenis kecapi),” katanya.

Ngalaksa, kata dia,  sudah berlangsung sejak abad ke delapan. Semula, acara tersebut bertujuan untuk mensyukuri hasil panen padi yang melimpah. Seiring berjalannya waktu, acara Ngalaksa berkembang menjadi seni dan budaya tradisional masyarakat yang begitu populer dan bahkan mempunyai daya tarik wisata.

“Upacara adat tersebut sarat akan nilai-nilai positif, dari mulai merekatkan tali silaturahmi, gotong-royong, persahabatan, berbagi ilmu pengetahuan, edukasi, serta wujud syukur kepada Allah SWT atas berkah hasil panen padi yang melimpah. Acara Ngalaksa ini juga sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai luhur seni dan budaya masyarakat yang dimeriahkan dengan berbagai hiburan masyarakat,” tutur Sukarya.  

Camat Rancakalong, Ili, menambahkan,  Pemerintah Kecamatan Rancakalong sudah merintis pengembangan desa wisata.  Di Desa Sukamaju, pembangunan geotheater atau saung budaya dan pusat kesenian akan dimulai September 2019 di tanah desa seluas 12 hektare, dengan menggunakan anggara dari Pemprov Jabar senilai Rp5 miliar.

“Mudah-mudahan, rencana pengembangan dan penataan lokasi Upacara Adat Ngalaksa, termasuk tempat menari Tarawangsa, bisa terwujud. Sebab, tak dipungkiri tempat yang sekarang masih kurang memadai. Selain tempatnya relatif sempit dan kecil,  juga belum didukung fasilitas dan sarana wisata lainnya. Tadinya akan dibangun sebuah kawasan wisata adat yang luas dengan membebaskan lahan sawah. Cuma sayangnya, tidak jadi terbentur  keterbatasan anggaran, ” katanya.***

Bagikan: