Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 31.8 ° C

Kampanye Antiplastik di Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

Hilmi Abdul Halim
MASA Pengenalan Lingkungan Sekolah tingkat SMP di Kabupaten Purwakarta ikut mendorong para siswa mengurangi penggunaan plastik di SMPN 7 Purwakarta, Selasa, 16 Juli 2019.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
MASA Pengenalan Lingkungan Sekolah tingkat SMP di Kabupaten Purwakarta ikut mendorong para siswa mengurangi penggunaan plastik di SMPN 7 Purwakarta, Selasa, 16 Juli 2019.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah tingkat SMP di Kabupaten Purwakarta ikut mendorong para siswa mengurangi penggunaan plastik. Dinas Pendidikan daerah setempat juga mengintruksikan setiap sekolah memiliki pengolahan sampah plastik masing-masing.

"MPLS berkonsentrasi pada upaya pembangunan karakter peduli lingkungan," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Purwanto saat meninjau pelaksanaannya di SMP Negeri 7 Purwakarta, Selasa, 16 Juli 2019.

Muatan tersebut diakui sebagai inisiatif Disdik Purwakarta untuk disampaikan dalam MPLS kali ini. Adapun peserta MPLS di seluruh SMP Negeri di Kabupaten Purwakarta diperkirakan mencapai 16.000 siswa.

"(Karakter peduli lingkungan) itu harus ditanamkan dalam diri mereka (siswa) agar mereka punya pengetahuan, setelah punya pengetahuan kemudian bertindak," tutur Purwanto. Lewat kegiatan itu, generasi muda diharapkan ikut melestarikan lingkungannya.

Para siswa mendapatkan pengetahuan umum mengenai kerusakan lingkungan akibat sampah plastik pada hari pertama MPLS. Selanjutnya, mereka juga akan diminta memunguti sampah plastik di lingkungan sekitar sekolahnya.

Kegiatan tersebut diawasi secara serius oleh para guru, kepala sekolah hingga pegawai dinas pendidikan termasuk kepala dinas. "Semuanya terjun ke lapangan. Sasarannya adalah fasilitas publik mulai dari sekolah, Puskesmas, kantor pemerintahan, jalan dan sebagainya," ujar Purwanto.

Tak hanya itu, ia mengingatkan kembali pada para siswa agar membawa bekal olahan makanan dari rumah masing-masing. Tujuannya agar mereka tidak jajan makanan-minuman yang umumnya memakai kemasan plastik. Sehingga, sampah yang dibuang pun berkurang.

Kemasan sekali pakai

Menurut Purwanto, sebagian besar sampah di lingkungan sekolah berasal dari kemasan makanan yang dibuang oleh siswa sekolah tersebut. "Sampah plastik itu paling sulit terurainya, butuh waktu sangat lama sekitar 400 hingga 1.000 tahun," kata Purwanto. 

Ke depannya, Purwanto akan menerapkan teknologi tepat guna untuk mengolah sampah-sampah plastik di setiap sekolah. Teknologi tersebut diakui baru dikembangkan di salah satu SD di Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru.

"Program ini tidak akan berhenti di sini. Setelah ini kita lakukan penyuluhan pada guru-gurunya. Kita juga akan menyiapkan teknologi tepat guna untuk mengolah sampah plastik ini di sekolah-sekolah," tutur Purwanto.

Pembuatannya itu membutuhkan anggaran satu juta rupiah yang akan dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sehingga, Disdik Purwakarta akan mengintruksikannya ke setiap sekolah.

Sementara itu, sampah plastik yang dikumpulkan di SMP Negeri 7 Purwakarta disalurkan ke bank sampah di salah satu perumahan warga.

"Pemilihan sampah sudah dilakukan bekerja sama dengan bank sampah. Cuma belum ke tahap pengolahan (swadaya di sekolah)," kata Kepala Sekolah SMP Negeri 7 Purwakarta, Dedeh M. Maemunah.

Sebanyak 282 siswa baru di SMP tersebut mengikuti rangkaian kegiatan secara antusias. Salah seorang siswi bernama Danielle Kay (12) mengaku tertarik mengurangi penggunaan plastik setelah mengikuti MPLS.

"Selama ini masih suka buang sampah (plastik) sembarangan. Nanti tidak lagi begitu. Mau bawa bekal sendiri dari rumah," kata Kay. Menurutnya, materi pelestarian lingkungan dalam MPLS memberikan nilai positif bagi siswa.***

Bagikan: