Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Cerah, 28.6 ° C

Perkecil Dampak Kekeringan, Petani di Cirebon Stop Paksakan Tanam Padi

Agung Nugroho
*/DOK. PR
*/DOK. PR

SUMBER, (PR).- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon meminta petani untuk berhenti memaksakan diri membuka sawahnya untuk tanaman padi. Musim kemarau panjang tahun ini, diperkirakan berlangsung lebih lama dan resiko gagal tanam sangat besar.

“Jangan berspekulasi. Kami minta stop dulu. Jangan paksain membuka sawah untuk ditanami padi,” tutur Kepala Distan, H. Ali Effendi, Senin, 15 Juli 2019.

Kemarau panjang membuat sumber air sangat terbatas. Sedangkan jika petani membuka sawah untuk ditanami padi, akan membutuhkan air dalam jumlah besar.

Situasi dan kondisi di lapangan, menyusul kemarau yang telah berlangsung tiga bulan terakhir ini, ketersediaan air sangat terbatas. Kebutuhan air Cirebon masih bertumpu pada air permukaan berupa kiriman dari Majalengka dan Kuningan.

“Karena kita bergantung pada daerah lain, dalam musim kemarau panjang seperti sekarang, Cirebon akan mengalami krisis air luar biasa,” tuturnya.

Fakta di lapangan, tutur Ali, potensi kegagalan tanam padi sangat tinggi. Petani harus sadar dengan kondisi itu dan lebih bersabar dengan cara berhenti menanam padi.

“Kalau mau, justru akan lebih baik jika menanam palawija. Palawija tidak membutuhkan air dalam jumlah besar,” tutur dia.

Di luar alokasi

Kadistan Ali menjelaskan, selama ini setiap musim gadu selalu ada kasus kegagalan panen alias puso yang diakibatkan kekeringan. Hal ini memang tidak dapat terhindarkan karena masalahnya petani memaksakan diri menanam, meski areal sawahnya tidak masuk alokasi untuk ditanami saat musim gadu.

“Yang kekeringan ini sawah yang di luar alokasi. Tanam gadu ini luasan sawahnya terbatas. Berbeda dengan tanam rendeng yang berbarengan dengan musim hujan,” tuturnya.

Ali menjelaskan, saat tanam rendeng alokasi bisa mencapai 45.000 hektare sawah, sedang musim tanam gadu tidak lebih dari 25.000 hektare. Dampak kekeringan, seperti gagal tanam atau gagal panen (puso), terjadi di areal pertanian di luar yang direkomendasi untuk ditanami.

“Rata-rata yang gagal tanam atau puso itu sawah di luar alokasi. Kita hanya merekomendasikan tanam 25.000 hektare, realitas di lapangan bisa mencapai 35.000 hektare. Itu artinya ada 10.000 hektare yang berada pada posisi rawan gagal tanam atau puso,” tutur dia.

Di lapangan, saat musim gadu, masih banyak petani yang berspekulasi dengan memaksakan dirti menanam padi. Mereka sebenarnya sadar kalau tingkat keberhasilannya sangat rendah.

“Namun namanya spekulasi, ya mereka hanya untung-untungan saja. Hanya yang membuat repot ialah, sawah yang direkomendasikan untuk ditanami, kini harus berbagi dengan yang di luar alokasi. Ini masalahnya,” tutur Ali.***

Bagikan: