Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 25.3 ° C

Kredit Jamban, Inovasi dari Petugas Puskesmas Pagerageung Tasikmalaya

Bambang Arifianto
PETUGAS Puskesmas Pagerageung memeriksa lubang-lubang silinder septic tank di Kampung Ciseutigirang, Desa Pagersari, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Untuk mengatasi persoalan buang air besar sembarangan, petugas Puskesmas Pagerageung menciptakakan cicilan jamban laik dan sehat untuk masyarakat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PETUGAS Puskesmas Pagerageung memeriksa lubang-lubang silinder septic tank di Kampung Ciseutigirang, Desa Pagersari, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Untuk mengatasi persoalan buang air besar sembarangan, petugas Puskesmas Pagerageung menciptakakan cicilan jamban laik dan sehat untuk masyarakat.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

KABUPATEN Tasikmalaya hingga kini masih memiliki pekerjaan rumah mengatasi perilaku buang air besar sembarangan (BABS) yang dilakukan warganya. Dari total 351 desa di wilayahnya, sebanyak 231 desa dengan jumlah 272695 keluarga belum bebas dari perilaku tersebut. Mereka tidak memiliki akses guna memenuhi urusan buang hajat kesehariannya dengan laik.

Demikian data dari Dinas Kesehatan dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Tasikmalaya. ‎Namun di tengah kondisi itu, sejumlah petugas Puskemas Pagerageung punya cara unik mengatasinya. Mereka membuat kredit jamban agar masyarakat tak mampu memiliki kakus sesuai standard kesehatan. 

Rasa geli dirasakan Tatang Hidayat saat berkunjung menemui warga Kampung Parung, Desa Guranteng, Kecamatan Pagerageung. Maksud hati melakukan inspeksi kesehatan dan mengajak warga membuat kakus yang laik, petugas Sanitarian Puskesmas Pagerageung tersebut memperoleh penolakan dari seorang pemilik kolam ikan.

Imbauan disampaikan lantaran sejumlah warga di kampung itu masih buang air besar di atas kakus sederhana yang berdiri di atas balong (kolam ikan). Warga Pagerageung mengenalnya dengan nama pancuran.

Pangkal keberatan sang pemilik kolam adalah nasib ikan-ikan yang dibudidaykkan di kolamnya. "Kumaha lauk (bagaimana ikannya)," ucap Tatang menirukan ucapan pemilik kolam. Ternyata, kotoran manusia yang dibuang di pancuran digunakan sebagai pakan ikan-ikan itu.
 

Warga yang dikenal cukup berada tersebut kekeuh meyakini tak ada penyakit ditimbulkan dari perilaku buang hajat ke kolam ikan. Penolakan bukanlah hal baru bagi Tatang.

Soalnya, praktik membuang kotoran manusia ke balong seakan sudah menjadi tradisi banyak warga di Kabupaten Tasikmalaya. Tradisi itu dominan dilakukan di wilayah-wilayah yang memiliki banyak empang.

Persoalan yang kompleks

Dari data Kecamatan Pagerageung pada 2014 tercatat angka kemajuan atau akses sanitasi laik masyarakat masih 64,6 persen. ‎"Angkanya 37092 jiwa yang sudah buang air besar sehat yang masih BABS 16965 jiwa," kata Tatang.

Persoalan BABS di Kabupaten Tasikmalaya memang cukup kompleks. Selain dianggap pakan ikan, warga pun memang terbiasa berperilaku seperti itu.

Bahkan, sejumlah warga yang terang-terangan memiliki jamban di dalam rumah lengkap dengan klosetnya, tetap mengarahkan saluran pembuangan mengalir ke balong. Tak pelak, persoalan tersebut menjadi bahan pemikiran para petugas sanitarian guna mencari solusi.

"‎Kemudian muncul ide tentang septic tank yang sehat di masyarakat, mudah dikerjakan dan murah, terjangkau oleh masyarakat," ujar Tatang.

Andalkan Jimat sebagai solusi

Para petugas menamai inovasi mereka dengan Jimat akronim dari Jamban Idaman Masyarakat Tasikmalaya pada 2014. Jimat merupakan perwujudan dari kebijakan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan No 852/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Berbasis Masyarakat, Peraturan Menteri Kesehatan No 3/2014 tentang Sanitasi Berbasis Masyarakat. Peraturan tersebut menyebutkan pula istilah wirausaha Sanitasi sebagai bagian kompetensi kesehatan lingkungan.

Jimat beroperasi dengan cara sederhana. Para kader kesehatan yang dibina Puskesmas berkeliling dan menawarkan kredit jamban itu ke ke masyarakat. Rancangan hingga pengerjaan langsung dilakukan tenaga terlatih dengan diawasi petugas Puskesmas yang telah mendapat pelatihan dari Kemenkes di Bandung tentang wirausaha sanitasi pada 2014.

Keunggulan dan inovasinya terletak pada septic tank silinder yang digunakan dan langsung dicetak di tanah. Dinding dan dasar lubang pembuangan tersebut ditembok sehingga air kotoran yang ditampung tak meresap ke tanah dan tahan goncangan. Jimat juga tak memerlukan lahan luas atau cukup dengan ukuran 1-2 meter persegi. Pengerjaan, lanjut Tatang, hanya butuh 1-2 hari. Petugas juga menyediakan kloset bagi warga tak memiliki atau ingin mengganti yang lama. 

Yang menarik, Jimat menerapkan sistem cicilan untuk pemasangan dan pengerjaannya. Masa angsuran berlangsung 10  bulan serta direncanakan ditambah hingga 2 tahun. Metode pembayaran cicilan sangat membantu masyarakat tak mampu. Mereka yang awalnya buang air besar ke balong akhirnya tertarik menggunakan Jimat. "Hampir 95 persen (pengguna Jimat membayar) dengan cicilan," ujarnya.

Perbandingan membuat jamban sendiri dan memakai Jimat cukup kontras. Untuk membangun sendiri jamban dengan septic tank yang memenuhi syarat kesehatan, warga mesti merogoh kocek hingga Rp 6 juta. Biaya tenaga kerja, tutur Tatang, menjadi komponen paling mahal dalam membuat jamban laik secara individual. Sedangkan dengan Jimat, warga hanya mengeluarkan biaya paling mahal Rp 3 juta dan termurah Rp 1.500.000. Jimat memang ditawarkan dengan empat paket, yakni Jimat 1 dengan harga Rp 3 juta, Jimat 2 Rp 2 juta, Jimat 3 Rp 1.750.000 dan Jimat 4 Rp 1.500.000. Cicilan Jimat 1 adalah Rp 300 ribu perbulan, Jimat 2 Rp 2 ratus ribu, Jimat 3 Rp 175 ribu dan Jimat 4 Rp 150 ribu.***

Bagikan: