Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Sebagian berawan, 24.9 ° C

Mapay Pijalaneun Kareta Api, Bentuk Kangen pada Si Gombar

Tim Pikiran Rakyat
SEJUMLAH seniman Garut yang tergabung dalam Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (Hisdraga) menunjukan kegembiraan dengan cara berjalan kaki menyusuri jalur rel KA Cibatu-Garut melalui kegiatan bertema "Mapay Pijalaneun Kareta Api".*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN
SEJUMLAH seniman Garut yang tergabung dalam Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (Hisdraga) menunjukan kegembiraan dengan cara berjalan kaki menyusuri jalur rel KA Cibatu-Garut melalui kegiatan bertema "Mapay Pijalaneun Kareta Api".*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN

REAKTIVASI jalur rel kereta api (KA) Cibatu-Garut disambut gembira warga Garut. Berbagai cara pun dilakukan untuk menunjukan kegembiraan sekaligus rasa syukur atas kehadiran kembali KA di Garut.

Seperti yang dilakukan sejumlah seniman di Garut yang tergabung dalam Himpunan Sastrawan Dramawan Garut (Hisdraga). Mereka menunjukan kegembiraan dengan cara  menyusuri jalur rel kereta Cibatu-Garut dengan tema "Mapay Pijalaneun Kareta Api".

Penggagas Kegiatan "Mapay Pijalaneun Kareta Api", Fachroe, menyebutkan kegiatan ini dilakukan sebagai wujud kegembiraan kembalinya kereta api ke Garut. 36 tahun sudah jalur KA ke kawasan kota Garut tak ada lagi setelah sejak  1983 dinonaktifkan.

"Kami masih ingat betul, dulu ada kereta api yang dinamakan Si Gombar yang melintas di kawasan Garut ini. Namun sejak 1983 lalu, kami tak pernah lagi merasakan kehadirannya karena jalur keretanya dinonaktifkan," ujar Fachroe, Minggu 14 Juli 2019.

Diakuinya, keberadaan jalur kereta api di Garut dengan ikonnya Si Gombar tersebut telah menjadi sejarah yang tak mungkin terlupakan. Kini sejarah tersebut kembali dapat dirasakan warga Garut setelah pemerintah pusat melalui PT KAI memutuskan untuk mengaktifkan kembali jalur KA Cibatu-Garut.

Transportasi alternatif

Fachroe mengatakan, diaktifkannya kembali jalur KA Cibatu-Garut ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi warga Garut. Hal ini bukan hanya dilihat dari sisi sejarahnya akan tetapi juga dari segi manfaatnya yang tentunya sangat banyak bagi warga Garut.

"Suara khas Si Gombar dan Si Kuik yang dulu sangat dikenal dan ditunggu-tunggu untuk saat ini memang tak akan terdengar lagi karena kereta tersebut tak mungkin lagi digunakan. Namun dengan diaktifkannya kembali jalur kerera di Garut ini, setidaknya akan mengingatkan masyrakat Garut terhadap Si Gombar dan Si Kuik yang telah menjadi sejarah tersebut," katanya.

Para seniman Garut ini, menurut Fachroe, sangat berharap program reaktivasi kereta Cibatu-Garut segera terlaksana dan berjalan lancar. Dengan demikian masyarakat Garut bisa segera merasakan manfaatnya. 

Keberadaan kereta api di Garut dinilainya dapat menjadi alat transportasi alternatif masyarakat baik dari Garut ke luar kota maupun sebaliknya. Ini juga diharapkan bisa lebih meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan ke Garut yang memiliki banyak objek wisata.

"Pokoknya cepat selesai saja pembangunan sarananya agar kami bisa segera menikmati bagaimana indahnya nai kereta api. Masyarakat juga banyak yang sudah merindukannya dan berharap bisa merasakan manfaatnya," ucap Fachroe.

Ia juga mengungkapkan, dirinya bersama anggota komunitas melakukan perjalanan sepanjang 19 kilometer dari Stasiun Garut menuju Stasiun Cibatu dengan cara berjalan kaki selama lima jam. 
Selain sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur, hal itu juga dilakukan dengan tujuan melihat secara langsung sejauh mana proses pembangunan sarananya.(Aep Hendy/Kabar Priangan)***

Bagikan: