Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Sebagian berawan, 24.9 ° C

Kedatangan Sapi Meningkat, Pengawasan Diperketat untuk Cegah Peredaran Antraks

Nurhandoko
SEORANG pemilik sapi membawa 10 ekor sapi untuk persiapan Idul Adha 2019, tengah istirahat di wilayah Cibeka, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Sapi yang hendak dibawa ke Bandung berasal dari Kecamatan Rancah yang juga menjadi salah satu sentra sapi di tatar galuh Ciamis.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
SEORANG pemilik sapi membawa 10 ekor sapi untuk persiapan Idul Adha 2019, tengah istirahat di wilayah Cibeka, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Sapi yang hendak dibawa ke Bandung berasal dari Kecamatan Rancah yang juga menjadi salah satu sentra sapi di tatar galuh Ciamis.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

BANJAR, (PR).- Arus lalu lintas ternak untuk kurban yang masuk wilayah Provinsi Jawa Barat mulai mengalami peningkatan. Petugas pun memperketat lalu lintas peredaran sapi untuk mengantisipasi masuknya penyakit menular antraks maupun penyakit menular lainnya.  

“Sejak mencuatnya kasus antraks dari salah satu wilayah Yogyakarta, kami diminta lebih meningkatkan pengawasan, terlebih menjelang hari raya Idul Adha. Pengawasan ketat juga dilakukan terhadap sapi yang berasal dari daerah lainnya yang pernah muncul kasus serupa,” tutur Koordinator Pos Pemantau Hewan Ternak  Dinas Peternakan Prov. Jabar, Wawan Sutarwan, di Purwaharja, Kota Banjar, Minggu, 14 Juli 2019.

Dikatakannya, apabila ada sapi yang berasal dari daerah yang terpapar antraks, maka diminta untuk dikembalikan ke daerah asal. Sampai sekarang, sapi dari saerah tersebut tidak diperbolehkan masuk Jabar.

“Saya belum mengakomodir sapi dari daerah yang terkena antraks, karena belum ada instruksi untuk membebaskan. Langkah ini hanya sebagai upaya antisipasi, sehingga Jabar tetap aman,” ujarnya.

Wawan yang didampingi  Yaya, pelaksana pos pemantau di wilayah perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah, mengatakan, ternak-ternak tersebut juga disemprot disinfektan selain dilakukan pemeriksaan langsung. Penyemprotan dilakukan untuk truk pengangkut yang dicurigai. Selain itu, pembawa ternak yang akan memasuki wilayah Jabar juga dimintai surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang berasal dari daerah asal.

Selama ini, sapi yang masuk Jabar dari jalur selatan umumnya berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur seperti Bangkalan, Blitar, Probolinggo, Magetan, dan Trenggalek. Selain itu, ada pula dari Jawa Tengah, di antaranya Boyolali, Banjarnegara, Magelang, dan Klaten.

“Menjelang hari raya kurban, lalu lintas ternak pasti akan melonjak. Dengan demikian, pengawasan lebih ketat tidak hanya di daerah yang sebelunya ditemukan antraks, tetapi juga daerah lain. Sapi yang ditolak masuk, juga dibuatkan berita acara penolakan, dikembalikan ke daerah asal,” ungkap Wawan.

BEBERAPA ternak sapi yang hendak dibawa ke Bandung berasal dari Kecamatan Rancah yang juga menjadi salah satu sentra sapi di tatar galuh Ciamis.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

Peningkatan jumlah ternak sudah sekitar 80 persen

Yaya menambahkan, sampai saat ini, hewan sapi untuk kurban yang masuk Jawa Barat sudah mengalami peningkatkan. Peningkatan tersebut semakin signifikan ketika dua minggu sebelum hari H.

“Biasanya dua minggu sebelum Idul Adha, peningkatannya sangat tajam. Sekarang memang mulai meningkat, akan tetapi belum begitu banyak. Selain sapi, juga ada kambing dan domba,” katanya.

Yaya mengatakan, umumnya sapi yang berasal dari wilayah jawa Timur sampai di pos pemantau ternak  Kota Banjar pada sore hingga malam hari. Sedangkan, dari daerah yang dekat, ternak itu masuk pada pagi hingga siang hari.  

Hasil pemantauan  lalulintas ternak sejak tanggal 1-14 Juli 2019, ada 1.641 ekor sapi potong dari totalnya 1.924 ekor yang masuk. Di antara jumlah itu pun ada sapi potong bibit.

Sementara, jumlah kambing ada 247 ekor dan domba 125 ekor. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan Juni 2019 yaitu 966 ekor.***

Bagikan: