Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Umumnya cerah, 19.6 ° C

Kampung-kampung Pandai Besi Manonjaya, Bertahan di Tengah Gempuran Perkakas Impor

Bambang Arifianto
PANDAI besi bergantian menghantam batang besi dengan palu di Kampung Sayuran, Desa Cilangkap, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, 9 Juli 2019. Sejumlah keluarga dan pelaku usaha pandai besi masih bertahan di kampung tersebut.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PANDAI besi bergantian menghantam batang besi dengan palu di Kampung Sayuran, Desa Cilangkap, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa, 9 Juli 2019. Sejumlah keluarga dan pelaku usaha pandai besi masih bertahan di kampung tersebut.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DESA Cilangkap di wilayah Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya memiliki sejumlah perkampungan yang menjadi sentra pembuatan perkakas tajam. Sebagian warganya berprofesi sebagai pandai besi, pembuat gagang dan sarung alat-alat tajam itu secara turun temurun. Hingga kini, usaha tersebut masih bertahan.

"PR" menyambangi dan mendulang cerita para penempa besi serta perajin golok, pisau, sabit yang masih tersisa di sana, Selasa, 9 Juli 2019 lalu.

Tangan dua pria tersebut sudah terangkat untuk bersiap menghantamkan palu dalam genggaman mereka. Satu pria lain dengan alat penjepit meletakkan batang besi yang baru keluar dari perapian. Tak butuh lama, batang besi membara yang diletakkan dalam tonggak khusus itu terkena hantaman palu. 
Gerakan para penempa besi itu begitu rapi. Selesai satu orang mengayunkan dan mengangkat palu, yang lain menyusulnya. Tanpa ada kode atau tanda, kedua penempa seperti sudah satu hati tak berebut memalu atau mengayunkan alatnya bersamaan. 

Setelah pipih, batang besi membara lainnya mendapat giliran terkena hantaman. Kendati bekerja diselingi canda, mereka tetap serius menempa dan membentuknya menjadi golok. Begitulah keseharian para pandai besi di Kampung Sayuran, Desa Cilangkap, Kecamatan Manonjaya. Sayuran itu bisa disebut sebagai salah satu kampung pandai besi tersisa di Cilangkap. Beberapa keluarga penempa besi lain juga tinggal di kampung-kampung dekat Sayuran seperti Cicalung dan Talun.

Di Sayuran terdapat tiga keluarga yang menekuni usaha pandai besi. Ketiga keluarga membuat perkakas tajam berupa golok, sabit, pisau dan parang.

Kendati hanya tiga, cakupan usaha mereka menjangkau sebagian warga Sayuran. Sejumlah warga di sana memang bekerja sebagai pandai besi pada tiga keluarga tersebut. Ada pula warga yang bekerja sebagai penajam perkakas atau bagian gerinda, pembuat perah (gagang) dan sarangka (sarung) golok. Alhasil, Kampung tersebut menjadi sentra pembuatan berbagai perkakas yang bisa digunakan petani, pedagang serta ibu-ibu rumah tangga. ‎

Dana (58) adalah satu pemilik usaha penempa besi di Sayuran. Usaha pandai besinya memiliki delapan pekerja yang merupakan warga Sayuran.‎ Ia sudah tak ingat lagi sejak kapan warga Sayuran melakoni pekerjaan sebagai pembuat perkakas tajam. Sejak Belanda bercokol di Tanah Air, tutur Dana, para penempa besi sudah ada di tempat tinggalnya. 

Dana menuturkan, keluarga-keluarga pemilik usaha pandai besi di Cilangkap memang satu keturunan dari penempa besi pada generasi awal. "Nenek moyang saya juga bekerja sebagai pandai besi," ucap Selasa siang.

Tak pelak, keterampilan mengolah besi menjadi perkakas tajam diwariskan turun temurun. Selain Dana, terdapat dua keluarga pandai besi lain, yakni Yana dan Didi. Mereka pun meneruskan profesi sang ayah atau keluarganya.

Dana menyatakan, produk khas pandai besi miliknya berupa golok. Meski demikian, ia tetap melayani pesanan pembuatan sabit, parang, pisau. Bahkan ia menerima pesanan khusus  berdasarkan pola tertentu yang diinginkan pembeli.

Dalam satu hari, Dana mampu memproduksi 70 goleran atau bilah golok tanpa gagang untuk menggenggamnya. Pembeli merupakan seorang pengepul dari Kampung Galonggong, Desa Cilangkap. Namun, ada juga warga yang sengaja datang membeli langsung ke Sayuran. Pengepul atau tengkulaklah yang memasang gagang dan memoles golok sehingga laik diedarkan dan dijual kembali. 

Pemasang gagang itu dikenal dengan istilah maranggi. Pembuatan sarung dan gagang pun ada yang berlangsung di Sayuran. Urusan menajamkan goleran menjadi bagian sendiri yang dilakukan warga Sayuran lain terpisah dari para pandai besi.

Golok-golok itu dijual per kodi atau 20 goleran dengan harga 440 ribu. Dengan demikian, harga satu goler golok mencapai Rp 22 ribu. Produksi Dana bukan hanya beredar di wilayah Jabar saja.

Dari tengkulak, golok-golok tersebut merambah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Kalimatan. Untuk warga lokal, produksi Dana bisa ditemui di sepanjang Jalan Raya Banjar, Manonjaya. Beberapa pedagang perkakas tajam memajang karya-karya warga Sayuran untuk dijual di sana.

Aktivitas serupa berlangsung di Kampung Talun. Kampung berdekatan dengan Sayuran itu juga memiliki dua keluarga pemilik usaha pandai besi yang memproduksi pisau dapur. Uniknya, mereka juga berkerabat dengan keluarga pandai besi Sayuran. "Sakaruhun" ucap Omon (67), pemilik usaha pandai besi di Talun.

Keterampilan menempa besi dan menjadikannya alat-alat yang tajam turun temurun dari ayah, kakek hingga buyut. Demikian pula dengan dua keluarga pandai besi di Kampung Cicalung, dekat Talun. Omon menyebut keduanya memiliki pertalian darah dengan keluara pandai besi Talun dan Sayuran. 

Omon mengaku tak pusing terkait pemasaran produk pisaunya. "Banyak yang datang ke sini dari pengusaha, pedagang," katanya. Untuk satu kodi pisau, Omon mematok harga Rp 350-400 ribu. Setiap hari, ia bisa menjual produknya hingga 150 pisau.

Pada bagian gagangnya, Omon menggunakan bahan dari tanduk kerbau. Bahan tersebut diperolehnya dari kiriman dari Sumatera. Sedangkan batang besi untuk bahan pisau atau golok di Talun dan Sayuran merupakan bekas per truk colt diesel yang diperoleh dari tukang loak di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya. 

Generasi para penempa besi terus berganti. Beberapa pelaku usahanya mulai menghilang karena kehilangan para penerusnya. Omon mencontohkan, hilangnya sejumlah pelaku usaha pandai besi di Kampung Golonggong yang ditengarai karena tak adanya penerus dari keturunannya.

Kini, Galonggong hanya menjadi tempat memajang dan menjual produk-produk para pandai besi. Entah sampai kapan para penempa itu bertahan di tengah serbuan perkakas-perkakas impor di negeri ini. Namun, mereka tetap berkarya saban hari, demi urusan sesuap nasi dan memelihara warisan tradisi.***

Bagikan: