Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Kampung Bendera Ranjirata, dari Ciamis untuk Indonesia

Nurhandoko
WARGA RT 15 RW 05 Ranjirata, Desa Cimari, Kecamatan Cikoneng , Kabupaten Ciamis, Juju, tengah menjahit bendera merah putih, Kamis, 11 Juli 2019. Menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia warga di wilayah tersebut sibuk membuat bendera merah putih serta aneka jenis umbul-umbul. Selama ini Ranjirata dikenal sebagai kampung bendera.*/NURHANDOKO/PR
WARGA RT 15 RW 05 Ranjirata, Desa Cimari, Kecamatan Cikoneng , Kabupaten Ciamis, Juju, tengah menjahit bendera merah putih, Kamis, 11 Juli 2019. Menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia warga di wilayah tersebut sibuk membuat bendera merah putih serta aneka jenis umbul-umbul. Selama ini Ranjirata dikenal sebagai kampung bendera.*/NURHANDOKO/PR

SETIAP menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus, bendera merah putih wajib dikibarkan secara serentak. Untuk lebih menyemarakkan suasana, umbul-umbul aneka bentuk dan warna juga dipasang untuk menyemarakkan suasana. 

Bukan tidak mungkin, bendera merah putih maupun umbul-umbul yang dipasang di rumah Anda ternyata berasal dari wilayah Ranjirata, Desa Cimari, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis.

Selama ini, Ranjirata dikenal sebagai kampung bendera. Tidak hanya ribuan, jutaan bendera dan umbul-umbul setiap tahun diproduksi di wilayah tersebut. Pemasarannya tidak hanya regional Jawa Barat, akan tetapi merambah seantero Indonesia.

Julukan Ranjirata yang jaraknya sekitar lima kilometer dari pusat kota Ciamis sebagai kampung bendera, mulai dikenal sekitar tahun 1970-an. Hingga saat ini, ratusan warga setempat menggantungkan kehidupannya dari membuat bendera merah putih maupun umbul-umbul.  

Salah seorang warga RT 15 RW 05 Ranjirata, Didi Rudianto (50), mengatakan bahwa aktivitas persiapan pembuatan bendera biasanya mulai marak berlangsung sejak Februari. Pengerjaan dilakukan sejak awal, agar dapat memenuhi pesanan bendera merah putih maupun umbul-umbul yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Sekarang aktivitasnya relatif sudah sepi. Masih ada beberapa tenaga makloon atau penerima order yang menyelesaikan tugas menjahit. Setelah selesai, langsung dikirim ke sini untuk proses terakhir packing,” ungkap Didi, ketika ditemui di kediamannya, Kamis, 11 Juli 2019. 

Didampingi Juju (46) istrinya, Didi menggeluti pembuatan bendera sejak tahun 1990. Orang tuanya juga bekerja sebagai pembuat bendera. Selain mendapatkan ilmu membuat bendera dari orang tua, dia juga sempat menjadi pekerja pengusaha bendera.

“Membuat bendera merah putih sudah berlangsung turun termurun. Sekarang semua warga di sini tidak hanya terlibat bikin bendera, akan tetapi juga umbul-umbul,” katanya.

Didi mengaku pertama mandiri mendapat pinjaman dari tetangga sebesar Rp 10 juta. Seluruh modal usahanya dibelikan membeli kain, benang dan perlengkapan lain di Tasikmalaya. Bahkan, pengerjaan dan pemasaran juga dilakukan sendiri, dibantu sang istri, sambil mencari pasar.

Seiring perjalanan waktu, saat Didi mendapat pinjaman Rp 300 juta, dari temannya. Modal tersebut juga digunakan untuk belanja bahan baku membuat bendera dan umbul-umbul, seperti kain jenis tetoron merah dan putih, kain peles khusus untuk membuat umbul-umbul, benang serta perlangkapan lain.

“Sekarang selain dikerjakan sendiri, sebagian besar dikerjkan oleh tenaga makloon. Pertengahan Bulan Juli, mereka datang setor pekerjaannya. Saya memekerjakan orang daerah lain, karena di sini semuanya sudah mendapatkan pekerjaan serupa,” tuturnya.

Bervariasi

Lebih lanjut, Didi mengatakan bahwa bendera yang dibuat di Ranjirata memiliki ukuran bervariasi. Mulai dari ukuran kecil 20X30 cm , 90X60 cm, 105X70 cm, hingga terbesar berukuran 180X20 cm. Selain itu, membuat umbul-umbul dengan ukuran mulai dari panjang 3 meter hingga 6 meter, dan backdrop sepanjang 10 meter.

“Ukuran terkecil biasa dipasang di mobil, banyak pesanan ukuran 90X60 dan 105X70 cm. Untuk pemasaran, lebih banyak ke wilayah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, beberapa wilayah Sumatra. Bendera asal Ranjirata juga sudah menyebar diseluruh wilayah Indonesia,” ungkapnya.

Didi mengaku optimistis di tahun ini, pemasaran bendera merah putih dan umbul-umbul lebih baik dibandingkan 2018. Saat ini, pesanan yang masuk sudah mencapai 600 kodi bendera merah putih serta 700 kodi umbul-umbul dan backdrop.

“Saya optimis pemasaran juga bakal meningkat. Apalagi bulan Agustus tidak hanya ada momen HUT Kemerdekaan RI, juga Hari Raya Idul Adha. Biasanya saat Idul Adha banyak yang pasang umbul-umbul,” ujarnya.

Sementara itu, Juju mengaku sejak kecil juga terlibat membuat bendera. Dia mengaku kadang muncul perasaan mendalam yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, ketika menjahit dan membuat bendera merah putih. Salah satunya, terbersit pada masa penjajahan untuk mengibarkan bendera marah putih membutuhkan perjuangan sangat berat.

“Sekarang ini saja mudah bikin bendera, peralatan sudah tersedia. Sebenarnya tidak hanya sekadar mengibarkan akan tetapi perlu juga mengetahui bagaimana sejarah memerjuangkannya,” tutur Juju.***

Bagikan: